Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
WA dari temen. Siang. Jam 12.
"Bro, ponakan lo sering mual di mobil gak?"
"Iya parah. Tiap perjalanan muntah."
"Coba buka Settings iPhone lo."
"Hah? Emang kenapa?"
"Accessibility → Motion → Vehicle Motion Cues."
"Aktifin."
"Ini ngapain?"
"Udah aktifin aja. Besok perjalanan gak muntah."
Aku aktifin.
Besoknya, ponakkanu gak muntah pertama kalinya.
Agar bisa lahir, lo membutuhkan:
2 orang tua
4 kakek-nenek
8 buyut
16 kakek-nenek buyut kedua
32 kakek-nenek buyut ketiga
64 kakek-nenek buyut keempat
128 kakek-nenek buyut kelima
256 kakek-nenek buyut keenam
512 kakek-nenek buyut ketujuh
1.024 kakek-nenek buyut kedelapan
2.048 kakek-nenek buyut kesembilan
Agar lo bisa lahir hari ini dari 12 generasi sebelumnya, lo harus membutuhkan total 4.094 leluhur selama 400 tahun terakhir.
Coba Pikirin sejenak:
Berapa banyak perjuangan?
Berapa banyak pertempuran?
Berapa banyak kesulitan?
Berapa banyak kesedihan?
Berapa banyak kebahagiaan?
Berapa banyak kisah cinta?
Berapa banyak ungkapan harapan untuk masa depan?
Yang harus dilalui leluhur lo agar lo bisa ada di saat ini...
Jadi inget temen saya yang punya bisnis ngasih pendapat tentang kelemahan orang Indonesia dibanding orang Tiongkok dalam berbisnis. < kalau ada orang Tiongkok boleh konfirmasi/bantah ya. 🙏
Orang Indonesia itu FOMO dan bisa "saling bunuh". Musim Es Kepal Milo, semua bikin. Musim Mixue, semua invest. Bulan puasa, semua dagang gorengan dan es buah. Bahkan mereka gak peduli kalau di dekat tempat mereka ada bisnis serupa yang akhirnya menimbulkan persaingan ketat.
Nah, masalahnya bukan ikut tren, tapi eksekusinya yang tanpa diferensiasi dan tanpa perhitungan. Karena, katanya, banyak pelaku bisnis Tiongkok, dan ini jadi alasan bisnis di negara Cina maju pesat, justru bermain lebih strategis dan kolektif. Mereka paham bahwa sustain itu lebih penting daripada menang cepat. Contohnya: kalau si A punya toko ATK dan ada barang yang tidak tersedia, dia tidak ragu mengarahkan pembeli ke toko teman atau relasinya yang juga jual ATK. Meski sama-sama ATK, ada diferensiasi misal yang satu fokus di barang A, toko ATK lain di barang B. Secara jangka pendek mungkin dia kehilangan satu transaksi, tapi secara jangka panjang dia membangun trust dan ekosistem.
Contoh lain, di beberapa komunitas bisnis mereka, ada semacam pembagian peran. Misalnya satu fokus di supply, satu di distribusi, satu di retail. Mereka tidak semua lompat ke posisi yang sama hanya karena sedang “cuan”. Hasilnya, mereka tumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan.
Btw, ini bukan berarti semua orang Indonesia seperti itu ya, atau semua orang Tiongkok pasti lebih baik. Tapi pola ini cukup sering terlihat: satu cenderung reaktif dan individual, satu lagi lebih terstruktur dan kolaboratif.
Tapi, bisa jadi pernyataan ini salah juga ya ges. Ini hanya mengaitkan dengan postingan di bawah terkait banyak Mixue yang tutup.
Dan juga karena saya lagi coba mulai wirausaha, jadi butuh pendapat dari yang lebih expert juga. 🙏
guys, ada cerita dari Jahja Setiaatmadja Presiden Komisaris BCA yang menurut gue adalah salah satu yang paling menampar soal ekspektasi anak muda zaman sekarang.
Bukan karena dia ceramah soal kerja keras.
Tapi karena perjalanannya benar-benar tidak ada jalan pintasnya sama sekali.
Mulai dari latar belakang yang paling bawah:
Ayahnya bekerja di Bank Indonesia selama 33 tahun. Kedengarannya keren tapi bukan sebagai pejabat. Sebagai kasir.
Gaji pas-pasan.
Tidak lebih.
Jahja SD dan SMP jalan kaki ke sekolah.
