βkami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharapβ
βucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Ada yang ngespill surat pemecatan wowo dari TNI.
Salah satu alasannya:
"sering ke Luar Negeri tanpa ijin dari Kasab (Kepala Staf Angkatan Bersenjata) ataupun Pangab (Panglima Angkatan Bersenjata)"
Ohh pantes moment sih ini haha
Guys, ada satu era dalam sejarah Indonesia modern yang menurut gue paling sering disalahpahami baik oleh yang terlalu memujinya maupun yang terlalu meremehkannya.
Era Susilo Bambang Yudhoyono.
2004-2014.
Sepuluh tahun.
Dan kalau mau jujur tentang apa yang terjadi di era itu jawabannya tidak sederhana.
Tapi ada satu hal yang sulit dibantah:
Indonesia melewati dua krisis global di era itu dan tetap tumbuh positif.
Dua kali.
Tidak banyak negara yang bisa bilang itu.
Mulai dari konteksnya dulu:
SBY naik ke kekuasaan di 2004 ketika Indonesia belum benar-benar pulih dari trauma 1998.
Ekonomi memang mulai bergerak, tapi kepercayaan publik terhadap institusi masih rapuh.
Harga kebutuhan pokok fluktuatif.
Lapangan kerja terbatas.
Dan rakyat masih trauma dengan ingatan antrean panjang di depan bank yang hampir bangkrut.
Dan dalam kondisi seperti itu dua bulan setelah dilantik tsunami Aceh menghantam.
26 Desember 2004.
Ratusan ribu jiwa hilang.
Ujung barat Sumatera rata dengan tanah.
Dan seorang presiden baru yang belum genap 100 hari menjabat harus menghadapi bencana terbesar dalam sejarah Indonesia modern.
Dan ini yang paling mencirikan gaya kepemimpinan SBY:
Dia tidak rapat di Jakarta.
Dia terbang ke Aceh.
Menyusuri reruntuhan.
Memegang tangan korban yang kehilangan segalanya.
Dan menahan air mata di depan kamera dunia.
Lalu dalam hitungan hari dia membentuk BRR, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Nias.
Membuka pintu selebar-lebarnya bagi bantuan internasional.
Lebih dari 50 negara datang.
Dan seluruh proses ditangani secara terbuka dan transparan.
Hasilnya: penanganan tsunami Aceh disebut oleh banyak lembaga internasional sebagai salah satu respons terbaik terhadap bencana kemanusiaan dalam sejarah.
Dan yang tidak pernah direncanakan siapapun:
dari reruntuhan Aceh, lahir perdamaian dengan GAM yang sudah berkonflik lebih dari 30 tahun.
Perjanjian Helsinki ditandatangani setahun setelah tsunami.
Bencana yang harusnya memperlemah pemerintahan baru justru menjadi momentum perdamaian bersejarah.
Dan ini kebijakan yang paling tidak populer tapi paling benar:
SBY tahu bahwa anggaran negara sedang digerus habis oleh subsidi energi.
Harga minyak dunia sedang tinggi.
Dan kalau tidak ada perubahan tidak akan ada uang untuk membangun sekolah, irigasi, jalan, atau rumah sakit.
Dia memilih langkah yang tidak populer:
mereformasi subsidi BBM.
Protes meledak.
Demonstrasi di mana-mana.
Tapi SBY tetap di jalurnya.
Dan uang yang dihemat dari reformasi subsidi dialihkan ke program-program yang lebih tepat sasaran.
Dan untuk memastikan keputusan-keputusan ini diambil dengan dasar yang kuat dia memanggil ekonom terbaik yang ada. Sri Mulyani. Boediono.
Ini bukan gaya populis yang mengandalkan tepuk tangan. Ini gaya teknokrat yang mengandalkan data.
Dan ini yang paling relevan dengan kondisi Indonesia sekarang:
Krisis keuangan global meledak dari Wall Street. Lehman Brothers bangkrut.
Pasar saham global anjlok.
Negara-negara maju kocar-kacir menyelamatkan perbankan mereka.
Semua orang mengira ini adalah 1998 jilid dua untuk Indonesia.
Yang terjadi:
Indonesia tetap tumbuh 4,6%.
Di saat banyak negara mengalami pertumbuhan negatif Indonesia tumbuh positif.
Untuk kedua kalinya dalam sepuluh tahun, Indonesia melewati krisis global tanpa jatuh.
Caranya:
stimulus fiskal yang langsung menyasar sektor produktif.
BLT untuk memastikan konsumsi masyarakat kecil tidak rontok.
Bank Indonesia di bawah Boediono menjaga kurs rupiah tanpa drama besar.
Cadangan devisa dijaga.
Suku bunga diatur agar tidak menyulitkan dunia usaha.
Dan semua itu dilakukan tanpa kegaduhan.
Tanpa pidato bombastis.
Tanpa menyalahkan pihak asing.
Tanpa mengubah definisi "stabil" agar kondisi buruk terlihat baik.
