Tahu kah kamu?
Dengan cukup memangkas MBG Rp36-40 triliun saja, pemerintah sebenarnya tidak perlu menaikkan BBM.
Tapi pemerintah lebih memilih menaikkan Pertamax Rp3.950 dan Pertamax Green Rp4.100 per liter, yang efek dominonya jauh lebih luas ke seluruh masyarakat.
Padahal keduanya sama-sama bisa hemat Rp36,3 triliun di APBN.
Naik BBM = menekan daya beli kelas menengah, memicu kenaikan harga barang, memicu inflasi.
Pangkas MBG = memengaruhi kelompok rente, mengurangi dana bancakan.
Ada cara yang jauh lebih ringan buat hemat, tapi kenapa malah pilih yang membebani rakyat?
Why?
Polanya gini:
Pertamax naik
Pengguna pertamax pindah ke pertalite
Antrian pertalite ramai dan jadi langka
Yang tersedia hanya pertamax
Orang-orang terpaksa pakai pertamax
Harga-harga akhirnya melambung semua
Pejabat tidak peduli karena mereka isi bensin bukan pakai duit mereka. Dan kalau pertalite yang dibuat melambung, tragedi 98 akan langsung berulang.
Bacot doang dollar ga ngaruh.
Romantisasi lagu MBG dan percaya Bahlil bisa kerja yang bener. Tai semua.
Memang...setelah Pertamax naik, masalah berikutnya akan pindah ke Pertalite!
Kok bisa? Gini alasannya:
Pertama, yang harus diwaspadai berikutnya adalah persediaan Pertalite.
Selisih harga Pertamax dengan Pertalite udah tinggi banget. Beda 6 ribu rupiah.
Dalam situasi begini, wajar kalau sebagian konsumen Pertamax mulai pindah ke Pertalite.
Di beberapa daerah, orang-orang udah mulai antre mengular di SPBU untuk beli Pertalite.
Persediaan Pertalite bakal lebih rawan.
Source gambar: ANTARA
Guys, Mahfud MD baru bicara paling blak-blakan tentang korupsi MBG.
Dan menurut gue ini adalah analisis paling jujur dari seseorang yang punya pengalaman langsung di dalam sistem pemerintahan.
Mahfud tidak kaget.
Dan itu sendiri sudah mengatakan segalanya.
Pertama Mahfud sudah prediksi ini dari awal:
"Persis sejak awal kita sudah bilang kalau dikelola kayak gitu sudah pasti ada korupsinya.
Hanya orang bodoh yang mengatakan tidak ada dugaan korupsinya."
Pengelolaan ugal-ugalan.
Makanan tidak berstandar nasional.
Anggaran tidak jelas pertanggungjawabannya.
Pengawasan tidak ada.
Rantai distribusi terlalu panjang.
Semua tanda-tanda itu sudah terlihat sejak awal.
Tapi setiap kali dikritik yang mengkritik dituduh anti-MBG dan anti-rakyat.
Dan ini yang paling mengerikan proyek dikerjakan yayasan milik mereka sendiri:
Kejaksaan menemukan bahwa banyak proyek di dalam BGN dikerjakan oleh yayasan yang berafiliasi langsung dengan tiga orang yang kini jadi tersangka.
Mereka yang memegang anggaran sekaligus yang dapat proyeknya.
Mereka yang menentukan siapa yang menang tender sekaligus pemenangnya.
"Itu jahat betul.
Menurut saya harus hukuman m4t1."
Mahfud tidak main-main.
Di tengah obrolan yang relatif santai dia menyebut hukuman mati.
Karena menurut dia mengkhianati program yang tujuannya memberi makan anak-anak miskin adalah kejahatan yang tidak bisa ditoleransi.
Dan ini tentang seberapa jauh kejaksaan harus menyelidiki:
Mahfud menyebut jaringan korupsi MBG sangat luas. Ada anggota DPR yang terlibat.