Sementara teman-temannya naik sepeda atau diantar mobil.
Dia jalan kaki.
SMA pindah rumah lebih jauh.
Sekarang bergelantungan di bus.
Tidak ada privilege.
Tidak ada koneksi.
Tidak ada modal apapun selain mau bekerja keras.
Soal cita-cita yang tidak kesampaian dan ini yang paling relate:
Jahja ingin jadi dokter gigi waktu SMA.
Tapi keluarga tidak sanggup bayar kuliah kedokteran gigi.
Coba teknik juga mahal.
Akhirnya pilihan jatuh ke Ekonomi UI karena itulah yang terjangkau.
Bukan pilihan pertama. Bukan impian awal. Tapi dari situlah semuanya dimulai.
Pekerjaan pertama dan ini yang bikin banyak orang tidak siap:
Setelah lulus dari UI dan diterima di Price Waterhouse kantor akuntan asing yang bergengsi pekerjaan hariannya di hari-hari pertama adalah fotokopi.
Karena office boy-nya terbatas, junior seperti Jahja yang kena.
Lulus dari universitas terbaik.
Kerja di kantor akuntan internasional.
Tugas pertamanya: fotokopi.
Gaji bulan pertama: Rp60.000.
Dia tidak keluar.
Dia tidak ngeluh.
Dia kerjakan sebaik mungkin.
Titik balik yang tidak direncanakan jualan betamax door to door:
Karena gaji Rp60.000 tidak cukup Jahja cari penghasilan sampingan. Dia keliling naik motor menjajakan kaset video betamax sewaan ke teman-teman dan kenalan.
Suatu hari dia ketemu seorang langganan yang ternyata direktur di Kalbe Farma.
"Gaji lu berapa?" "Kira-kira Rp60.000, Pak." "Ikut gua. Langsung Rp150.000."
Dua setengah kali lipat. Dari jualan betamax keliling.
Karir di Kalbe Farma dan ini yang menunjukkan konsistensinya:
Di Kalbe Farma dia naik pangkat setiap dua tahun. Konsisten. Sampai di usia 33 tahun dia sudah menjabat sebagai Direktur Keuangan Kalbe Farma salah satu perusahaan farmasi terbesar Indonesia.
Kemudian pindah ke Indomobil Group juga sebagai Direktur Keuangan direkrut oleh headhunter dari Singapura.
Momen yang paling mengejutkan downgrade dari direktur jadi wakil kepala divisi:
Ketika Andre Halim memintanya pindah ke BCA Jahja siap. Tapi ada syaratnya:
"Kamu kan direktur keuangan di Indomobil. Di BCA company-nya lebih luas. Sorry, kamu enggak bisa sebagai direktur. Cukup general manager dengan jabatan wakil kepala divisi."
Turun dua level. Dari direktur menjadi wakil kepala divisi.
Tapi ada janji: dalam setahun akan jadi kepala divisi.
Jahja terima.
Dan janji itu tidak ditepati selama lima tahun:
Tahun pertama tidak ada kenaikan. Tahun kedua sama saja. Tahun ketiga, keempat, kelima tidak ada perubahan.
"Sami mawon," kata Jahja. Bahasa Jawa untuk: sama saja. Tidak ada yang terjadi.
Baru di Januari 1996 lima tahun kemudian surat keputusan pengangkatan kepala divisi itu datang.
Dan inilah refleksinya yang paling dalam:
"Sesudah saya diangkat menjadi kepala divisi, saya baru sadar kalau pada tahun 91 saya dijadikan kepala divisi, saya jadi bos tapi enggak punya fondasi. 5 tahun itu memberikan waktu kepada saya untuk bisa belajar, belajar, mendalami."
Dia tidak menyesali lima tahun penantian itu. Dia mensyukurinya.
Karena kalau dipromosikan terlalu cepat dia akan jadi bos tanpa fondasi. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada menunggu lama.
Soal networking yang lebih penting dari gelar:
Jahja bilang sesuatu yang menurut gue perlu digarisbawahi:
"70% kalau saya boleh kata adalah karena networking, karena relationship."
Dia lulusan akuntansi. Ilmu akuntansi 30-40 tahun lalu sama saja dengan sekarang tidak ada yang luar biasa. Tapi networkingnya yang membawa dia ke posisi Presiden Direktur BCA selama 14 tahun.
