Cerpen Bulan Agustus, part 2: Efek Bola Salju
Awal September 2025, setelah jelas bahwa tuntutan sipil ditolak, panggilan umum untuk turun ke jalan dalam jumlah jutaan diumumkan.
Perhitungannya:
- Butuh 300.000 mahasiswa 🔴 untuk menduduki sumbu Monas - Senayan.
- Caranya, kalikan jalan sekitar 5 km * lebar sekitar 50 m = 250.000 meter persegi. Kalau 1 meter 1 orang, plus galat, akan butuh sekitar 300.000 orang pendemo untuk penuh menduduki seluruh ruas jalan Monas - Senayan.
- Di Jakarta ada 830.000 mahasiswa.
- Artinya, kalau gerakan didukung oleh 1/3 saja populasi mahasiswa di Jakarta, gerakan masyarakat sipil akan bisa menduduki Thamrin, Bundaran HI, Sudirman, Semanggi, dan Bundaran Senayan!
- Tiap mahasiswa partisipan demo kemungkinan akan harus mengeluarkan Rp 100.000 / hari dari dompetnya sendiri untuk biaya 3 kali makan, air putih, dan bensin.
- Kalau mereka berhasil dibujuk untuk commit, atau kalau ada sponsor dan fundraising dari bohir / kanda simpatik yang mau mendukung penyediaan 1 juta nasi bungkus dan 1 juta botol air mineral per hari (Rp 10 miliar per hari untuk 300.000 orang), bisa saja ini berlangsung seminggu atau malah sebulan. Selama seminggu atau sebulan nonstop, Thamrin - Bundaran HI - Sudirman - Semanggi - Senayan menjadi lautan manusia. Mobil tidak bisa masuk.
- Perhitungan yang sama ternyata juga berlaku untuk Jembatan Pasupati di Bandung (biasanya tempat selebrasi bobotoh), juga jalan-jalan besar di Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Tiap-tiapnya butuh sekitar 200.000 orang untuk diduduki secara fisik.
Dengan perhitungan ini, dengan realisasi bahwa hanya dibutuhkan partisipasi 1/3 mahasiswa Jakarta saja untuk sukses (dan demikian untuk kota-kota lain), gerakan mengumumkan target: turunkan 2 juta orang, utamanya mahasiswa, untuk menduduki tempat-tempat dengan visibilitas tinggi dan sempit di berbagai kota besar di Indonesia.
Monas dan Medan Merdeka ditolak untuk dijadikan tempat gerakan karena "terlalu luas, sehingga foto-fotonya tidak akan aesthetic kalau jumlah yang datang di bawah target", dan hanya dijadikan lapangan parkir utama para pendemo. Lapangan Monas segera terisi dengan ratusan ribu sepeda motor.
Gerakan demo pun dimulai.
Misal, di Bandung ada 40 kampus. Orang-orang di KM dan BEM tiap kampus dikontak dan ditelepon, orang-orang di tiap himpunan fakultasnya ditelepon, diajak untuk commit ke setidaknya aksi selama 1 minggu.
Tiap group chat fakultas kemudian melakukan pengumuman ajakan demo. Video-video edukasi urgensi demo diproduksi massal dan disebar di ribuan group-group itu.
Pekerjaan ini menjadi mudah karena yang memanggil para mahasiswa bukanlah kating BEM tidak berwajah, melainkan perwakilan gerakan di nasional (dalam cerpen ini yaitu Mahfud MD, Najwa, dan Haedar Nashir ketua Muhammadiyah).
"Oh, ini serius, bukan main-main", pikir ratusan ribu mahasiswa.
Pada 3 September 2025, Thamrin-Senayan, Jembatan Pasupati, Bunderan Tugu Muda, Simpang Sudirman - Malioboro, Jl. Tunjungan, dll diduduki ratusan ribu orang mahasiswa. Mereka terus di situ selama berhari-hari berikutnya dan terus bertambah, sementara tokoh-tokoh gerakan muncul di TV dan TikTok berusaha mendebat pembicara-pembicara pemerintah.
Kemacetan parah melanda Jakarta bahkan melumpuhkannya. Ratusan ribu karyawan di SCBD dan Kuningan diliburkan atau WFO karena tidak mungkin secara fisik ke sana. Jutaan siswa SD, SMP, SMA, SMK diliburkan.
Melihat perkembangan itu, elemen serikat buruh pabrik dan serikat driver ojol mencium kesempatan dan akhirnya memutuskan untuk mengumumkan mogok massal, turun ikut bergerak menyusul para mahasiswa dan meniru-niru strateginya, tetapi membawa massa lebih besar dan dengan tuntutannya sendiri.
800.000 orang buruh 🟣 yang menaiki truk dan motor masuk menyerbu Jakarta dan menduduki Jl. Rasuna Said, Jl. Prof. Satrio, Jl. Asia Afrika di sebelah Senayan, Palmerah, Jl. Gatot Subroto, Tol Dalam Kota, Jl. MT Haryono, dan terus menjalar menjadi lautan manusia sampai ke atas simpang-simpang Cawang.
Melihat lautan manusia buruh yang menutupi permukaan seluruh aspal jalan dari Palmerah ke Cawang, para mahasiswa menjadi merasa tertantang dan berusaha untuk mengerahkan 2/3 populasi mahasiswa lain yang belum turun untuk memperpanjang lautan manusia dari Bundaran Senayan ke CSW dan Blok M, kemudian ke Stasiun Kebayoran, dan terus melebar di atas jalur buswaynya.
