bayangin lu punya banyak potensi, banyak yang bilang masa depan lu cerah, tapi hidup lu abis buat bertahan, bukan buat berkembang. waktu orang lain berkembang karena support system-nya lengkap, lu belajar kuat dari keadaan yang bahkan ga pernah kasih lu jeda. kanan di hajar kebutuhan, kiri di hajar pikiran, maju di hajar masa depan, mundur di hajar omongan.
belum lama ini, pas denger suara dia, i remember telling myself, “suatu hari nanti, kita pasti bakal jadi strangers lagi.” dari situ aja sebenarnya i already knew this moment wouldn’t last forever, tapi tetep aja i chose to enjoy it while i still could. bahkan aku mikir gitu sambil bikin playlist yang isinya full rekomendasi lagu dari dia.
but knowing it would end didn’t make it hurt any less. the day i finally realized that he really wasn’t coming back, i still cried. ternyata knowing someone will eventually leave and actually losing them are two completely different things.
sampai sekarang playlist itu masih ada, tapi i haven’t opened it again. bukan karena udah lupa, malah karena i remember too much. setiap lagunya masih terasa seperti potongan kecil dari masa itu. maybe someday i’ll be ready to listen to it again, but for now, i’ll just let the playlist stay untouched.
tbh, punya trauma itu scary banget. once you've been hurt, u get scared to get attached again karna bakal terus kepikiran kalo every1 u love will eventually hurt u
some traumas aren't visible, but they're still alive in someone's head
ada tulisan cantik bgt, kira-kira isinya begini:
“semoga kamu selalu dipertemukan dengan seseorang yg dapat berbicara bahasa mu, sehingga kamu ga perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk menerjemahkan jiwamu..”
mi concepto de amor es querer ver feliz a la otra persona. No quiero que deje sus planes, pasiones, su independencia, sus amistades, proyectos, aunque no me impliquen a mí.. Me daría pánico que mi presencia conlleve pérdidas en la vida de alguien, no quiero restar en nada