Cara dia membangun networking yang konkret:
Setiap kepala divisi dan kepala wilayah yang berada di bawahnya 58 kepala divisi dan 12 kepala wilayah mendapat bunga dan kue kecil di hari ulang tahunnya. Dari Jahja pribadi.
Ada seorang kepala divisi dari Tapanuli yang meneleponnya sambil terharu:
"Pak, ini pertama kali dalam hidup saya pada waktu ulang tahun saya dapat bunga."
Dan cara dia ke cabang BCA? Tidak nanya soal kerjaan. Ngobrol. Selfie bareng teller dan customer service. Tertawa bersama.
"Kalau kita datang ke cabang cuma nanya kerjaan, jangan heran mereka juga akan begitu ke bawahannya."
Prinsip kepemimpinan yang paling konkret:
Satu — kredit ke yang berhak. Kalau anak buah yang usulkan ide bagus sebut namanya. Jangan di-take over. Mereka akan bangga dan makin loyal.
Dua — tanggung jawab kesalahan sendiri. Kalau keputusan ternyata salah jangan cari kambing hitam. Tanggung jawab.
Tiga — beri kepercayaan bertahap. Beri wewenang dulu. Lihat hasilnya. Kalau 80% benar lepas dia jalan sendiri. Kalau 50% masih salah bimbing lagi.
Kalimat penutup yang paling sederhana dan paling dalam:
"Jika selalu kita berbuat baik dan berniat baik maka setiap saat adalah saat yang baik. Dan setiap hari adalah hari yang baik."
Tapi dia tambahkan:
"Niat aja kalau enggak dikerjakan percuma. Niat baik dan berbuat baik."
Jahja Setiaatmadja bukan orang yang terlahir dengan privilege. Tidak ada koneksi keluarga. Tidak ada modal besar. Ayahnya kasir selama 33 tahun.
Yang dia punya: mau belajar dari bawah. Mau tunggu lima tahun tanpa mengeluh. Mau jualan betamax keliling naik motor waktu gaji tidak cukup. Mau turun jabatan dua level demi kesempatan belajar di tempat yang lebih besar.
Dan dari titik-titik itu dia menjadi Presiden Direktur BCA selama 14 tahun. Bank dengan market cap terbesar di Indonesia.
Bukan karena beruntung. Tapi karena dia konsisten mengerjakan hal yang benar bahkan ketika tidak ada yang melihat dan tidak ada yang menghargai.
Ingat kasus Leony Vitria Hartanti (eks Trio Kwek Kwek)? Ayahnya meninggal 2021. Rumah sudah lunas dari dulu. PBB dibayar rajin tiap tahun. Pas Leony mau balik nama sertifikat, dia kena tagihan PULUHAN JUTA.
Reaksi Leony sama seperti semua org: "Kan bukan jual beli? Ini kan WARISAN?"
Ternyata ada prosedur yang bisa bikin biaya balik namanya jadi 0 rupiah. Tapi banyak yang gak tau. Simak screenshot cara2nya dari akun thread @nafkahnation.dx
Guys, ada usulan dari DPR yang menurut gue seharusnya jadi topik paling ramai dibicarakan hari ini tapi sayangnya tenggelam di antara semua berita geopolitik dan drama pengadaan.
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mengusulkan:
negara tanggung 100 persen iuran BPJS Kesehatan seluruh rakyat Indonesia.
Dan hitungannya sudah dia paparkan langsung di rapat dengan Kementerian Kesehatan.
Angkanya dulu:
225,94 juta orang peserta di luar kategori Pekerja Penerima Upah.
Dikali iuran Rp42.000 per bulan.
Dikali 12 bulan.
Hasilnya: Rp113 triliun per tahun.
Dan Charles langsung melempar pertanyaan yang menurut gue paling tepat sasaran:
Mampu enggak negara?
Mampu Pak.
Membiayai program lain yang jauh lebih besar saja mampu.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh pernyataan Charles:
Program lain malah dipakai buat motor trail, Pak.
Ini buat kesehatan rakyat, Pak.
Satu kalimat.
Tapi isinya sangat berat.
Karena kita semua tahu angka-angkanya:
MBG: Rp171 triliun per tahun.
Dengan 8 potensi korupsi yang sudah diidentifikasi KPK.
Dengan pengadaan sikat semir sepatu Rp1,6 miliar. Dengan motor listrik Rp1,2 triliun.
Dengan kaos kaki Rp100.000 per pasang.