Ada keluarga menteri.
Ada pejabat daerah.
Ada deputi internal BGN sendiri.
Sony Sonjaya mantan Wakil Kepala BGN disebut sudah menyebutkan 26 nama kepada penyidik dari isi HPnya.
Mahfud langsung merespons:
jangan dilokalisir.
Jangan hanya berhenti di tiga orang yang sudah ditangkap.
"Ibarat anggur ini banyak sekali rangkaiannya ke bawah. Semuanya harus dibongkar oleh kejaksaan dari pusat sampai ke daerah."
Dan ini tentang Sony yang mau jadi justice collaborator:
Sony menyatakan bersedia membongkar semuanya sebagai justice collaborator.
Mahfud menjelaskan mekanismenya dengan sangat spesifik.
Justice collaborator bisa jalan tapi ada syaratnya.
Sony tidak boleh menjadi pelaku utama.
Kalau dia pelaku utama dia tidak bisa dapat perlindungan sebagai justice collaborator.
Dan Mahfud mengingatkan satu risiko yang sangat nyata: silent collaborator network.
Artinya jaringan yang terlibat justru berkolaborasi untuk saling melindungi dan mengadakan kesaksian Sony sebagai bohong.
"Di polisi ada silent blue code.
Di jaringan ini bisa ada silent collaborator net code jaringan saling melindungi dan menutup satu sama lain."
Dan ini solusi yang Mahfud tawarkan yang paling konkret:
Hentikan MBG selama satu bulan.
Gunakan waktu itu untuk evaluasi totalsiapa sasarannya, bagaimana distribusinya, bagaimana pengawasannya, bagaimana standar kualitasnya.
Setelah satu bulan jalankan lagi dengan tata kelola yang benar-benar baru.
Dan yang paling penting: ubah orientasinya. Prioritaskan daerah 3T terluar, terdepan, tertinggal. Bukan sekolah-sekolah favorit di kota besar yang anak-anaknya tidak butuh program ini.
"Di SMA 1 Jogja 48 orang keracunan.
Itu bukan sasaran program ini.
Yang di luar-luar itu yang harusnya jadi prioritas.
Yang di kota besar ini tidak perlu uangnya lebih baik untuk keperluan lain."
Dan ini yang paling miris program lain berpotensi bernasib sama:
Mahfud secara terbuka menyebut dua program besar lain yang menurut dia patut diwaspadai.
Sekolah rakyat dari informasi yang dia terima langsung di lapangan: tidak jelas mutunya, tidak jelas perbedaannya dengan sekolah yang sudah ada, terkesan dipaksakan.
Semua murid sudah tertampung di sekolah negeri lalu untuk apa membuat sekolah eksklusif baru yang mutunya tidak jelas?
Koperasi Desa Merah Putih konsepnya tidak sesuai dengan prinsip koperasi yang sesungguhnya.
Modal datang dari atas bukan dari bawah.
Siapa anggotanya tidak jelas.
Bagaimana bagi hasil tidak jelas.
Mahfud bahkan melihat sendiri dari mobil saat lewat Kediri: koperasi desa sudah ada yang tutup.
Kursi ada, pintu buka tapi tidak ada orang dan tidak ada barang.
"Kalau pola yang sama terus dipakai korupsi MBG akan berulang di program-program berikutnya."
Mahfud MD menyimpulkan satu hal yang menurut gue paling penting dari seluruh diskusi ini:
Program MBG tujuannya mulia.
Niat Prabowo mulia.
Tapi orang-orang yang dipasang di dalamnya dari awal sudah berniat jahat.
Dan itu bukan sesuatu yang tidak bisa dibaca dari tanda-tanda yang sudah ada sejak awal.
Yang harusnya menjadi pelajaran:
jangan tunggu sampai jaksa menangkap untuk sadar bahwa ada yang salah.
Tanda-tandanya selalu ada.
