Lucu ya, kalau diresapi lagi, ternyata selama ini gue bener-bener sendirian. Gue pikir lingkaran pertemanan gue luas, tempat mengadu gue banyak, dan nama gue cukup diingat. Tapi itu cuma ilusi. Gue cuma kenal banyak orang, bukan punya temen yang bener-bener tempat pulang. Sering banget gue ngerasa deket sama banyak jiwa, saling tukar cerita, tertawa sampai larut, tapi di ujung hari, saat riuh itu reda, gue sadar nggak ada satu pun dari mereka yang sudi jadiin gue prioritas. Not a single person would choose me first. Gue cuma ada saat mereka butuh penengah, pendengar, atau sekadar pengisi kekosongan. Begitu mereka selesai, gue kembali jadi sosok yang terlewatkan. Ternyata emang dari dulu gue tuh nggak pernah penting buat siapa pun wkwk, cuma gue aja yang ke-PDean ngerasa dianggap.
tadi malam, apinya lagi-lagi masuk ke kawasan rumah warga. kebakarannnya bukan cuma di hutan sekarang, tapi rumah-rumah warga 🙁
tolong, tolong bantu kami yang di kalimantan, tolong sekali beritakan juga hal ini 🙁
agak sedih sih… di indonesia, orang-orang kuliah buat memenuhi ego kapitalis, kita dipaksa jadi sangat cerdas untuk gaji yang ga seberapa, belum lagi disuruh pilih jurusan (yg menentukan kehidupan kita selanjutnya) dengan umur yang belum siap dan hasilnya kuliah jadi ga enjoy :(
the “temen jadi asing” phase hurts different :( apalagi when they used to know literally everything about you. sometimes i still miss being friends with u ^____^
bismillahirahmanirrahim saya bermanifestasi pada tweet ini someday, soon, in the near future, gw angkat kaki dari negara ini dan menetap di luar negeri dengan keadaan secured dan settled (di eropa/kanada/oz/nz mau bgt)