BPJS Kesehatan 100 persen untuk seluruh rakyat: Rp113 triliun per tahun.
Dengan manfaat yang langsung terasa setiap orang yang sakit bisa berobat tanpa takut tidak bisa bayar.
Selisihnya bahkan lebih murah.
Dan dampaknya jauh lebih terukur.
Masalah yang mendorong usulan ini dan ini realita yang menyakitkan:
Sistem BPJS sekarang punya lubang besar yang sudah lama diketahui tapi tidak kunjung diselesaikan: data kepesertaan yang kacau.
Ada ratusan ribu bahkan jutaan warga miskin yang secara data masuk kategori mampu karena kesalahan pendataan.
Mereka masuk desil 8 atau lebih tinggi di atas kertas.
Tapi di lapangan mereka tidak sanggup bayar iuran bulanan.
Charles mencontohkan seorang ibu di Jakarta suaminya kerja serabutan, penghasilan tidak menentu.
Tapi karena data administrasinya salah dia tidak masuk kategori penerima bantuan.
Harus bayar BPJS mandiri.
Sementara hidup di Jakarta dengan Rp2 juta sebulan saja sudah susah.
Dan ketika mereka tidak bayar kepesertaannya nonaktif.
Mereka jatuh sakit tidak bisa berobat dengan BPJS.
Harus bayar penuh.
Ini adalah ironi terbesar dari sistem yang seharusnya melindungi rakyat yang paling rentan.
Kenapa solusi verifikasi data" tidak cukup:
Pemerintah selalu menjawab masalah ini dengan satu jawaban:
kita akan perbaiki data
Tapi perdebatan soal verifikasi data sudah berlangsung bertahun-tahun.
Sementara itu setiap hari ada orang yang sakit dan tidak bisa berobat karena terjebak di limbo administratif antara "mampu" di atas kertas dan "tidak mampu" di lapangan.
Charles menyebut ini dengan sangat tepat: perdebatan verifikasi data yang tidak kunjung selesai hanya memperpanjang ketidakpastian bagi warga yang paling butuh kepastian.
Solusi paling simpel:
tanggung semuanya.
Selesai.
Tidak perlu verifikasi.
Tidak perlu data yang sempurna.
Semua warga negara Indonesia dapat BPJS gratis.
Apakah ini fiskal realistis?
Rp113 triliun per tahun terdengar besar.
Tapi mari bandingkan:
MBG 2026: Rp171 triliun dalam satu tahun, dengan tata kelola yang menurut KPK sendiri belum memadai.
Kalau dari anggaran-anggaran itu ada yang bisa dirasionalisasi Rp113 triliun untuk BPJS gratis 100 persen bukan angka yang tidak mungkin dijangkau.
Dan ini investasi yang paling langsung dampaknya ke rakyat terbawah yang sekarang tidak punya jaring pengaman kesehatan yang efektif.
Yang paling bikin gue geleng-geleng:
Ini bukan ide baru.
Konsep universal health coverage sudah lama dibicarakan.
Negara-negara yang jauh lebih miskin dari Indonesia sudah menjalankannya.
Thailand menjalankan sistem kesehatan universal sejak 2002 dengan premi nol untuk semua warga.
Sri Lanka.
Bangladesh.
Bahkan beberapa negara Afrika.
Indonesia dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara masih berdebat soal siapa yang berhak dapat BPJS subsidi dan siapa yang tidak.
Sementara di sisi lain anggaran negara mengalir ke motor trail, kaos kaki Rp100.000, dan sikat semir sepatu dengan harga tiga kali lipat pasar.
Rp113 triliun untuk kesehatan gratis semua rakyat Indonesia atau Rp171 triliun untuk program makan yang menurut survei 88% manfaatnya dinikmati pejabat dan pengelola dapur?
Ini bukan pertanyaan yang sulit dijawab secara moral.
Yang sulit adalah menjawabnya secara politik karena selalu ada kepentingan yang lebih besar dari kesehatan rakyat yang masuk dalam kalkulasi anggaran negara.
Charles sudah berani mengajukan pertanyaan yang tepat.
Sekarang tinggal satu pertanyaan lagi:
Adakah yang berani menjawabnya dengan aksi nyata?
Guys, ada usulan dari DPR yang menurut gue seharusnya jadi topik paling ramai dibicarakan hari ini tapi sayangnya tenggelam di antara semua berita geopolitik dan drama pengadaan.
