Menjadi kebanggaannya sekaligus mendatangkan kepuàsan. Alhasil, akan dilakukan berulang-ulang sebagai kebiasaan.
Kita kemudian menyebutnya sebagai tabiat.
Apakah pemodal itu layak dimusuhi? Apakah sebenarnya justru kita membutuhkan mereka?
Apakah kita yang tak ikhlas menerima perbedaan kondisi kita dengan pemodal?