"Kayak gini?" tanyanya ragu, tidak tahu harus menaruh badannya di mana. "Nanti keberatan? Kalau sesek gimana?" mulut memang sibuk bertanya memastkan semuanya baik tetapi vaginanya merespon begitu hebat: geli dan basah, karena membayangkan apa yang dijanjikan @seluwara kepadanya.
Atau mungkin Rahagi hanya membutuhkan alasan untuk merasa bahwa keinginan itu boleh ada, untuk merasa bahwa kini ia merangkak demi mengukung Kamael serta merta memposisikan kemaluannya tepat di atas mulut Kamael yang menunggu di bawahnya itu dibolehkan.
"Kalau mau bikin Kakak becek sampai pipis kayak gini," Rahagi lalu menurunkan celana membiarkan dirinya telanjang dari pinggang hingga kaki, tangannya menggeser milik Kamael untuk memberi ruang agar jarinya bisa masuk ke dalam vaginanya.
Kecil sekali suaranya, bahkan lebih kecil dari bisikan. Andai Kamael tidak mendengar barang sedetik saja, pengakuan Rahagi akan "Memek," yang ada di balik celananya tidak akan terdengar. "Mau lihat?"
Sebab pada nyatanya Rahagi sama. Sama gila. Sama sangenya kepada @seluwara.
Rahagi merapatkan kedua pahanya tidak ingin reaksi tubuhnya disadari oleh yang lebih muda, meski ia rasa percuma sebab tangan besar itu menggenggam pahanya dengan erat.
Dilema, kah, kamu Rahagi atau... gengsi? Kesempatan sudah di depan mata untuk mendapatkan apa yang sudah dibayangkan selama ini. Tinggal buka lebar kakimu dan biarkan Kamael buat nyata janjinya dengan lidah atau jarinya—persis seperti bunga tidurmu, bukan? @seluwara
Kamael sungguh kurang ajar, sangat kurang ajar menyentuhnya tanpa permisi. Seolah menunjukkan bahwa tubuh Rahagi memang miliknya untuk didamba.
“Udah, lepasin Kakak. Kakak mau pulang.” Meski begitu Rahagi tidak juga beranjak dari duduknya di atas pangkuan.
@seluwara “Kan Adek yang tiba-tiba narik Kakak buat duduk dipangku,” dihadiahi cubitan gemas pada lengan milik Kamael. Lagi-lagi minta cium, kayak enggak ada permintaan lain aja—ngentot gitu, ehem, jangan, udah cium aja.
“Tadi pagi udah dicium, bosen ah.”
Mau dicoba? Mau dipancing? Meski berlagak tidak terpengaruh, Rahagi sering membayangkan apa yang akan terjadi jika Kamael meluapkan emosinya——Apakah kaki tangannya akan diikat sehingga Rahagi tidak bisa lari dari sini?
"Ada kok, Roti nungguin Kakak pulang." @seluwara
Terlalu lelah rupanya Rahagi sampai-sampai tertidur di atas ranjang milik si adik kecil kesayangannya. Saat kepala ditolehkan, ia mendapati @seluwara masih sibuk dengan sketsanya.
Lucu sekali melihatnya yang konsentrasi hingga lidahnya ikut keluar begitu. “Adek, masih?”
Memang Kamael tak pernah memperlakukannya dengan kasar meski penolakan demi penolakan telah ia lontarkan. Namun seperti air yang memenuhi sebuah bejana, kesabaran pun tentu memiliki batas. Entah sampai kapan Kamael bisa menelan semuanya.