DORRR INI RESPON BAKOM (BADAN KOMUNIKASI) RI SOAL MERPATI Rp 305 JUTA:
"kita lihat skalanya dong. ini kan skala nasional gabisa dibandingkan dgn skala pribadi"
"ini sebagai pesan ke dunia internasional bahwa Indonesia adalah negara yg berdaulat & punya pride"
pretttt. apapun problemnya, mereka selalu punya jawaban asbun yg bikin tercengang "HAHH"
tadi malam, apinya lagi-lagi masuk ke kawasan rumah warga. kebakarannnya bukan cuma di hutan sekarang, tapi rumah-rumah warga 🙁
tolong, tolong bantu kami yang di kalimantan, tolong sekali beritakan juga hal ini 🙁
Buzzer dongok pasti langsung bilang:
“Aksi ini didalangin PDIP karena pakai simbol 3 jari!”
Padahal ini simbol Vox Populi Vox Dei.
Suara Rakyat adalah Suara Tuhan.
Bukan suara partai.
Bukan suara buzzer bayaran.
Bukan suara yang lagi cari dalang biar isu rakyatnya kelihatan kotor.
Kalau setiap kali orang angkat tiga jari langsung dituduh PDIP, berarti otaknya cuma sanggup berpikir sampai sebatas nomor urut 2024.
Rakyat lagi nanya soal harga, MBG, KKN, dan kemerdekaan yang cuma jadi seremoni.
Itu bukan agenda partai.
Itu suara yang udah lama ditahan.
Vox Populi Vox Dei.
Silakan buzzer teriak “dalang” sekeras-kerasnya.
Suara yang bener tetap lebih keras.
Nggak ya, guys. Kebakaran hutan di Kalimantan bukan karena cuaca atau iklim, tapi karena lahannya DIBAKAR. Sengaja dibakar di musim kemarau supaya mudah nyebarnya dan ga kehalang hujan tiba-tiba. Ga tau mau dipake buat apa lahannya, tapi yang jelas that action itself is illegal.
"Mereka mencuri rotimu, lalu memberimu remah-remahnya. Lalu mereka menuntutmu untuk berterimakasih atas kedermawanan mereka. Oh, kurang ajarnya mereka"
- Ghassan Kanafani
Saya tidak punya kepentingan membela Anies (saya 03), tapi konteksnya memang berbeda.
Anies adalah aktor politik.
Bertemu, ngobrol, bahkan berfoto dengan lawan politik masih masuk dalam fungsi dan bahasa politik.
Publik sudah membaca dia sebagai orang yang bermain di arena itu.
Sebaliknya, Pancatera membawa posisi editorial dan identitas moral tertentu.
Di saat brand yang dibangun dari kritik sosial, independensi, dan keberpihakan pada isu tertentu, kedekatan simbolik dengan kekuasaan otomatis dibaca dengan standar berbeda.
Yang dipertaruhkan itu tidak hanya “boleh foto dengan siapa” saja, tapi konsistensi antara positioning yang dijual ke audiens dengan signalling yang ditampilkan ke publik.
Kalau kita membandingkan keduanya hanya dari tindakan “sama-sama foto”, maka kita sudah mengabaikan variabel paling penting:
siapa aktornya, dalam kapasitas apa dia hadir, dan ekspektasi apa yang selama ini dia bangun kepada publik.
Demikian.
Indonesia di twitter udah kayak mau kiamat, tp ternyata temen2 gue yg cuman main ig dan tiktok baru tau kalo di 2026 beberapa kali ada demo?? 😭 bahkan some of them baru tau ttg HURU HARA yg terjadi di Indonesia esp yg menyangkut prabowo
ini tuh bisa di sebut kesenjangan bermedia sosial gasih?? glad that gue kenal app ini.. i think, gue yg skrg bisa terbentuk salah satunya faktor karena main twt…
Yang perlu kalian tahu, Setkab bukan kementerian, bahkan lebih rendah dari Dirjen. Pemimpinnya yang disebut Seskab yang dijabat Teddy cuma eselon II dan yang paling penting, meskipun namanya Setkab, tugas dan fungsi mereka nggak ngurusin kabinet, mereka ngurusin presiden.