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mengusulkan:
negara tanggung 100 persen iuran BPJS Kesehatan seluruh rakyat Indonesia.
Dan hitungannya sudah dia paparkan langsung di rapat dengan Kementerian Kesehatan.
Angkanya dulu:
225,94 juta orang peserta di luar kategori Pekerja Penerima Upah.
Dikali iuran Rp42.000 per bulan.
Dikali 12 bulan.
Hasilnya: Rp113 triliun per tahun.
Dan Charles langsung melempar pertanyaan yang menurut gue paling tepat sasaran:
Mampu enggak negara?
Mampu Pak.
Membiayai program lain yang jauh lebih besar saja mampu.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh pernyataan Charles:
Program lain malah dipakai buat motor trail, Pak.
Ini buat kesehatan rakyat, Pak.
Satu kalimat.
Tapi isinya sangat berat.
Karena kita semua tahu angka-angkanya:
MBG: Rp171 triliun per tahun.
Dengan 8 potensi korupsi yang sudah diidentifikasi KPK.
Dengan pengadaan sikat semir sepatu Rp1,6 miliar. Dengan motor listrik Rp1,2 triliun.
Dengan kaos kaki Rp100.000 per pasang.
BPJS Kesehatan 100 persen untuk seluruh rakyat: Rp113 triliun per tahun.
Dengan manfaat yang langsung terasa setiap orang yang sakit bisa berobat tanpa takut tidak bisa bayar.
Selisihnya bahkan lebih murah.
Dan dampaknya jauh lebih terukur.
Masalah yang mendorong usulan ini dan ini realita yang menyakitkan:
Sistem BPJS sekarang punya lubang besar yang sudah lama diketahui tapi tidak kunjung diselesaikan: data kepesertaan yang kacau.
Ada ratusan ribu bahkan jutaan warga miskin yang secara data masuk kategori mampu karena kesalahan pendataan.
Mereka masuk desil 8 atau lebih tinggi di atas kertas.
Tapi di lapangan mereka tidak sanggup bayar iuran bulanan.
Charles mencontohkan seorang ibu di Jakarta suaminya kerja serabutan, penghasilan tidak menentu.
Tapi karena data administrasinya salah dia tidak masuk kategori penerima bantuan.
Harus bayar BPJS mandiri.
Sementara hidup di Jakarta dengan Rp2 juta sebulan saja sudah susah.
Dan ketika mereka tidak bayar kepesertaannya nonaktif.
Mereka jatuh sakit tidak bisa berobat dengan BPJS.
Harus bayar penuh.
Ini adalah ironi terbesar dari sistem yang seharusnya melindungi rakyat yang paling rentan.
Kenapa solusi verifikasi data" tidak cukup:
Pemerintah selalu menjawab masalah ini dengan satu jawaban:
kita akan perbaiki data
Tapi perdebatan soal verifikasi data sudah berlangsung bertahun-tahun.
Sementara itu setiap hari ada orang yang sakit dan tidak bisa berobat karena terjebak di limbo administratif antara "mampu" di atas kertas dan "tidak mampu" di lapangan.
Charles menyebut ini dengan sangat tepat: perdebatan verifikasi data yang tidak kunjung selesai hanya memperpanjang ketidakpastian bagi warga yang paling butuh kepastian.
Solusi paling simpel:
tanggung semuanya.
Selesai.
Tidak perlu verifikasi.
Tidak perlu data yang sempurna.
Semua warga negara Indonesia dapat BPJS gratis.
Apakah ini fiskal realistis?
Rp113 triliun per tahun terdengar besar.
Tapi mari bandingkan:
MBG 2026: Rp171 triliun dalam satu tahun, dengan tata kelola yang menurut KPK sendiri belum memadai.
Kalau dari anggaran-anggaran itu ada yang bisa dirasionalisasi Rp113 triliun untuk BPJS gratis 100 persen bukan angka yang tidak mungkin dijangkau.
Dan ini investasi yang paling langsung dampaknya ke rakyat terbawah yang sekarang tidak punya jaring pengaman kesehatan yang efektif.
Yang paling bikin gue geleng-geleng:
Ini bukan ide baru.
Konsep universal health coverage sudah lama dibicarakan.
Negara-negara yang jauh lebih miskin dari Indonesia sudah menjalankannya.
Thailand menjalankan sistem kesehatan universal sejak 2002 dengan premi nol untuk semua warga.
Sri Lanka.
Bangladesh.