Dan ini yang paling sering dilupakan orang soal era SBY:
Dia adalah presiden yang menaikkan gaji guru secara signifikan untuk pertama kali dalam sejarah modern Indonesia.
Tahun 2004 gaji guru PNS sekitar Rp1 sampai Rp1,5 juta per bulan.
Dalam lima tahun pertama naik dua kali lipat.
Ditambah tunjangan sertifikasi yang nilainya setara satu kali gaji pokok.
Guru yang sebelumnya harus kerja sampingan sebagai petani atau penjual kelontong untuk bertahan hidup akhirnya bisa fokus penuh di ruang kelas. Bisa membeli rumah.
Bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.
Dan bukan hanya gaji.
Dana BOS diluncurkan dana langsung ke sekolah sehingga sekolah tidak lagi membebankan biaya operasional ke siswa. Ratusan ribu anak dari keluarga sederhana bisa tetap bersekolah karena program ini.
Jamkesmas diluncurkan layanan kesehatan gratis bagi keluarga miskin. Yang kemudian menjadi cikal bakal BPJS.
PNPM Mandiri dana langsung ke desa dengan masyarakat yang menentukan sendiri untuk apa dipakai. Bukan top-down dari Jakarta. Tapi bottom-up dari warga.
Ini bukan program populis yang dibuat untuk dipamerkan.
Ini program yang dirancang untuk benar-benar sampai ke yang membutuhkan.
Dan ini kontras yang paling tajam dengan kondisi sekarang:
Di era SBY β ketika krisis global melanda pemerintah jujur kepada rakyat.
Tidak ada pejabat yang menyebut media internasional "bego". Tidak ada yang mengatakan "orang desa tidak pakai dolar" sebagai respons terhadap pelemahan mata uang.
Tidak ada yang mengganti definisi "stabilitas" agar angka buruk terlihat baik.
Yang ada:
Sri Mulyani berdiri di depan forum G20 dan menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia apa adanya. Boediono mengelola kebijakan moneter dengan kalkulasi yang bisa diverifikasi.
Dan SBY menghadapi forum internasional dengan kepala tegak karena datanya mendukung klaimnya.
"Komunitas yang baik tidak dibangun dengan bombastis. Tapi dengan kepercayaan yang dibangun pelan-pelan dari konsistensi."
Dan ini kritik yang fair karena SBY bukan tanpa cela:
Reformasi birokrasi berjalan lambat.
Terlalu lambat.
Mesin pemerintahan terasa berat dan bergerak sangat lamban.
Beberapa keputusan penting tertunda terlalu lama karena SBY terlalu panjang pertimbangannya.
Reformasi hukum tidak secepat yang diharapkan. Dan beberapa orang di sekelilingnya tersandung kasus hukum menciptakan kesan bahwa dia terlalu lunak kepada lingkaran dalamnya.
Ini adalah kelemahan yang nyata. Bukan untuk dibela tapi untuk dipahami secara jujur.
Tapi ini yang paling tidak bisa dibantah:
Ketika SBY turun dari kursi presiden di 2014 Indonesia tidak sedang dalam kekacauan. Ekonominya tumbuh.
Konflik politik tidak meledak.
Rating utang negara meningkat dari BB- menjadi investment grade untuk pertama kali dalam sejarah artinya dunia keuangan internasional akhirnya mempercayai Indonesia sebagai tempat yang layak untuk investasi jangka panjang.
Indonesia masuk G20 dan duduk sejajar dengan negara-negara ekonomi terbesar dunia. Satu-satunya dari Asia Tenggara.
Benedikt Anderson ilmuwan terkenal dari Amerika β bertanya kepada mahasiswa Indonesia tahun 1999: siapa pahlawan nasional masa kini?
Mereka menjawab Iwan Fals.
Tapi kalau ditanya siapa pemimpin yang paling stabil dalam sejarah reformasi Indonesia banyak ekonom akan menjawab SBY.
Ngemut ini kak!
Degirol atau sp troches. Ini aman krn antiseptik oral yg emg dibuat utk sakit tenggorokan.
Ditambah prioritaskan istirahat/tidur, banyak minum air putih (terutama yg anget), mam makanan anget berkuah, buah sayur, dll.
Yg penting JANGAN FG troches (frame ketiga)
Footage of an Iranian ballistic missile slamming into the headquarters of the US Navy's 5th Fleet at Naval Support Activity (NSA) Bahrain earlier today.
@studywithzhie Aamiin semangat kak, saya dulu PTN jalur D3 krn tidak lolos snmptn. Sempat menempuh S1 kampus swasta, skrg alhamdulillah bisa kuliah lg S2 di PTN. Always the hard way, but tetap percaya Allah mendengar doa kita.
@drlrst Kita haji dan umroh ke Ka'bah karena Allah perintahkan kesana. Seandainya Allah perintahkan ke Tanjung Priok, ya kita pergi ke sana. Makanya belajar agama itu penting