gue 17 tahun jadi actor juga gabakal bisa kayaknya acting dengan muka setenang ini kalo denger ocehan lawan bicaranya gitu, pasti muka gue MERENGUTTTTT
Lagi, lagi dan lagi closing statement yang tepat sasaran dari wakil ketua BEM UI Fatimah Azzahra persis berdiri dan berbicara disamping orang dekat presiden. ❤️✊☺️
Guys, ada satu pertanyaan yang hampir semua perempuan pernah dengar dan hampir semua perempuan benci mendengarnya:
"Jangan terlalu hebat nanti susah dapat jodoh."
Dan Gubernur Sherly Tjoanda perempuan yang memimpin provinsi, mantan ibu rumah tangga, tiga minoritas sekaligus:
perempuan, Tionghoa, Kristen menjawabnya dengan cara yang menurut gue paling jujur dan paling tidak klise yang pernah gue dengar.
Jawaban pertama yang langsung mengejutkan semua orang:
Ketika ditanya soal memilih pasangan, Sherly dengan sangat tenang berkata:
I'm a very logic woman.
Saya tidak ada di genre itu. Saya bahkan ketika memilih pasangan pun memilihnya dengan sangat logis.
Bukan berarti tidak ada perasaan.
Tapi perasaan saja tidak cukup untuk dijadikan dasar keputusan terbesar dalam hidup.
Checklist Sherly sebelum memutuskan seseorang layak menjadi pasangan:
Stabilitas ekonomi bukan soal kaya, tapi sudah stabil dan bisa diandalkan. Kematangan emosi bukan laki-laki yang masih meledak-ledak atau tidak bisa mengatur dirinya sendiri.
Hubungan dengan Tuhan bagaimana dia menjalankan tanggung jawab spiritualnya.
Hubungan dengan keluarga karena cara seseorang memperlakukan keluarganya adalah cara dia akan memperlakukan lo.
Dan satu kriteria yang paling menentukan dari semuanya:
"Kita harus bisa menghormati dia.
Kalau sejak awal kita tidak bisa menghormati jangan berharap setelah menikah kita bisa menghormati."
Kenapa rasa hormat lebih penting dari cinta dan ini yang paling dewasa:
Sherly menjelaskan sesuatu yang sangat jarang dibicarakan secara terbuka: love language laki-laki dan perempuan itu berbeda secara fundamental.
Perempuan menurut Sherly sebagian besar love language-nya adalah perhatian. Merasa diperhatikan, didengar, diutamakan.
Laki-laki love language utamanya adalah dihormati.
Dia butuh merasa dihargai dan diakui oleh pasangannya.
Dan kalau dari awal lo tidak bisa menghormati seseorang tidak peduli seberapa besar rasa suka lo pernikahan itu akan menjadi pertempuran yang tidak ada ujungnya.
Kita tidak bisa kontrol cinta itu datang atau tidak. Tapi kita bisa memilih untuk memberikan hati kita kepada seseorang yang memang layak mendapatkannya.
Soal mitos "jangan terlalu hebat nanti susah jodoh" dan ini jawaban yang paling tepat:
Sherly tidak membantah dengan argumen feminis yang panjang.
Dia menjawabnya dengan logika yang sangat sederhana:
Kalau lo sudah punya paket komplit brain, beauty, behavior bargaining power lo tinggi.
Lo tidak perlu mengejar siapapun.
Justru lo yang akan dicari.
"Bukan kamu yang nguber orang.
Orang yang punya paket komplit dia yang diuber orang."
Dan Guru Grooming menambahkan dengan sangat lugas: tiga penyebab utama perceraian di seluruh dunia adalah finansial, perselingkuhan, dan perilaku buruk.
Ketiga-tiganya berkorelasi langsung dengan seberapa baik lo memilih pasangan berdasarkan brain, beauty, dan behavior bukan berdasarkan perasaan sesaat.
Yang paling penting: menempatkan diri dengan benar:
Sherly tidak bilang perempuan harus merendahkan diri supaya laki-laki tidak terintimidasi. Tapi dia juga sangat jelas tentang satu hal:
"Perempuan itu harus pintar menempatkan diri. Sepintar apapun istri dia harus menghormati suaminya."
Ini bukan soal siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Ini soal bagaimana sebuah sistem bisa berjalan dengan baik ketika semua pihak memahami perannya dan menjalankannya dengan integritas.
Dan satu hal yang paling krusial: jangan pernah menikah dengan harapan bisa mengubah seseorang setelah menikah.
"Yang terjadi sebelum menikah itu yang akan lo lihat setelah menikah.