Sementara itu, sebagian mahasiswa lainnya dari 5 buah universitas dan politeknik dimobilisasi untuk melakukan "demo bergerak", yaitu konvoi motor di seluruh area perumahan pejabat di Menteng, are perkantoran Mega Kuningan dan SCBD, serta "tawaf" keliling Monas dan kompleks Istana - Mahkamah Agung - Masjid Istiqlal.
Demo bergerak yang terdiri dari puluhan ribu motor berkonvoi ini dapat menduduki area yang sangat besar dengan orang yang jauh lebih sedikit. Mereka seperti pasukan kuda Mongol nomaden dari stepa.
Satu juta driver ojol kemudian mengikuti strategi "demo bergerak" para mahasiswa itu dan menerapkannya di seluruh wilayah DKI Jakarta, dengan konsentrasi terbesar di sekitar Kwitang.
Dalam waktu singkat, Priok, Ancol, Tanah Abang, Harmoni, Kota, Pondok Indah, Senen, Salemba, Tebet, TB Simatupang, dan tol JORR 1 dipenuhi konvoi-konvoi ojol berseragam hijau. Tiap konvoi terdiri dari ratusan hingga ribuan driver ojol bermotor, cukup untuk memblokade jalan apapun termasuk jalan-jalan tol.
Melihat kelumpuhan total jalur logistik di Jabodetabek, serikat-serikat supir truk dan supir truk Pertamina dan supir transportasi umum memutuskan untuk ikut mengumumkan mogok kerja massal dan memobilisasi ratusan ribu supir truk yang toh gabut karena kemacetan raksasa untuk ikut turun berdemo menyuarakan tuntutan mereka sendiri.
Ratusan ribu truk tronton kontainer, truk pembawa mobil, truk pasir, truk boks, dan truk bak membanjiri JORR dan jalan-jalan Jakarta. Ribuan truk kontainer raksasa diparkirkan menutupi dan memblokade ruas-ruas jalan utama termasuk tol dan jalan menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Depo Plumpang, Bandara Soetta, Bandara Halim, dan kawasan-kawasan industri di Pulogadung dan arah Bekasi.
Kayu bulat, pasir, batu, kerikil, semen, dan sampah dalam jumlah ratusan ribu ton dituangkan ke jalan arteri utama dan di gerbang kantor-kantor pemerintahan untuk memblokade akses jalan.
Mogok nasional para supir truk ini menyebabkan toko-toko dan minimarket-minimarket mulai kosong, SPBU-SPBU mulai kosong, dan pabrik-pabrik berhenti beroperasi (meski sebelumnya juga sudah berhenti beroperasi karena buruhnya mogok semua). Puluhan ribu orang terjebak tidak bisa keluar dari Bandara Soetta dan semua penerbangan internasional masuk Indonesia dibatalkan.
Lumpuhnya kegiatan ekonomi di pusat-pusat kota secara praktis menjadikan awal September sebagai suatu periode Cuti Bersama Nasional dadakan.
Jutaan orang yang gabut libur kemudian diajak ikut turun berdemo, seperti Revolusi EDSA di Filipina.
Jutaan orang lalu turun berdemo dengan membawa keluarga, anak, bayi, dan tikar botram. Demonya menjadi lebih seperti pagelaran pesta rakyat untuk tujuan hiburan semata daripada demo. Ratusan ribu PKL berjualan kepada pendemo. Jumlah rakyat yang tumpah ke jalan ini berjumlah berkali-kali lipat lebih besar daripada jumlah pendemo mahasiswa dan buruh. Solat berjamaah 5 kali sehari diadakan massal di aspal jalan dan diimami ustaz-ustaz selebriti terkenal termasuk Hanan Attaki, Khalid Basalamah, dan UAS.
Setelah laman akun media-media sosial mereka dispam dan dicancel secara sistematis oleh peserta demo (ada viral "Daftar 10 Artis dan Influencer yang harus ikut demo"), artis-artis besar Indonesia turun mendukung demo secara eksplisit, yaitu turun menggelar konser dadakan di tempat-tempat demo. Atta Halilintar, Aldi Taher, semuanya turun. Hal ini semakin membuat masyarakat turun ikut berdemo karena ingin melihat artis.
Puluhan ribu truk horeg masuk ke kota-kota besar Indonesia dan menjadi objek perhatian utama demo. Jalan-jalan sekunder dipenuhi dengan warga lokal yang mengadakan pagelaran ondel-ondel, konvoi musik, konvoi motor, konvoi horeg, dll.
Dalam tumpah ruah jutaan orang itu, tuntutan gerakan konsisten digaungkan:
1. Copot Kapolri
2. Copot Menhan
3. Copot Ketua DPR dan beberapa Wakil Ketua DPR
4. Bentuk Komisi Reformasi Polri
5. Bentuk Komisi Reformasi TNI
6. Bentuk Komisi Reformasi DPR
7. Adakan Dialog Nasional
Dengan masuknya berbagai elemen masyarakat selain mahasiswa (buruh, guru, dll), tuntutan ketujuh tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat dikejar. Semua orang ingin memberikan input: masalah gaji guru dipotong MBG, masalah keadilan fiskal daerah, dll.