Dan selama tidak ada yang berani mengakui ada masalah sejak awal korupsi akan terus dinikmati dalam diam.
"Sejak dulu indikasi korupsi itu gampang dibaca.
Kalau kita pernah duduk di pemerintahan kita sudah tahu. Kenapa baru sekarang bertindak?"
12 kapitalis paling berkuasa di dunia terbang ke Beijing kemarin dengan presiden AS sebagai pendamping mereka, untuk memohon kesepakatan bisnis kepada Ketua Partai Komunis Tiongkok.
Mereka adalah:
– Elon Musk, Tesla and SpaceX CEO
– Jensen Huang, Nvidia CEO
– Tim Cook, Apple CEO
– Larry Fink, BlackRock CEO
– Stephen Schwarzman, Blackstone CEO
– Kelly Ortberg, Boeing CEO
– Brian Sikes, Cargill CEO
– Jane Fraser, Citigroup CEO
– Larry Culp, General Electric CEO
– David Solomon, Goldman Sachs CEO
– Sanjay Mehrotra, Micron CEO
– Cristiano Amon, Qualcomm CEO
Sekuat dan sebesar itukah daya tawar Tiongkok hari ini?
Waduh, investor mulai berani teriak!
Sedang beredar surat terbuka dari Kamar Dagang Tiongkok (CCC Indonesia) langsung buat Presiden. Isinya benar-benar tamparan keras buat wajah birokrasi kita!
Bayangin aja, mereka terang2an bongkar borok yg dihadepin investor/pengusaha di lapangan:
1. Pungli & Pemerasan: Mereka mengeluhkan adanya praktik korupsi dan pemerasan oleh oknum berwenang yang sudah sangat mengganggu operasi bisnis.
2. Ada denda kehutanan "rekor" sebesar US$180 juta yang dijatuhkan secara sepihak dan dianggap berlebihan.
3. Kebijakan nikel berubah-ubah mendadak sampai bikin biaya produksi melonjak 200%
4. Birokrasi korup. ada masalah, saluran resmi macet, tapi kalau lewat perantara dan pake pelicin baru masalah bisa beres.
Gimana mau ekonomi tumbuh 8% kalau investor aja merasa dirampok dan ga ada kepastian hukum?. Nasib jutaan pekerja sekarang di ujung tanduk karena ketidakmampuan pemerintah menjaga iklim usaha yang bersih. Mana ini Bowo katanya mau sikat korupsi, jangan sampai Indonesia dicap sebagai sarang pungli internasional
surat terbuka dari CCCI bisa dibaca selengkapnya di: https://t.co/yOgVQdAKWr
Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe
Tiba-tiba ada kurir telpon: “Ada paket COD parfum, siapin cash ya.”
Lah… saya merasa tidak pernah pesan parfum itu apa lagi COD . 📦
Ternyata paket itu mengatasnamakan saya, tapi yang dihubungi justru nomor suami saya.
Suami sampai tanya, “Mom, tumben pesen COD?”
Saya langsung bilang, “Hah? Saya ga pernah pesan.” saya pembayaran kalau ga gopay ya virtual account .
Pas kurir datang, saya dan suami temui langsung. Kurir juga tanya, “Ibu pernah pesan ya?”
Kami jawab, “Tidak pernah mas, keluarga kami tidak pernah pesan paket COD.”
Akhirnya paketnya langsung kami tolak dan dikembalikan ke pengirim. Sepertinya ada seller nakal yang kirim barang tanpa dipesan.
Kalau tiba-tiba ada paket COD yang tidak pernah kamu pesan, jangan langsung dibayar.
Tanya dulu ke keluarga dan tolak saja kalau memang bukan pesananmu.
Ternyata masalah di Selat Hormuz ini, ada efek yang lebih luas yang berpotensi lebih parah lagi, dan akan datang dari arah yang gak kita sangka.
Let me explain.
Ini bukan sekedar masalah minyak yang gak bisa dikirim dari Timur Tengah ke Asia/Eropa.
