@MeloraSaragi Dulu gak punya pikiran bakalan menikah karena saya tinggal di daerah yang cukup tradisional - dalam standar patriarki saya bukan wanita idaman. Tapi akhirnya nikah, saya nikah umur 20
@tanyarlfes Pernikahan adalah institusi yang mengatur bagaimana masyarakat bersikap sesuai koridornya. Tetapi di era kapitalisme, pernikahan tidak lagi menjadi struktur masyarakat namun gaya hidup - alias terserah gue mau jadi jenis masyarakat kayak apa selama itu nguntungin diri sendiri
@howeverhis Gak menyakiti diri sendiri dan masih hidup tanpa tempeleng diri sendiri in this global condition aja kayaknya udah bagus deh. Aku orangnya learned Helplessness soalnya
@skipbreakfast_ Gak ngeluarin uang lebih dari upah harian aja gue udah seneng, kagak ngarep punya temen atau kehidupan yang gemerlap, hanya berharap besok belum dipecat
@tanyakanrl bukannya lebih enak hidup tanpa laki laki nder? As a woman bisa lebih bebas jungkir balik kesana kemari untuk memperbaiki kualitas hidup dan pilih yang paling cocok
Fenomena layoff di 2026 ini polanya udah geser. Banyak company nge-layoff BUKAN karena mereka lagi rugi atau kehabisan duit.
Ini murni restrukturisasi strategis: Anggaran dialihkan dari headcount (gaji karyawan) ke investasi infrastruktur AI & data center.
Sekarang investor gak cuma liat revenue growth, tapi nyari efficiency ratio. Dampaknya tren tim makin dibuat lean. Satu orang yang paham sistem & utilitas AI ditargetkan bisa handle output yang dulunya butuh 3-5 orang. Human-to-output ratio lagi dikurasi ketat.
Kalau cuma modal "kerja keras manual" tanpa tahu cara nge-leverage teknologi, posisi kita bakal makin rentan.
Di era no-backfill kayak sekarang, ini 3 skill utama yang bisa lu kuasai biar tetap punya visibility & bargaining power tinggi di job market:
System-Building & Automasi Workflow
Bukan cuma bisa input data atau ngerjain tugas harian secara manual.
Tapi bisa ngerancang sistem kerja yang otomatis. Lu harus paham cara ngubungin satu tools ke tools lain (paham data pipeline, AI prompts chain, atau minimal makro/automasi basic) biar kerjaan tim efisien tanpa human error.
Data-Driven Problem Solving (Analisis Makro & Mikro)
Bisa baca grafik atau bikin laporan visual yang cantik dan narik insight tajam dari data tersebut untuk motong cost atau nyari celah revenue baru buat bisnis. Perusahaan butuh orang yang bisa ngasih rekomendasi strategis, bukan cuma tukang rekap.
High-Value Communication (Visibility & Impact)
Di era tim serba ramping, kemampuan buat keliatan itu krusial. Lo harus bisa nge-translate hal teknis yang ribet jadi bahasa bisnis yang simpel ke stakeholders. Kemampuan navigasi konflik, coaching tim bawah agar high-performing, dan mempresentasikan dampak nyata (business impact) kerjaan ke manajemen adalah penyelamat terbaik dari badai layoff.
asli... gw benci banget tiap orang yang sat set dan lucky soal karir selalu pake tone seolah-olah kita yang belom dapet kerja tuh KURANG USAHA, KURANG GACOR, KURANG VALUEABLE. tapi iya deh lau emang paling gacor karirnya paling usaha paling mantep... #salut