Pada 7 September 2025, gerakan demo yang telah melumpuhkan kota-kota besar Indonesia selama hampir seminggu penuh sudah mendapatkan dukungan dari:
- Elemen level bawah PDIP, PKB, PKS, Demokrat, Nasdem, bahkan Golkar. Petinggi-petinggi partai level atas diam 1000 bahasa dan tak mencoba mendisiplinkan para anggotanya yang berontak itu.
- Ratusan pemerintah daerah dan kades dan jaringan patronase logistik mereka, yang marah karena anggaran daerah dipotong.
- PP Muhammadiyah dan elemen-elemen NU
- Mayoritas artis, YouTuber, dan influencer TikTok. Muncul gerakan boikot terhadap bisnis-bisnis yang dimiliki Raffi Ahmad yang dijadikan kambing hitam "kolaborator rezim"
- Hampir semua serikat buruh, yang mengumumkan Mogok Nasional, yaitu semua karyawan harus libur, tidak peduli apapun kerjanya. Satpam, OB, karyawan admin, sales, pegawai minimarket, pegawai mall, guru, tukang, pegawai bank, bahkan ASN, semuanya libur dan mogok kerja. Pabrik-pabrik dan kantor-kantor menjadi kosong. Mogok kerja satu hari berubah jadi 3 hari, lalu 7 hari.
- Salah satu penggerak gerakan memiliki ide cemerlang untuk memfokuskan Mogok Kerja Nasional ke departemen-departemen HR dan departemen-departemen legal. Keduanya diajak untuk "ikut memberontak" mendukung demo dan meloloskan karyawan-karyawan yang mogok. Perusahaan-perusahaan yang mencoba memecat karyawannya yang ikut demo diviralkan, dihujat ramai-ramai, HR nya dan CEO nya dan anak CEO nya kena doxxing massal dan teror. Ini menjadi viral dan efek domino.
- Ribuan perusahaan besar dan BUMN lalu takut dan panik dengan gelombang viral ini, sehingga memutuskan untuk meliburkan karyawannya dengan membayarkan gaji selama tiga hari.
- Beberapa konglo besar menganggap bahwa barangkali mereka akan bisa mengamankan posisi mereka dalam Dialog Nasional yang akan terjadi, dan memutuskan untuk bertaruh. Mereka pun menyumbang logistik, nasi bungkus, air, dan bensin dalam jumlah raksasa ke para pendemo.
- Media-media internasional, politisi-politisi luar negeri, dan entitas-entitas finansial luar negeri mendukung demo dan memberi publisitas global.
- Seluruh 13 tokoh nasional yang sebelumnya disebutkan akhirnya berhasil dipaksa untuk eksplisit mendukung demo, termasuk Pram, JK, AHY, dan KDM. Beberapa bahkan berusah menjadi "Lisan al Gaib" gerakan dan mengincar untuk mendominasi Dialog Nasional menjadi kendaraan politik pribadinya.
Akibatnya, pembukaan kotak pandora Dialog Nasional menjadi sesuatu yang diinginkan dan didukung banyak sekali pihak secara kompak, meski dengan maksud-maksud tak kompak dan tak selalu murni.
Ini menimbulkan kecemasan bahwa Dialog Nasional akan dibelokkan dari tujuan aslinya, sehingga muncul militansi dalam gerakan untuk mengorganisasikan perlawanan dan vigilansi apabila enam poin pertama berhasil gol dan Dialog Nasional betulan berhasil terjadi. BEM-BEM tiap kota pun kemudian membentuk Forum Kota (Forkot) untuk mendisiplinkan gerakan dan suara.
Salah satu keputusan besar yang diraih di Forkot Jakarta adalah apakah dengan kekuatan sebesar ini, gerakan demo akan mengubah tuntutan ke pelengseran paksa pemerintahan Prabowo dan DPR yang terpilih pada 2024 atau tidak.
Jawabannya tegas: tidak. Alasannya, pelengseran hanya akan mengulang kesalahan Reformasi 1998 dan Revolusi Mesir 2011, yaitu tidak membenahi institusi yang bermasalah, hanya ganti orang saja. "Skenario Mesir" menjadi momok yang sangat ditakuti dan harus dicegah.
---
Urutan peristiwa cerpen fantasi:
1. Sekelompok kecil orang termasuk Ferry Irwandi menggunakan momentum kemarahan rakyat meluas pada 29 Agustus 2025 untuk merencanakan demo raksasa dengan minimum 300.000 peserta.
2. Sekelompok kecil orang ini mencari dan merekrut figur pemimpin gerakan yaitu Najwa Shihab, Mahfud MD, dan Haedar Nashir.
3. Troika pemimpin gerakan memanggil 300.000 orang untuk turun. Legitimasi politik dan agenda bersama berhasil diciptakan.
4. BEM-BEM mengoordinasikan mobilisasi ratusan ribu mahasiswa secara decentralized.
5. 300.000 orang turun melumpuhkan Jl. Thamrin - Bundaran HI - Jl. Sudirman - Semanggi - Senayan.