Jangan mulai sesuatu yang lo tidak yakin bisa lo pertahankan."
Perempuan hebat tidak susah dapat jodoh karena dia terlalu hebat. Dia susah dapat jodoh karena standarnya tinggi dan itu bukan masalah yang perlu diperbaiki.
Standar tinggi bukan kesombongan. Itu adalah hasil dari mengenal diri sendiri dengan baik tahu nilai diri, tahu apa yang dibutuhkan,
dan tahu bahwa memilih pasangan yang salah jauh lebih mahal harganya daripada menunggu lebih lama untuk yang tepat.
Sherly Tjoanda bukan hanya membuktikannya dalam karir politiknya. Tapi juga dalam cara dia memandang cinta, pasangan,
dan komitmen dengan logika yang jernih, prinsip yang tidak mudah digoyahkan, dan keberanian untuk tidak mengikuti narasi yang tidak masuk akal.
"Jangan nguber orang.
Jadilah seseorang yang layak diuber."
benci bgt sama orang yang suka ngeremehin perasaan orang lain, kayak “gitu doang nangis, gitu doang sakit hati, gitu doang ngeluh, gitu doang stress”. padahal perasaan orang tuh beda-beda, hal yang menurut lu kecil bukan berarti menurut orang lain juga kecil.
Gue lagi ngantri di minimarket malem malem, banyak muka orang-orang yang kelihatan capek abis pulang kerja.
Ada seorang cowok ke kasir, beli kopi starbucks kaleng sama Marlboro merah. Pas kasir nyebutin totalnya, dia reflek buka MyBCA, cek saldo, terus ngedumel “Anjir, tipis banget.” Tapi habis bayar dia keluar dan foto minuman ama rokoknya dengan caption “late night grind”.
Masalahnya, pemandangan kayak gitu tuh kejadian tiap malem di kota besar. Antrian minimarket penuh anak kantoran yang kelihatan rapi dan “sibuk”, tapi di balik itu banyak yang hidupnya kayak etalase. Dari luar keliatan mapan, dari dalem saldonya ngos ngosan. Gaji UMR tapi lifestyle sok SCBD. Beli kopi botolan mahal di minimarket padahal di rak sebelah ada yang lebih murah. Ambil snack overprice cuma karena packagingnya lucu dan keliatan estetik kalau difoto. Katanya biar nemenin “late night grind”, padahal yang digrind itu gengsi, bukan masa depan finansial.
Yang bikin miris, semua ini sering dibungkus narasi “self reward” dan “yang penting nikmatin proses”. Padahal jujur aja, itu sering cuma topeng buat nutupin rasa takut keliatan biasa aja. Takut kalau story cuma isi air mineral dibilang hidupnya gitu gitu aja. Takut dianggap ga level kalau ga kelihatan sibuk, capek, produktif. Akhirnya yang dikorbanin bukan rasa gengsi, tapi logika finansial sendiri. Story-nya rapi, tapi alur duit masuk keluar hidupnya ga pernah dirapiin.
Pahitnya gini. Dunia ga ngasih bonus cuma karena lu upload caption “late night grind”. Sistem hidup ga peduli lu keliatan capek kerja atau engga. Yang dihitung itu seberapa kuat lu berdiri pas hidup lagi ketat. Kalau tiap belanja kecil aja lu harus cek saldo dulu, tapi tetap maksa beli yang mahal demi kelihatan “lagi hustle”, itu bukan lifestyle, itu tanda lu lagi maksa citra yang ga sebanding sama realita. Lu lagi beli validasi sosial pakai napas masa depan finansial lu sendiri.
Ini keras, tapi perlu. Gaji UMR tapi pengen hidup kayak anak SCBD itu bukan mimpi besar, itu ilusi mahal yang kelihatannya receh di kasir minimarket. Kopi mahal hari ini mungkin keliatan kecil, tapi kebiasaan ngejar image tiap hari itu akumulasi stres versi premium. Kalau lu ga berani jujur sama dompet sendiri sekarang, gimana ceritanya lu mau naik kelas nanti? Coba puasa gengsi sebentar. Pilih yang masuk akal, bukan yang kelihatan. Stop nitipin masa depan finansial lu ke story 15 detik. Yang keliatan “grind” di antrian minimarket belum tentu lagi bangun masa depan. Dan yang beneran lagi naik kelas, seringnya justru ga perlu kelihatan sibuk di story.
[🎧] Ziva Magnolya has now surpassed 1 Billion streams on spotify across all credits!
-Magnolya : 583,051,422
-Merangkai : 169,671,450
-Single (non-album) : 263.481.112
TOTAL : 1.016.203.984