Minyak bumi tu masalahnya banyak sekali produk sampingan dan turunannya. Dan produk-produknya tadi, sangat vital di berbagai industri.
Jadi kita gak akan berhadapan dengan "harga bensin naik" doang
Coba kita list satu-satu ya
(Mungkin gak lengkap, pasti ada yang miss, tapi baca aja, biar kalian pada tau potensial chaosnya)
PRODUK TURUNAN MINYAK
LPG - sekitar 1.5 juta barel per hari. LPG ini kunci utama buat penghangat dan masak di berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia dong. Di Eropa, LPG juga masih dipakai buat penghangat (ada yang LNG juga).
Biaya masak nambah, berarti biaya makan nambah dong?
Naphtha - 1.2 juta barel per hari. Nafta adalah produk turunan yang nanti diolah jadi PLASTIK, serat sintetis, deterjen, sampai bahan kimia pelarut, dll. Setau saya, Asia Timur sudah mulai kekurangan banget. Ditambah kalau gak salah belum lama Chandra Asri, salah satu perusahaan penghasil produk turunan minyak bumi di Indonesia sudah kibar bendera putih.
Implikasinya? Harga consumer goods kayak packaging, baju, bahkan elektronik karena komponennya banyak plastik juga
Produk turunan lainnya - diesel, avtur, dll. Ya kalau ini udah jelas ya. Ongkos transportasi di mana-mana bakal naik. Dan transportasi ini gak cuma buat manusia, tapi juga barang-barang, logistik, dll
Selain minyak, masalahnya daerah teluk juga merupakan eksportir lainnya. Seperti LNG (liquifed natural gas) dan lainnya
Qatar adalah salah satu eksportir LNG terbesar. Dengan sekitar 20% suplai LNG dunia yang dikirim lewat laut. Gas alam ini udah naik berapa puluh persen sejak 1 bulan lalu. Ini jadi masalah di Eropa, karena penghangat dan listrik banyak juga yang pakai LNG
Daerah teluk juga merupakan eksportir PUPUK, mulai dari urea, amonia, dan fosfat. 16-18% ekspor global yang lewat laut, berasal dari sini.
Implikasinya: kesulitan MENANAM bahan pangan. Berarti harga pangan naik. Terutama di India, Brazil, Cina
PUNCAK MASALAH YANG OVERLOOKED.
Dari proses minyak dan gas, ada produk sampingan berupa SULFUR.
Daerah teluk mengekspor 44-50% sulfur yang dikirim lewat laut. Kalau ini bermasalah juga, maka kelangkaan sulfur bisa naik 2 kali lipat.
Apa implikasinya?
Asam sulfat adalah salah satu bahan industri yang wajib banget
Ketegangan di Selat Hormuz bakal menghantam industri-industri yang bergantung sama asam sulfat
1. Sebagai pupuk. Sulfur penting dalam produksi pupuk. Udah pupuknya sendiri makin susah dapet, sekarang buat produksi pupuk sendiri juga udah susah
2. Ekstraksi logam
Sulfur dibutuhkan di industri COPPER (tembaga), NIKEL, COBALT, LITHIUM.
Tandanya apa?
Tembaga = buat elektronik. Elektronik bakal kena impactnya
Nikel, cobalt, Lithium: Buat batre. Mau batre yang biasa dipake buat senter, sampai batre mobil listrik
3. Manufaktur
Ini yang penting, terutama di jaman AI
Sulfur diperlukan buat manufaktur SEMICONDUCTOR.
Berarti ini potensinya makin mahal aja GPU bang
Penutup:
Saya gak mau banyak komentar.
Beberapa sektor bisa jadi bullish
Beberapa komoditas bisa jadi bullish
Tapi kalau efeknya ke semua harga naik karena kelangkaan, lama-lama chaos juga
Semalam, khatib tarawih ceramah yg bikin gue overthinking..