6. Elemen masyarakat lain tergerak / aji mumpung ikut turun: buruh pabrik, driver ojol, dan supir. Jl. Rasuna Said, Jl. Prof Satrio (Kuningan), Jl. Asia Afrika (timur Senayan), Palmerah, Jl. Gatot Subroto, Tol Dalam Kota, MT Haryono, dan Cawang lumpuh diduduki lautan manusia dari ujung ke ujung.
7. Masyarakat secara umum ikut turun. People Power.
8. Tekanan ekonomi ekstrem oleh pertunjukan kekuatan rakyat kota (machtsvertoon). Kantor-kantor kosong, pabrik-pabrik kosong, rak-rak Indomaret kosong, beras dan minyak goreng di pasar-pasar kosong, stok Pertalite dan Pertamax di SPBU kosong, kargo-kargo di Priok menumpuk tidak diangkut, sampah ratusan ribu ton menumpuk tidak diangkut. Oligarki-oligarki mulai panik.
Cerpen Bulan Agustus
Pada 1 September 2025, ketika demo besar menggoncang kota-kota, sekelompok perwakilan sipil termasuk Afutami dan Ferry Irwandi membatalkan rencana publikasi 17+8.
Sebaliknya, mereka gerilya bertamu ke rumah 13 orang pejabat: Anies, KDM, Pram, Jusuf Kalla, Ganjar, Risma, Andika Perkasa, Mahfud MD, Moeldoko, Said Iqbal, Komeng, Jimly Asshiddiqie, AHY, dan ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir.
Di setiap meeting, Ferry Irwandi bilang begini:
"Pak, saya bukan Lisan al Gaib."
"Saya bukan messiah."
"Saya bukan siapa-siapa dalam hal politik atau gerakan."
"Pak, saya hanyalah bocil yang belum belajar kencing kalau dibandingkan dengan kompetensi dan pengalaman dan kebijaksanaan dan brand recognition bapak."
"Kami butuh pemimpin, pak! Kami butuh orang yang bisa membacakan tuntutan 17+8 ini dan memberi kami arahan yang serius dan berefek, buka cuma viral nyari konten aja terus ilang."
"Kami yang hanya sekelompok pemuda random ini butuh seorang Soekarno dan Hatta yang mampu mewakili kami membacakan proklamasi."
Kelompok sipil itu sebenarnya tidak terlalu yakin siapa orang yang bisa (1) mau dan (2) bisa dipercaya untuk memimpin dan mengarahkan gerakan. "Bukannya si itu ngonten doang?" "Bukannya si itu termul?" "Bukannya si itu Islamis?"
Tetapi, jam terus berdetak. Tik, tok.
Artinya, solusinya sederhana: semuanya. Cobain semuanya. Brute force datangi seluruh 13 orang itu, yang poolnya memang dipilih dengan agak asal jadi.
Soal hasilnya seperti apa, urusan nanti. Kalau diusir, yaudah. Kalau orangnya mencoba menunggangi, kita pikir nanti harus diapakan. Yang penting coba dulu.
Bergegaslah Afutami dan Ferry Irwandi dan berbagai kelompok sipil dalam jumlah ratusan orang naik mobil, motor, dan pesawat mendatangi 13 rumah.
Rumah Anies didatangi. Rumah Pram didatangi. Rumah KDM didatangi. Rumah JK didatangi puluhan orang aktivis sipil, yang memohon dan membujuk dan "membujuk" untuk diberikan nasihat, arah, dan kepemimpinan.
Ternyata, dari 13 orang itu, berhasil nyangkut dukungan terbuka dari 3 orang: Najwa, Mahfud MD, dan Haidar (ini gw asbun asal tunjuk saja). 17+8 juga mendapat kritik keras dari beberapa tokoh karena isinya asbun dan tidak efektif secara strategi politik, dan diperbaiki.
Tiga orang itu kemudian muncul di TV, membacakan tuntutan 17+8 yang disederhanakan dan diperbarui menjadi Tujuh Tuntutan (T7):
1. Copot Kapolri
2. Copot Menhan
3. Copot Ketua DPR dan wakil-wakil ketua DPR
4. Bentuk Komite Reformasi Polri
5. Bentuk Komite Reformasi TNI
6. Bentuk Komite Reformasi DPR dan Partai Politik
7. Adakan Dialog Nasional
Dengan demikian, tuntutan yang diajukan bersifat taktis dan berdasarkan strategi, yaitu menggoncang pemerintahan supaya kondusif mendengar sisa tuntutan 17+8, yang ditunda dan akan dibahas nanti di suatu Dialog Nasional.
Pencopotan pejabat dianggap penting, karena merupakan shock therapy yang memastikan bahwa komite-komite yang akan dibentuk memiliki gigi dan legitimasi politik kuat untuk bertindak. Tidak ada cara lain untuk melakukan ini kecuali via pertunjukan kekuasaan sipil (machtsvertoon) yang membom dan mengacak-ngacak tata faksi patronase internal di ketiga institusi yang ditarget.
Afutami dan Ferry Irawandi yang nyempil di belakang Najwa ketika siaran pengumuman T7 diam-diam menjadi merasa sangat ambisius, dan segera bersilat di balik layar untuk mengincar posisi di salah satu komite ini.*
Kemudian, apabila T7 tidak dipenuhi dalm tenggat waktu 24 jam, ketiga perwakilan sipil itu di depan TV secara resmi memanggil rakyat untuk turun ke jalanan Jakarta dalam jumlah jutaan.