Bahkan beberapa negara Afrika.
Indonesia dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara masih berdebat soal siapa yang berhak dapat BPJS subsidi dan siapa yang tidak.
Sementara di sisi lain anggaran negara mengalir ke motor trail, kaos kaki Rp100.000, dan sikat semir sepatu dengan harga tiga kali lipat pasar.
Rp113 triliun untuk kesehatan gratis semua rakyat Indonesia atau Rp171 triliun untuk program makan yang menurut survei 88% manfaatnya dinikmati pejabat dan pengelola dapur?
Ini bukan pertanyaan yang sulit dijawab secara moral.
Yang sulit adalah menjawabnya secara politik karena selalu ada kepentingan yang lebih besar dari kesehatan rakyat yang masuk dalam kalkulasi anggaran negara.
Charles sudah berani mengajukan pertanyaan yang tepat.
Sekarang tinggal satu pertanyaan lagi:
Adakah yang berani menjawabnya dengan aksi nyata?
Guys, Helmy Yahya ngobrol bareng Koiyocabe dan obrolannya bikin gue mikir panjang.
Bukan soal gosip.
Bukan soal drama.
Tapi soal satu pertanyaan yang makin relevan hari ini:
Kenapa anak muda sekarang makin berani dan apa yang sebenarnya sedang terjadi di seluruh dunia?
Mulai dari fakta yang bikin gue terdiam.
Di Nepal seorang rapper berumur 34 tahun, mantan insinyur, menang pemilu dan jadi Perdana Menteri. Kabinet yang dia bentuk 67% berusia di bawah 40 tahun. Menterinya ada yang DJ. Ada yang aktivis. Bukan dari dinasti politik lama.
Ini bukan kebetulan. Ini pola yang berulang di seluruh dunia.
Thailand partai orang muda menang telak di 2023, tapi digoyang secara hukum dan tidak jadi memerintah. Anak mudanya sampai sekarang masih tidak terima.
Nepal 2024 mahasiswa dan Gen Z turun ke jalan setelah 26 platform media sosial diblokir pemerintah. Menteri dikejar. Dilempar. Dipukul. Rumah PM dibakar.
Bulgaria atap stasiun runtuh, terungkap gara-gara korupsi, anak muda turun semua dan gulingkan pemerintahan.
Dan Indonesia Agustus 2024. Lo pasti ingat.
Kenapa sekarang bukan dulu?
Koiyocabe kasih jawaban yang menurut gue paling tepat:
Dulu ada korupsi kita enggak tahu. Sekarang ada korupsi dalam hitungan menit kita tahu. Dan numpuk. Numpuk. Numpuk. Sampai akhirnya ada momen di mana kita ngerasa: ini enggak bisa dibiarkan.
Generasi sebelumnya protes? Paling kirim surat pembaca ke koran belum tentu dimuat. Tidak ada komentar langsung. Tidak ada viral. Tidak ada yang merespons.
Sekarang? Lo upload satu jam sudah jutaan yang tahu. Dan lo terinspirasi dari yang dilakukan anak muda di Nepal, di Thailand, di Bangladesh karena lo lihat itu semua di feed lo hari ini.
Yang bikin anak muda marah bukan cuma korupsi.
Ada satu video yang Helmy ceritakan seorang anak muda marah-marah di media sosial:
Baby boomer inilah yang merambah hutan. Buka lahan sawit. Buka tambang. Dapat duitnya mereka. Yang dapat banjirnya, dapat tsunaminya kami.
Dan Helmy sebagai representasi generasi yang lebih tua mengakuinya:
Kita mewariskan persoalan untuk mereka. Bukan ilmu. Bukan nilai. Tapi masalah.
Tapi ada satu catatan dari Helmy yang juga penting.
Anak muda lebih berani. Lebih ekspresif. Lebih anti korupsi. Lebih peduli lingkungan. Lebih nasionalis lihat kalau Indonesia lawan Malaysia, mereka yang paling galak.
Tapi satu yang kurang kata Helmy dan Koiyocabe sama-sama setuju:
Tata krama dan etika dalam komunikasi.
Meng-approach orang lebih tua dengan eh, kalian mau apa sih? itu bukan keberanian. Itu kurang ajar. Dan itu yang menutup pintu dialog yang sebenarnya bisa membuka banyak hal.
Kalau kalian mau didengar belajar juga cara ngomong yang bikin orang mau mendengar.
