Ia menelan ludah, dan tangannya tetap enggan melepas genggam. Matanya masih di sana, seakan malam mendadak menyisakan satu hal yang ingin terus ia pandang.
Karena hari sudah cukup malam, Diane memilih untuk tidak mengetuk pintu. Ia hanya meletakkan keranjang kecil beserta surat di depan pintu tetangga-tetangganya, memastikan semuanya aman sebelum berbalik.
“Hopefully they’ll like it,” gumamnya pelan sebelum kembali ke unitnya.
Karena hari sudah cukup malam, Diane memilih untuk tidak mengetuk pintu. Ia hanya meletakkan keranjang kecil beserta surat di depan pintu tetangga-tetangganya, memastikan semuanya aman sebelum berbalik.
“Hopefully they’ll like it,” gumamnya pelan sebelum kembali ke unitnya.
@rafisqism Yang dipanggil segera menoleh, ia tersenyum lebar sembari menepuk punggung sang Adam, “Sini, sini! Baru pulang kerja apa baru pindahan?” Ia mendekatkan makanannya pada Nafis.
@noctaskara Ponsel masih di genggamannya, masih mengamati grup yang tak pernah sepi. Ia melihat salah satu pesan dari Askara, dan segera saja membalasnya, “Kopi racun tikus. Sini, Ka, kita minum bareng.” Dengan kekehan saat mengirim.
@EinsoleiIIe “Relatable! Habis ini masuk gih, terus istirahat. Nyobain kasur barunya,” Damar melihat Puan di sampingnya ini seraya tersenyum, “Untung pake jaket juga kamu, kalau masuk angin, berabe.”
@GURATLUIS Dirinya yang sudah ramai-ramai duduk bersama yang lain sesekali membuka grup percakapan yang sangat ramai itu. Ada satu pesan dari salah satu penghuni yang langsung ternotis, jarinya pun cekatan untuk membalas.
“Tenang aja, Bang! Besok kita parti lagi!” Terkirim.
ㅤㅤ“Ciel. Glin. Daddy lagi kerja.”
ㅤㅤ Si sulung dan si tengah sudah ribut sekitaran tiga puluh menit lamanya. Semakin parah, saat si Kakak menjambak rambut adiknya.
ㅤㅤ Bukan lagi teriakan, suara tangis pun pecah. Bokong yang sedari duduk itu bangkit dari duduknya.
@morosesaint Yang sedang duduk hanya celingak-celinguk, menunggu orang-orang yang dipanggilnya datang.
“Eh, Bang,” Sapanya ketika ia melihat ada yang melewatinya.
“Minum Bang? Gorengan Bang? 2000 dapet 4, Bang.” Lanjutnya, dengan bercanda.
@subtleblur Dwinetranya segera saja menangkap figur yang tampak tidak asing itu—yang melewatinya begitu saja.
“AUSTIN!” Panggilnya,
“Eh, Austin kan... Bener?” Kali ini suaranya lebih redup, takut salah orang.
MENDUDUKKAN DIRI di depan gedung District : 99, lebih tepatnya di Pos Satpam sembari membawa cemilan banyak.
“Asupan gorengan, martabak sama kopi ada di Pos Satpam! Siapa yang mau ngambil? Sini. Ditunggu sampai pagi! Kita parti!”
Pesan tersebut dikirim di grup setelahnya.