Pada saat itu para penggerak sipil membuat perhitungan mengejutkan: ternyata, hanya butuh 300.000 orang untuk menduduki seluruh ruas jalan Thamrin - Bundaran HI - Sudirman - Semanggi - Bundaran Senayan.
Padahal, kalau dipikir, jumlah populasi mahasiswa di Jakarta adalah 830.000 orang.
Artinya, kalau gerakan demo didukung oleh 1/3 mahasiswa di Jakarta saja, gerakan akan langsung dapat menguasai seluruh ruas Thamrin - Senayan!
Hanya dengan 1/3 populasi mahasiswa, para pendemo sudah akan mampu melumpuhkan semua aktivitas ekonomi dan politik di Jakarta Pusat.
Kalau ultimatum T7 masih tidak dituruti pemerintah, maka gerakan akan diteruskan ke hari esoknya, dan esoknya lagi, mungkin saja seminggu, dan boleh jadi sampai sebulan. Sebulan nonstop Thamrin - Senayan lumpuh diduduki 300.000 orang mahasiswa.
Rencana ini segera disebar ke puluhan BEM di puluhan kampus yang ada di Jakarta.
Tujuannya jelas: cari dan mobilisasi 300.000 orang mahasiswa dalam waktu 1x24 jam.
Ribuan grup-grup WA, LINE, server Discord, dan lainnya segera penuh sesak dengan ajakan demo, podcast, short video ajakan turun berdemo.
Regu-regu demo dibentuk, tiap regu berjumlah 10 orang dan berkelengkapan 1 grup WA, 1 ketua yang menerima instruksi dari dalam grup koordinasi, 1 plot tempat yang harus diduduki di ruas jalan sepanjang 5 km itu, dan rencana mobilisasi, termasuk berbagai base camp dan safe house yang dapat digunakan.
BEM-BEM melakukan sensus berkala untuk mengecek apakah massa 300.000 orang sudah berhasil dikumpulkan dan siap dimobilisasi ke jalan. Ruas-ruas jalan dibagi per universitas. Misal, UI yang menurunkan 20.000 mahasiswa (hampir separo populasi mahasiswa UI) mendapat jatah ruas jalan sepanjang 500 meter di antara stasiun Sudirman dan Menara Astra.
Sementara itu, para perwakilan gerakan sipil sibuk melakukan sowan mencari legitimasi dengan bertemu berbagai tokoh nasional termasuk Emil Salim dan Chatib Basri (representasi teknokrat), Maruf Amin dan UAS dan Hanan Ataki (representasi agama), Atta Halilintar dan Aldi Taher dan Timothy Ronald (representasi influencer), Subagyo HS dan Agum Gumelar (mantan Pangkopassus), Bang Yos (mantan Pangdam Jaya), serta Sutarman dan Da'i Bachtiar (mantan Kapolri).
Rencana-rencana serupa dengan skala serupa juga disusun untuk menduduki Pasteur dan Jembatan Pasupati di Bandung (300.000 mahasiswa), Simpang Malioboro - Sudirman di Yogyakarta (200.000 mahasiswa), Tugu Muda - Lawang Sewu di Semarang, dan berbagai tempat lainnya di kota-kota besar Indonesia.
Semakin dekat dengan tenggat waktu ultimatum, semakin aura revolusioner menyebar dengan cepat dan mengejutkan di kalangan jutaan mahasiswa di Indonesia. Muncul sebuah pemahaman bahwa "ini dia. Momen kita sudah tiba."
Bersambung part 2.
*Di cerpen fantasi ini, gw bukan hanya menjadikan Ferry Irwandi sebagai pemimpin sipil yang serius, melainkan juga memberikan doi wahana tangga kenaikan karir politik yang jauh lebih menjanjikan daripada luntang luntung ngonten ga jelas. Kurang baik apa coba gw.
**Di IRL, PP Muhammadiyah tuh beneran gila berani mengeluarkan tuntutan mencopot Kapolri. Jadi menurut gw, masuknya Haidar ke dalam trio representasi sipil adalah realistis.
@LiongkyTan bang gue juga pernah, yang chat tapi bukan pasangan karyawan, tapi orang tuanya, perkara anaknya ga pamit waktu mau berangkat kerja, beliau hubungin gue suruh nasehatin, malem malem lagi
lah?! jadi polisi adab mendadak gini saya
Pembodohan Publik:
Menampilkan pejabat dan petugas menggunakan sarung tangan hitam secara formal, memotong kabel di kebun, lalu memamerkannya di depan jurnalis hanyalah sebuah drama teatrikal (gimmick).
Tujuannya jelas:
memberikan "kambing hitam" instan yang mudah dicerna oleh masyarakat awam agar perbincangan publik berhenti di situ, tanpa harus membongkar bobroknya manajemen atau kegagalan sistem proteksi PLN yang sebenarnya.
Bagi siapa saja yang paham dasar teknis kelistrikan, rilis pers dalam video tersebut bukan sebuah fakta hukum, melainkan sebuah komedi birokrasi. 🤣🤣🤣
Kesimpulan logis dan teknis atas rekaman video rilis pers tersebut adalah sebagai berikut:
Salah Alamat Secara Teknis Kelistrikan (Mismatch): Barang bukti yang dipamerkan di video tersebut adalah Kabel Tanah (Underground Cable) atau kabel utilitas lokal, bukan kabel udara transmisi fasa SUTET/SUTT.
