OP ini ngomongin soal gimana kemiskinan orang tua bisa ikut memengaruhi kondisi emosional anak dan cara anak melihat dirinya sendiri.
Anak yang dari kecil terus dengar “nggak punya uang”, “nggak mampu”, atau melihat orang tuanya selalu khawatir soal uang, lama-lama bisa terbiasa menekan keinginannya sendiri. Jadi takut meminta sesuatu, merasa bersalah ketika menginginkan sesuatu, bahkan bisa tumbuh dengan pikiran bahwa dirinya nggak boleh punya mimpi yang terlalu besar karena takut membebani orang tua.
“Yang penting hatinya nggak miskin,” katanya. Tapi kalau kondisi ekonomi memang serba kekurangan, sulit juga untuk merasa tenang dan berkecukupan secara batin.
Apalagi kalau orang tua justru merasa iri atau gak terima ketika anaknya mendapatkan makanan enak, pakaian bagus, atau sesuatu yang nggak bisa mereka berikan. Harusnya orang tua senang melihat anaknya mendapatkan hal-hal baik, bukan malah membuat anak merasa bersalah karena menikmatinya.
Menurut aku emang salah sih kalau orang tua ngebebanin masalah finansial ke anak. Tapi kadang mereka sendiri nggak sadar kalau omongan soal uang yang terus didengar anak bisa ngaruh banget ke cara anak melihat dirinya, keinginannya, bahkan masa depannya. Jadi ya orang tuanya juga harus mikir, jangan sampai masalah orang dewasa malah ikut jadi beban anak sampai dia gede. Tapi kalau kita ngasih tau pasti disangkanya ngelawan:(
Makanya Anies bilang kalau kalah Allah selamatkan dia. Bayangin dosa yang bakal dia tanggung jadi pemimpin buat hampir 300 juta orang. Eh si monokotil udahlah nyoba 3 kali, pas dikasih amanah malah zalim. Jahanam nungguin.
"Ibu-ibu jaman dulu gak ada yang kena postpartum depression"
WKWKWKWKWKWKWKKWKWWKWKW
apa lupa dulu mukulin anak sampe babak belur? gen milenial dan gen z udah langganan dipukul, ditampar, dicubit, dicambuk, sampe gesperin.
What the hell did you think that was?
Remember when a guy from a poor neighborhood was angry that someone broke into his house and tried to rape his sister, and people turned his news interview into a dance remix?