ada yg kenal dengan wajah ini?
kenalin, bu hendri saparini.
ekonom ugm yang melanjutkan ke tsukuba.
jika ditanya soal MBG, bu hendri sudah merumuskan hal ini sejak 2007-2008 bersama prabowo.
pak sumitro orang banyumas. demikian juga bu hendri. ada garis kedaerahan yg sama.
namun konsep MBG bu hendri beda dengan Prabowo. Bu Hendri menyalin tempel konsep makan siang bagi siswa jepang, tempat dia sekolah dulu.
konsep otonom sekolah dan komite sekolah
menghindari adanya food waste berlebihan dan keracunan makanan. proses hidangan yang juga dibersihkan secara mandiri oleh siswa untuk membentuk karakter siswa. "dimulai dengan pilot project dulu ya mas", ujarnya
implementasi mbg prabowo berbeda dengan yang ia diskusikan bersama bu hendri saat baru saja mendirikan @Gerindra
bu hendri saat ini masih aktif di Core, tebet. lembaga thinktank yang mumpuni.
bu kenapa jarang nulis lagi?
"serba salah mas, kalau tulisan opini saya di media ada yang dipuji dengan policy, nanti dikira saya sedang nitip CV. kalau saya terlalu keras, nanti utusan Dasco datang lagi".
saya dan beliau akhirnya menikmati sushi, di sebuah kedai jepang yang berada tepat di atas kantornya.
nyam nyam nyam
lagi rame world cup gini jadi keinget momen support tanding bola pacar gw yg kakkoii kawaii ini💖 doi sering langsung gak pede kalau playnya lagi kurang (menurut dia) padahal plislah... lu tuh keren...
Pochettino bagus bgt taktiknya tadi
USA total dominan sampe nyetak 4 gol
Cuma ga pengen bahas sisi bolanya deh
Gimana caranya punya hairline sebagus itu di umur 54 tahun? Sehat bgt rambutnya
Jujur bingung banget
Negara mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Rupiah menguat, pasar merespons positif, koruptor mulai ditangkap, reshuffle disiapkan. Tapi masih ada yang ngotot demo 12 Juni.
Jadi sebenarnya yang dicari solusi atau memang ingin bikin gaduh?
Nah ini contoh twit buzzer ya ges, biasanya harganya 1 twit begini 3000-5000 rupiah.
Kalau ditawarin begini, jangan mau ya. Masa bayarannya kalah sama pertamax 1 liter
Menolak narasi/pemikiran LGBT itu TIDAK SAMA dengan menindas/mempersekusi LGBT.
Dokter Tirta ini masih yang pertama. Lu kalo campurin keduanya, bakal repot. Logika lu jadi berantakan.
Sama dengan halnya menolak penormalan merokok itu tidak sama dengan menindas/persekusi para perokok.
Menolak narasi LGBT itu BOLEH dan menjadi hak warga negara.
Mempersekusi LGBT itu baru TIDAK BOLEH karena ada unsur pidana dan membawa bahaya bagi keselamatan orang.
Nah, kaum lu suka nyampur-nyampurin keduanya. Ditentang narasinya dengan "stay normal" langsung ke-trigger, langsung cancel, langsung nge-block. Langsung ngerasa itu serangan ke identitas, jati diri, sehingga menolak narasi LGBT = menolak orangnya juga, alhasil dianggap jadi bagian dari diskriminasi. Padahal di kehidupan sosial masyarakat ga sesederhana itu realitanya!
Kalo ngaku progresif, harusnya budayakan dialog, bangun argumen yang kuat. Kebiasaan buruk penganut ideologi LGBT ini terlalu kuat budaya nge-block/dni nya pada orang yg sekadar berbeda pandangan, sehingga yg muncul kebenciannya aja, bukan dialog.
Tugas rakyat itu “mengawasi” bukan “memuji”
pejabat dan government kerja bagus itu ya bare mininum lah. Kalian digaji dari pajak yg disetor warga kok.
Mager banget baca narasi d tiktok yg anggep pihak yg kritik pemerintah itu = musuh.
Astaga.
Tsauban bertanya kepada Rasullah saw., “Apakah aku termasuk ahli baitmu (kerabatmu)?”.
Lalu dijawab,
نعم، ما لم تقم على باب سدة أو تأتي أميرا تسأله.
Iya, selagi engkau tidak berdiri di pintu -istana- penguasa, dan engkau mengemis-ngemis kekayaan pada mereka.
Teman-teman, di umur berapa kalian baru tahu kalau secara Fisika pendinginan, kita tidak bisa membedakan penggunaan air mentah atau air matang dari visual bening atau keruhnya es batu yg dihasilkan? 😲
Yak, karena memang tidak begitu hubungannya! 😂
Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.