Kabel tersebut memiliki perisai baja luar (Steel Wire Armor) yang strukturnya hanya ditemukan pada kabel yang ditanam di dalam tanah atau kabel telekomunikasi/optik pelindung.
Kabel Kosong / Tidak Aktif:
Visual saat kabel dipotong di kebun maupun saat dipamerkan menunjukkan bahwa kabel tersebut TIDAK memiliki inti konduktor logam (tembaga atau aluminium tebal) di dalamnya.
Itu adalah selongsong kabel kosong atau bagian luar kabel yang umumnya sudah tidak aktif/bekas, di mana material berharganya (inti logam) kemungkinan besar sudah dikupas atau diambil terlebih dahulu.
Skala Dampak yang Tidak Masuk Akal:
Sistem interkoneksi kelistrikan se-Sumatera ditopang oleh jalur udara tegangan ekstra tinggi (SUTET 275kV) yang mengalirkan ribuan Megawatt daya antar-provinsi lewat menara-menara raksasa di langit.
Secara ilmu teknik elektro, gangguan atau putusnya kabel tanah lokal berserabut seperti di video ** mustahil memiliki kapasitas beban untuk meruntuhkan (blackout) sistem kelistrikan satu pulau**.
Dampak putusnya kabel sekecil itu maksimal hanya memadamkan area lokal (sekelas perkebunan atau desa sekitar). 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Kesimpulan Akhir:
Narasi yang menyatakan bahwa potongan kabel di video tersebut adalah "pemicu utama blackout Sumatera akibat cuaca" adalah narasi yang keliru, dipaksakan, dan tidak memiliki dasar validitas teknis.
Visual yang ditampilkan justru membongkar bahwa barang bukti tersebut tidak ada hubungannya dengan kegagalan sistem transmisi interkoneksi SUTET Sumatera.
🤣🤣😎
Jika kita menganalisis video rilis pers tersebut secara mendalam—baik dari potongan klip di lokasi kebun sawit maupun saat barang bukti dipamerkan di ruangan—anomali teknisnya semakin terlihat jelas.
Mari kita preteli detail komponen kabel yang dipegang dalam video tersebut untuk mengetahui jenis kabel yang sebenarnya:
1. Struktur "Selongsong Kosong" di Kebun Sawit (Detik 0: 01 - 0: 11)
Pada paruh pertama video, terlihat petugas sedang memotong dan mengangkat kabel dari area semak/kebun.
Saat kabel itu dipotong dan diangkat, perhatikan kelenturan dan bobotnya. Kabel tersebut tampak ringan seperti selongsong kosong.
Jika itu adalah kabel fasa transmisi utama yang aktif, di dalamnya harus ada inti logam konduktor padat (berupa pilinan aluminium tebal atau tembaga) yang sangat berat dan kaku.
Di video ini, bagian tengah kabel tampak kopong atau hanya menyisakan lapisan pelindung (sheath/armor) saja.
2. Bedah Komponen saat Konferensi Pers (Detik 0: 12 - 0: 28)
Ketika barang bukti diperlihatkan secara dekat di depan media, anatominya terlihat sangat jelas:
🔹️Bagian berwarna oranye/cokelat di tengah: Ini adalah inner sheath (lapisan isolasi dalam) atau filler plastik/karet yang membungkus inti kabel.
🔹️Namun, tidak terlihat ada logam konduktor (tembaga/aluminium) yang menyembul keluar sebagai inti pengalir arus.
🔹️Serabut kawat yang mekar di sebelah kiri: Ini adalah Steel Wire Armor (SWA) atau kawat baja pelindung mekanis. Fungsinya adalah melindungi kabel dari tekanan tanah, galian alat berat, atau gigitan hewan.
Pipa abu-abu panjang di sebelah kanan: Ini tampak seperti pipa pelindung (conduit/duct) PVC atau metal yang biasa digunakan untuk membungkus kabel yang ditanam di dalam tanah atau dilewatkan di area struktural bawah tanah.
Jadi, Ini Sebenarnya Kabel Apa?
Melihat anyaman kawat baja pelindung luar (armor) dan penggunaan pipa pelindung, benda di video tersebut adalah Kabel Tanah (Underground Cable), kemungkinan besar jenis NYFGbY atau kabel feeder tegangan rendah hingga menengah (bukan kabel transmisi antar-wilayah).
Bahkan, melihat kondisinya yang tidak memiliki inti konduktor logam di dalamnya, ada dua kemungkinan status kabel tersebut:
🔹️Kabel Tanah Bekas/Sampah Utilitas: Kabel sisa proyek atau kabel non-aktif yang bagian tembaga/aluminium dalamnya sudah dikupas atau diambil terlebih dahulu (karena nilai ekonomis tembaga/aluminium sangat tinggi), sehingga yang tersisa di lokasi hanyalah kulit isolasi dan serabut besi pelindungnya.
🔹️Kabel Optik Berperisai Baja (Shielded Fiber Optic): Kabel telekomunikasi bawah tanah yang menggunakan lapisan pelindung baja masif untuk melindungi serat kaca di dalamnya.