Dan ini yang paling dalam dari seluruh obrolan ini.
Helmy bilang dia tidak bisa mendidik anaknya seperti cara bapaknya mendidik dia.
Dulu: anak ngadu dipukul kepala sekolah malah ditambah dipukul sama bapaknya sendiri.
Sekarang: dimarahi guru diaduin ke polisi.
Beda dunia. Dan kita tidak bisa pakai cara lama untuk generasi yang baru.
Anak Gen Alpha itu kalau kita melarang sesuatu mereka tanya kenapa. Dan kita harus bisa jawab. Kalau tidak bisa jawab kita yang kehabisan argumen.
Per lot deviden bbca dapat sekitar 28ribu.
18.265.000 ÷ 28.000
= ± 652,32 lot
Merujuk harga bbca sekarang 6.600, maka:
Nilai posisi ≈ 65.200 × 6.600
= Rp 430.320.000 (sekitar 430 juta)
Artinya dalam sebulan dapt duit
dari bca 1.516.000
jika biaya hidup mu sebulan diangka segitu
kamu bisa pensiun dini
dengan punya bbca 430 jt
Gila sih, obrolan antara Habib Jafar (Jafar) dan Fajar Sadboy (Fajar) ini bener-bener kayak tabrakan dua galaksi.
Yang satu ahli dakwah dengan logika langit, yang satu ahli quotes dengan logika bawah genteng.
Tapi kalau lu teliti, banyak banget pelajaran hidup yang pedas dan nampol dari Fajar.
Fajar ngasih kutipan yang bikin kita mikir keras soal finansial:
Duit nggak dibawa sampai mati, tapi kalau hidup nggak ada duit, rasanya hampir mati.
Jangan sok idealis bilang uang bukan segalanya kalau lu masih malas-malasan.
Tapi, Fajar juga setuju sama Habib Jafar kalau Waktu adalah mata uang tertinggi. Uang bisa dicari, tapi waktu luang buat keluarga nggak bisa dibeli balik.
Meskipun sering jadi bahan candaan, Fajar membuktikan mentalnya baja:
Pas ditanya kenapa dia berani ambil peran utama di film tanpa background akting, dia bilang:
Kita bekerja dengan tanggung jawab, bukan tanya jawab.
Kalau lu dikasih kesempatan, jangan kebanyakan nanya Kenapa gue?, tapi langsung tunjukin Ini gue.
Di tengah gempuran tren, Fajar milih buat nggak ikut-ikutan biar kelihatan keren.
Dia tetap dengan gaya khasnya karena menurut dia, konsistensi itu lebih mahal daripada sekadar viral sesaat.
Fajar ngasih pelajaran penting soal Kunci Sukses yang nggak bakal lu temuin di toko kunci mana pun:
Dia pernah nanya ke tukang kunci, dan nggak ada kunci kesuksesan di sana. Artinya, cuma lu yang pegang kendali.
Fajar bilang, Nggak ada perjalanan tanpa debu, nggak ada kesuksesan tanpa doa ibu.
Dia buktiin omongannya dengan memboyong ibunya dari Gorontalo ke Jakarta buat tinggal bareng di apartemennya. Dia nggak mau menghidupi anak orang (pacaran) sebelum membahagiakan orang tuanya.
Muliakan Ibu.
Kesuksesan lu itu cicilan dari doa-doa ibu yang nggak pernah putus.
Gimana, Guys?
Fajar yang lu kira cuma sad ternyata punya pemikiran yang lebih rad (keren) daripada kita yang cuma bisa scroll TikTok doang, kan?
Masih mau ngetawain quotes dia atau mau mulai belajar tanggung jawab kayak dia?
Setiap orang punya karakter.
Apabila ingin latihan fisik, entah workout atau hobby, setiap saat tiap personal bisa memulai & berhenti sesukanya.
Tapi..apabila ingin melatih mental/jiwa & tidak akan bisa berhenti..
Menikahlah..
#selfreminder
masalah paling umum di bisnis kecil bukan kurang customer.. tapi terlalu banyak ngerjain hal yang bukan kerjaan owner...
- kamu balesin chat
- kamu packing
- kamu bikin konten
- kamu nagih invoice
- kamu handle komplain
satu orang untuk semua posisi.. terus kamu heran kenapa bisnis ga berkembang... jawabannya simpel: kamu terlalu sibuk kerja dalam operasional bisnis sampai ga pernah sempat kerja di atas bisnis...