Gimana kalau selama ini kita tuh cuma lagi pakai headset VR canggih? Dan realita yang kita lihat sekarang hanya sekadar "Simulasi"? 🤯
Dan saat kita mati, VR-nya dilepas, lalu kita terbangun dan menyadari... "Oh, ini toh kehidupan yang SESUNGGUHNYA"
"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui" QS Al Ankabut 64
QS Al Ankabut itu nyebut jelas banget bahwa kehidupan dunia itu cuma GAME, kayak kita itu ada di dalam game RPG (Role-Playing Game) atau Virtual Reality.
Kita seolah-olah adalah player yang lagi login ke dalam game bernama "Dunia". Kita diturunkan ke server ini dengan satu Main Quest yang jelas: Beribadah, jadi manusia yang bermanfaat, dan ngumpulin bekal buat Endgame.
Tapi, instead nyelesain Main Quest, kebanyakan dari kita malah habis-habisan ngerjain Side Questnya. Side Quest-nya emang didesain super menggiurkan. Numpuk harta sampai triliunan, ngejar validasi sosial, gila jabatan, pamer kemewahan.
Kita habis-habisan grinding sampai lupa sama Main Quest-nya. Padahal waktu main (umur) kita di game ini ada limit-nya.
Terus suka kesel kan ngelihat orang jahat, licik, penindas, tapi hidupnya kelihatan "menang" dan enak banget di dunia?
Nah, sadar nggak sih, bisa jadi mereka itu cuma NPC (Non-Player Character) atau obstacle yang emang di-setting buat jadi ujian rintangan buat kita para Player?
Kemenangan orang-orang jahat itu semu. Mereka cuma "kelihatannya" aja menang, tapi ya itu simulasi aja.
Saat timer kita habis (mati), headset VR ini bakal dicopot paksa. Di momen kita "terbangun" di dimensi yang sesungguhnya, semua harta, mobil mewah, dan score duniawi tadi nilainya hangus jadi NOL BESAR.
Sekaya apapun di game, yang dihitung ya pencapaian kita di Main Quest kan? Sia-sia banget kalau waktu yang dikasih malah habis buat ngejar hal-hal fana yang nggak bisa dibawa log out.
Jadi tamparan keras sih buat diri sendiri pas lagi tarawih semalam. Kadang kita terlalu serius mikirin Side Quest sampai lupa kalau ini cuma mampir bentar.
Fokus ke Main Quest, Players. Jangan sampai pas VR-nya dilepas, kita cuma bisa nyesel karena salah prioritas.
Semoga di sisa waktu Ramadhan yang masih singkat ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Indonesia justru jadi negara paling RAWAN kalau terjadi PD III
Kita punya ALKI I, ALKI II, dan ALKI III, yang merupakan jalur pelayaran global, termasuk juga jalur kapal perang.
Kota2 besar di Sumatera terletak di pinggir selamat malaka dan selat karimata, yang merupakan jalur strategis perdagangan dan pelayaran.
Itu Australia kalau mau nyerang Cina harus lewat kita. Dan sebaliknya.
Bahkan Laut Cina Selatan yang merupakan sentrum konflik antara Cina dan Amerika ada di utara perbatasan laut negara kita.
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
Beijing mengumumkan:
“Jika Amerika Serikat atau Israel menyerang Iran, China akan segera menghentikan semua ekspor logam tanah jarang ke AS, sebuah langkah yang dapat melumpuhkan industri militer AS dalam waktu 48 jam.”
Pemantauan sistem lalu lintas kapal tanker minyak internasional menunjukkan bahwa kapal tanker telah berhenti melewati Selat Hormuz.
Iran belum menutup Selat Hormuz. Tapi perusahaan-perusahaan kapal tanker mintak telah menghentikan operasi mereka.
Catat: Ini perang baru berjalan beberapa jam, bagaimana kalau sehari atau berhari dan.... ?