Hubungannya dengan Blackout Sumatera??? 🤔
Secara sistem kelistrikan, sebuah pulau besar seperti Sumatera ditopang oleh Jalur Transmisi Utama (Interkoneksi) yang menggunakan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) 275kV atau 500kV dan SUTT 150kV.
Jalur interkoneksi inilah yang mengalirkan daya ribuan Megawatt antar-provinsi melalui menara-menara pilon tinggi di atas langit.
Kabel tanah berpelindung kecil seperti yang dipamerkan di video tersebut tidak memiliki kapasitas untuk memikul beban arus listrik sistem interkoneksi se-Sumatera.
Putusnya kabel tanah lokal seperti di video hanya akan menyebabkan padam skala lokal (setingkat desa atau area perkebunan tersebut), bukan memicu efek domino (cascade penyulang) yang meruntuhkan seluruh sistem kelistrikan satu pulau (blackout).
Menjadikan potongan kabel tanah tanpa inti logam ini sebagai kambing hitam atau "pemicu utama" blackout satu pulau secara teknis kelistrikan adalah narasi yang tidak nyambung dan keliru secara logika infrastruktur.
🤣🤣🤣
Namanya saja SUTET singkatan dari Saluran Udara Tegangan Tinggi, jd adanya diatas bukan dikebon sawit 🤣🤣🤣 jadi kalaupun putus pasti mengantung diudara. Dan juga kabel sutet tidak seperti yang dipamerkan dan ga mungkin juga putus hanya 1 satu kabel
GAWAT WAK.....💔💔💔
MALAM KE 4 ACEH 14 KOTA MATI LAMPU. Dan negara tutup mata karna yang mati lampu aceh
Langsa
Aceh Utara
Bireuen
Aceh Barat Daya
Aceh Timur
Banda aceh
Aceh Besar
Aceh Tamiang
Aceh selatan
Lhokseumawe
Pidie jaya
Aceh Tengah
Bener meriah
JIKA ADA KOTA YANG BELUM MASUK SILAHKAN KASIH TAU WAK
PETISI KERAS DAN KECAMAN RAKYAT SUMATERA KEPADA PLN
Atas Kegagalan Besar yang Menyebabkan Blackout Massal Sumatera 22 Mei 2026 Kami, Rakyat Sumatera yang Terzalimi, Menuntut.
PEMECATAN SEGERA DAN TIDAK HORMAT terhadap Darmawan Prasodjo sebagai Direktur Utama PT PLN Atau kami menuntut merdeka supaya tidak terjadi ketiga kalinya blackout listrik se-pulau sumatera, pilihan ada di tangan penguasa.
Cukup sudah!
Malam Jumat, 22 Mei 2026, seluruh Sumatera gelap gulita. Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Jambi, lampung dan puluhan kota/kabupaten lainnya hampir seluruh pulau sumatera mati lampu secara serentak. Rumah sakit berjuang dengan genset, mall kelabakan, lalu lintas chaos, sinyal mati, air bersih terhenti, bisnis rugi miliaran, dan jutaan warga menderita. Ini bukan musibah alam semata, ini kegagalan sistemik yang berulang di bawah kepemimpinan Darmawan Prasodjo
Mengapa Darmawan Harus Dicopot Sekarang?
* Rekor Kegagalan Berulang, Blackout Sumatera bukan yang pertama. Sudah berkali-kali transmisi PLN ambruk, tapi infrastruktur tetap rapuh, redundansi minim, dan pemeliharaan buruk. Sumatera kaya energi (batubara, gas, hidro, panas bumi), tapi rakyatnya sering gelap. Ironi memalukan!
* Kepemimpinan Gagal, Darmawan Prasodjo sudah bertahun-tahun memimpin PLN. Janji keandalan listrik, modernisasi grid, dan ketahanan bencana hanya omong kosong. Setiap kali blackout, dia minta maaf, janji perbaikan, lalu ulangi kesalahan yang sama.
* Abai terhadap Sumatera, Pulau yang jadi tulang punggung energi nasional diperlakukan seperti anak tiri. Sementara Jawa-Bali lebih prioritas, Sumatera dibiarkan rentan. Ini bentuk kelalaian berat yang merugikan jutaan jiwa
* Tidak Ada Akuntabilitas, Sudah saatnya budaya tak kenal mundur di BUMN diakhiri. Kegagalan berulang ini menunjukkan ketidakmampuan memimpin perusahaan sebesar PLN.
Kami Tuntut
1. Prabowo segera memecat Darmawan Prasodjo melalui RUPS dan menggantinya dengan figur kompeten yang punya track record keandalan listrik nyata.
2. Audit independen menyeluruh terhadap manajemen risiko transmisi PLN di Sumatera selama kepemimpinan Darmawan.
3. Ganti rugi kepada korban blackout (rumah sakit, UMKM, warga) dari kantong pribadi direksi jika terbukti kelalaian
4. Reformasi total sistem kelistrikan Sumatera agar tidak bergantung pada satu titik lemah transmisi.
Kata Terakhir Kami
Darmawan Prasodjo, mundurlah dengan hormat sebelum rakyat Sumatera semakin marah!
Stop jadi beban negara. Stop alibi bencana alam sementara infrastruktur Anda yang rapuh. Sumatera bukan tempat eksperimen kegagalan Anda.