Ya. Saya dulu pernah kalah. Bukan sama orang lain, tapi sama alkohol yang bikin saya jadi ketergantungan dan sempat hancur.
Hari ini tadi di tempat gym, saya ngrasa bangga sama diri sendiri sekaligus bersyukur karena sudah 2 tahunan ini bisa berhenti minum alkohol.
Ini bentuk terima kasih ke diri sendiri, juga apresiasi untuk doa-doa yang nggak pernah putus, dan untuk orang-orang yang tetap tinggal di saat semuanya nggak gampang.
Terutama untuk Istri, @SetiyawatiDina ❤️ Terima kasih banyak.
Rumus lepas dari PINJOL itu sebenarnya cuma dua, tapi banyak yang gagal paham karena sudah terlanjur ketakutan dan OVT
1. Opsi A: Bayar Tepat Waktu
Ini adalah jalan paling ideal JIKA secara finansial masih mampu.
Plus: Bebas teror, bebas tekanan mental, dan nama baik terjaga.
Catatan: Jangan memaksakan poin ini jika ujung-ujungnya harus "gali lubang tutup lubang". Itu bukan solusi, tapi menunda ledakan masalah yang lebih besar.
2. Opsi B: Jalani Konsekuensi
Gunakan opsi ini JIKA kondisi sudah benar-benar tidak mampu bayar. Berhenti gali lubang sekarang juga.
Apa risikonya?
Risiko doxing (penyebaran data).
Spam penagihan yang masif.
Credit score (BI Checking/SLIK) menjadi buruk.
Tekanan mental dari penagih.
3. Hati-hati dengan "Solusi Instan"
Saat kalian panik karena intimidasi, logika seringkali mati. Di celah inilah muncul jasa-jasa tidak rasional:
Jasa Joki Pinjol.
Konsultan abal-abal yang menjanjikan hapus data, dsb.
Ingat: Jangan menambah masalah baru dengan membayar orang yang memanfaatkan kepanikan kalian.
4. Mandiri adalah Kunci
Memutuskan untuk membereskan pinjol secara mandiri adalah langkah paling benar. Hadapi DC (Debt Collector) dengan kepala dingin. Jika kalian gagal bayar, biasanya akan ada fase "adem" setelah 3-6 bulan.
Tapi jangan terlena...
5. Penagihan adalah Siklus
Pahami bahwa pinjol yang sudah tunda bayar di atas 1 tahun, kemungkinan besar akan muncul lagi tagihannya di tahun berikutnya.
Fase penagihan yang pernah kita bahas sebelumnya adalah hal yang umum terjadi.
Jika tahun ini sepi, tahun depan bisa ramai lagi. Mental harus siap sejak awal.
Kesimpulan:
Berhentilah merasa takut secara berlebihan. Fokus pada pemulihan ekonomi pribadi dan hadapi konsekuensi yang ada secara logis, bukan dengan rasa takut yang dimanfaatkan orang lain.
Tunda bayar pinjol tidak mengajarkan untuk ngemplang dari tagihan. Tapi memberikan kalian waktu untuk benahi cashflow kalian serta menabung. Bijak dalam menanggapi semua informasi yang beredar dan pakailah logika untuk mencerna semuanya.
Pedagang mobil bekas itu punya insting.
Mereka bisa bedain mana pembeli yang polos, mana yang ngerti barang. Dalam 30 detik pertama.
Lo dateng, elus-elus bodi, duduk di jok, terus nanya "AC-nya dingin gak mas?"
Dalem hati mereka udah senyum. Mangsa empuk. Mark up Rp 15 juta.
Tapi coba lo dateng langsung jongkok di depan mobil, raba celah antar panel, buka kap mesin, cabut dipstick, senter kolong.
Pedagangnya langsung keringat dingin.
Dulu ada laki2 bercerita soal gaji 3 juta, lalu direndahkan sampai serendah2nya kalau uang sgtu cma untuk perawatan hewan-nya.
Hari ini ada suami bercerita kalau istrinya menggunakan pinjol 300 juta, tapi tetap mendapatkan reaksi jelek krna mau berpisah.
Laki2 katanya jangan suka menyimpan dan menahan emosi dalam dirinya. Harus berani bercerita apa yang dia rasakan.
Tapi ketika laki2 bercerita…dia tetap disalahkan walaupun dia benar.
Sudah benar laki2 jangan bercerita apapun di sosmed.