Dan akhirnya The Last House pun ikut gabung dengan klub horor original Netflix yang cuman jago main di premis tapi berantakan di eksekusi. Sebut saja nama-nama anggota lainnya macam. In the Tall Grass, Bird Box, The Silence, dll.
Ada keluarga di Seattle yang suatu hari tiba-tiba kejebak di dalam rumah mereka sendiri setelah kedatangan fenomena hujan misterius. Gak bisa keluar, mereka kudu bertahan hidup dengan persediaan sumber daya yang makin menipis, dan juga ancaman dari luar yang juga masih belum jelas.
Jujur, harus diakui, premisnya keren. Bahkan cukup keren untuk sampai bikin kita buat terus nonton meski udah mulai ngerasa filmnya cuman jalan di tempat. Ya, karena kita terus berharap kalau misteri yang dibangun dengan baik sejak awal bakal ngasih
payoff yang sepadan. Sayangnya, nggak.
The Last House sebenarnya punya potensi menjadi cosmic horror ala Lovecraft yang sama besarnya dengan potensinya jadi horor ekologi dengan segala high concept yang ditawarkannya. Awalnya, sutradara Louis Leterrier udah bikin setup-nya yang cukup menjanjikan. Atmosfer klaustrofobik, nuansa lockdown ekstrem yang mengingatkan sama pandemi Covid-19, dicampur elemen survival dan misteri. Bahkan ia juga ngebawa casting sekaliber Greta Lee dan Wagner Moura sebagai pasangan ortu yang ngasih kita rasa stres, keputusasaan, dan gimana usaha buat ngelindungi dua anak mereka.
Tapi masuk ke paruh keduanya, The Last House mulai kehilangan momentum. Ceritanys jadi mulai boring, cuma berputar-putar di drama domestik yang repetitif: cari makanan, ngelola sumber daya, dan juga konflik antar anggota keluarga yang gak pernah kuat dan penting untuk dipedulikan. Dan ketika ia akhirnya mulai ngejelasin apa yang sebenarnya terjadi, misterinya malah berubah jadi sekadar plot device yang cuma nganterin ceritanya biar bisa selamat sampai third act dan ending tanpa penjelasan yang berarti. Ngomongin soal third act, ini jadi bagian paling buruk The Last House. Horor survival berubah jadi aksi yang serba maksa dan banyak momen yang juga seperti ngejek logika kita. Lalu endingnya…….apa itu coba?!
Akhirnya, The Last House jadi sajian horor survival medioker yang punya potensi, tapi gagal buat manfaatinnya. Ia seperti potongan dua bagian yang gak nyatu dengan baik: setengahnya drama survival yang cukup lumayan, setengahnya lagi konsep tinggi yang gagal dieksekusi, dan ngebuang percuma casting bagusnya.
2,5/5
males bgt gue bahas ginian, this is inappropriate tapi julidnya udah gak wajar sih keblinger liat mahar sejuta sampai ngatain mokondo segala macem, padahal hantaran dia aja ada tas dan flat gucci yang harganya bisa puluhan juta sapa tau cincinnya jg diamond yang gak dimasukin ke mahar. kalian kan gatau kesepakatan detail mereka seperti apa. kalau si cewek mau mengikuti sunnah dengan meringankan mahar emang kenapa sih? dipikir mahar itu ajang suami mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya kah. meringankan mahar juga gak otomatis berarti dia gak dihargai. nilai seorang perempuan juga gak bisa diukur dari nominal mahar. kalau dua-duanya sepakat dan ridha, yaudah atuh.
the amount of unreasonable hate train and worry ke orang-orang yang privilege, ilmu, dan finansialnya lebih dari kalian tuh gimana ya 😭 apa dipikir mereka nggak bisa mikir sendiri kah? hasad banget wkwkw
prabs:
"menurut saya, kecerdasan bukan berasa dari sekolah. buktinya pak bahlil"
"sekolahnya ga terlalu terkenal, kampusnya kalau dicari di google udah gada. jadi sekolahnya dmna tidak menjamin, udah dibuktikan"
TEMENNYA NGAPAIN MALAH IKUTAN 😭
Si A lagi tiduran nungguin temennya di kursi rumah sakit, pas bangun lehernya nyangkut. Udah coba gimana pun tetep gagal, terus temennya si B dateng.
Si B mau kasih tunjuk “gini loh keluarinnya” TAPI MALAH IKUT NYANGKUT JUGA (jujur kocak bgt kan si A gabisa liat juga ya??? 😭)
Endingnya dengan bantuan para security rumah sakit, mereka bongkar kursinya dan keduanya bisa lepas 🙏🏻
Film Avengers: Endgame akan rilis ulang dengan judul AVENGERS: ENDGAME ENCORE.
Bakalan ada footage baru dan post credit yang menghubungkan dengan Avengers: Doomsday. Tayang akhir September 2026.
Indonesia? Entahlah. Kita tunggu saja.
#SiPalingMarvel
Dulu Go Eun pernah pingsan katanya di kelas, terus Sangyi panik, dia lari sambil teriak "Go Eun" tapi jempol nya malah kesandung. Semuanya jadi pada nyamperin Go Eun.
Akhirnya dibawa ke UKS, tapi yang parahnya Sangyi meanwhile Go Eun baik-baik aja 😭
Nggak semua aktor itu langsung bisa nyaman tampil di variety show.
Aku bisa bilang begini karena pernah lihat aktor yang aku suka sampai banjir keringat karena gugup. Memang dia tipe orang yang gampang berkeringat, tapi waktu itu kelihatan banget kalau rasa nervous-nya bikin kondisinya makin parah.
Makanya aku sedih lihat ada komentar yang bilang, “jangan berlindung dengan alasan introvert.” Padahal jadi introvert bukan berarti cari alasan. Banyak orang yang memang butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi di lingkungan baru atau saat harus tampil di depan banyak orang.
Gugup, canggung, atau kaku di awal itu bukan berarti nggak niat atau nggak menghargai acara. Bisa jadi mereka memang sedang berusaha mengatasi rasa gugupnya. Jadi, menurutku nggak ada salahnya kita kasih sedikit pengertian daripada buru-buru menghakimi. 🥹
WAJIB NONTON BUAT CIWI-CIWI BIAR GA GAMPANG HALU DAN KEBAPERAN. 😭
Suka banget sama pesan film ini karena ngingetin kalau kita sering banget overanalyze mixed signals. Padahal seringnya jawabannya jauh lebih simpel: he’s just not that into you.
Film ini lumayan jadi tamparan buat yang suka bikin seribu alasan/romanticizing orang yang dari awal emang nggak milih kita.