Ini bukan sekadar mati lampu ini kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya!
Perwakilan rakyat sumatera
Indepensumatera
SUMATERA GELAP GULITA:
SATU TITIK PUTUS, ENAM PROVINSI LUMPUH
Ini bukan pemadaman biasa.
Ini adalah blackout massal yang mengekspos betapa rentannya sistem kelistrikan Sumatera.
Gangguan terjadi sekitar pukul 18.44 WIB ketika sistem Sumatera Bagian Utara (SBU) dan Sumatera Bagian Tengah (SBT) terpisah, menyebabkan Sumatera Bagian Utara mengalami padam total.
Beberapa warga melaporkan waktu sedikit berbeda: di Sumatera Barat, gangguan dirasakan sejak sekitar pukul 18.35 WIB,
Sementara di Padangsidimpuan warga mencatat blackout terjadi pukul 18.45 WIB.
Intinya: dalam rentang pukul 18.35–18.50 WIB, seluruh sistem kelistrikan Sumatera bagian utara dan tengah runtuh bersamaan.
PLN mengungkap pemadaman dipicu terpisahnya sistem Sumatera Bagian Utara dan Sumatera Bagian Tengah. Gangguan terjadi setelah jalur transmisi Rumai–Muaro Bungo 275 kV mengalami gangguan.
Jalur transmisi 275 kV ini adalah tulang punggung utama yang menghubungkan aliran listrik dari selatan ke utara Sumatera.
Ketika satu jalur ini putus, sistem tidak punya cadangan yang cukup untuk menopang beban dan efek dominonya langsung menjalar ke seluruh wilayah yang bergantung pada interkoneksi itu.
Arjun Karim, General Manager PLN UID Sumbar, menjelaskan gangguan berasal dari sisi gardu induk pembangkitan dan transmisi.
PLN menyebut gangguan terjadi pada jaringan transmisi bertegangan 275 kiloVolt, yang merupakan salah satu tulang punggung distribusi listrik antarwilayah. Ketika sistem terpisah, distribusi listrik menjadi tidak stabil karena pasokan dari pembangkit tidak dapat disalurkan secara merata ke seluruh wilayah.
Inilah yang perlu dipahami publik soal sistem kelistrikan Sumatera:
seluruh pulau ini menggunakan satu sistem interkoneksi tunggal. Artinya, semua provinsi "berbagi" satu jaringan listrik yang saling terhubung.
Keuntungannya: efisiensi distribusi.
Risikonya: kalau satu titik kritis putus, semuanya ikut jatuh.
Pemadaman listrik dilaporkan terjadi di wilayah Sumatera Utara, Aceh, Jambi, Lampung, dan Sumatera Barat, yang turut merasakan dampak dari gangguan sistem yang terjadi secara terpusat.
Ditambah Riau, total ada enam provinsi yang terdampak malam ini hanya karena satu jalur transmisi di titik Rumai–Muaro Bungo mengalami gangguan. Satu titik lemah, seluruh sistem kolaps. Inilah yang disebut "single point of failure"
sesuatu yang dalam sistem infrastruktur kritis seharusnya sudah diantisipasi jauh-jauh hari.
PLN menyatakan proses pemulihan masih terus dilakukan dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 6 hingga 8 jam, tergantung kondisi sistem di lapangan.
ESTIMASI KERUGIAN: BERAPA YANG HILANG SETIAP JAM?
Enam provinsi terdampak berarti mencakup lebih dari 25 juta penduduk, ribuan pabrik, ratusan ribu UMKM, puluhan rumah sakit, dan infrastruktur digital yang sepenuhnya bergantung listrik.
Berdasarkan data PDRB gabungan provinsi terdampak dan referensi kerugian blackout serupa di Indonesia, berikut estimasinya:
Jika blackout berlangsung 5 jam: kerugian ekonomi diperkirakan berkisar Rp 500 miliar hingga Rp 1,5 triliun.
Ini mencakup kerugian langsung UMKM yang tutup mendadak, hilangnya jam produksi industri, biaya bahan bakar genset darurat, kerusakan produk makanan-minuman yang butuh pendingin, serta transaksi digital yang terhenti.
Jika blackout berlangsung 12 jam: kerugian bisa menembus Rp 2–4 triliun. Pada titik ini, industri manufaktur mulai merasakan kerusakan mesin akibat restart mendadak, rumah sakit menguras cadangan bahan bakar UPS, rantai dingin logistik mulai terganggu, dan kepercayaan investor mulai terkikis.
Jika blackout berlangsung 24 jam: estimasi kerugian bisa mencapai Rp 5–10 triliun.
Sektor perbankan dan fintech lumpuh, SPBU kehabisan cadangan daya, distribusi bahan pokok terganggu, dan potensi kerusuhan sosial mulai muncul di area yang tidak terbiasa hidup tanpa listrik.
Sumatera bukan pulau kecil. Ini adalah pulau dengan ekonomi terbesar kedua Indonesia,
Negara seriuskah mengurusnya????
Udah lama engga, so, ini PICK A CARD READING: FEBRUARI 2026!🎉
Iseng2 Intip tema besar bulan februari nanti yuk!
Reply pilihan kamu, RT & Likes sangat diapresiasi🌹
Dari kiri ke kanan: Pile 1 - 2 - 3
Let's go!💫