Kelas menengah yang menyusut membuat kegelisahan bertambah. Namun, kegelisahan tidak selalu berakhir di jalan. Temuan kami menunjukkan bahwa di daerah dengan penetrasi internet yang tinggi dan ruang media sosial yang lebih bebas, demonstrasi justru cenderung lebih sedikit. Mengapa? Tulisan saya bersama Maria Monica Wihardja dan Abror Tegar Pradana di Fulcrum
https://t.co/8fSB0ixumQ
Peringatan darurat 🚨🚨🚨🚨
Begal udah masuk jalan protokol Rasuna Said arah Sudirman
Gimana gak meraja rela, polisinya sibuk nyuci ompreng dan goreng tempe
Tentara nya sibuk jadi kasir Koprasi dan Pejabatnya sibuk korupsi
Gibran ngabekan ditaro dipojokkan saat rapat kabinet
Rakyat nya berdarah darah, pajak naik keamanan sulit 😞
Pukimak betul kalian ini. Berkelahi dan saling mempermalukan satu sama kalian lalu cipokan didepan kami. Besok-besok jangan lagi gunakan kalimat ‘Kita ini negara hukum’. Kalian menunjukkan ini bukan negara hukum tp ini negara milik nenek klean.
Kita harus mengakui, Febrie Adriansyah, mental-nya bukan kaleng-kaleng.
Gak mental 'tempe'.
Bayangi, rumah dijaga TNI. digeledah Polri di belasan lokasi. namanya nyangkut di tiga kasus korupsi gede sekaligus.
Isu mundur udah kemana-mana...
tapi pas dia berdiri di podium, nadanya tegas dan datar.
Nggak ada gemetar, nggak ada defensif berlebihan.
Soalnya ya kalau orang beneran kepepet, biasanya reaksinya dua:
Panik atau Ngeles
Ditanya soal mundur, dia nggak bilang:
"nggak, saya nggak mundur" gamblang gitu.
Dia malah muter, "saya masih terima perintah dari Jaksa Agung."
Terus dia juga pinter milih fokus.
Alih-alih ribut bela diri soal rumah Sentul, emas, duit yang ketemu, dia lempar semua ke "yang penting proses hukum jalan, kasus prioritas negara jalan."
Dan jangan lupa settingnya-> dia pake seragam dinas, berdiri di kantor sendiri, bukan ngumpet atau cuma kirim rilis.
Itu semua kesan yang dia bangun sengaja:
Saya masih di sini, masih pegang kendali.
Kalau sebutanya, bukan 'psychological war', lalu apa ini guys?
LSE bukan kampus yang megah dengan halaman luas. Ia menyatu dengan kota London. Gedung-gedungnya berdiri di antara jalan-jalan yang sibuk, seolah mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah jauh dari kehidupan sehari-hari.
Di sudut kampus berdiri patung globe, simbol yang terasa tepat bagi sebuah universitas yang sejak awal melihat persoalan dunia sebagai ruang belajar bersama. Beberapa langkah kemudian ada Sir Arthur Lewis Building, sebuah penghormatan kepada ekonom peraih Nobel yang mengubah cara kita memahami pembangunan dan transformasi ekonomi di negara berkembang.
Di lorong Department Of Economics , terpajang wajah-wajah yang telah membentuk sejarah pemikiran ekonomi: Friedrich Hayek, John Hicks, Arthur Lewis, James Meade. Kampus ini juga pernah menjadi tempat dari Ronald Coase, Amartya Sen, Christopher Pissarides, George Akerlof, dan banyak lainnya. Mereka mengingatkan bahwa gagasan besar lahir dari keberanian untuk mempertanyakan, bukan sekadar menerima. Senang dan terhormat menjadi bagian dari LSE
Porn is designed to drain ambition and self-control.
Modern feminism often rewards hostility toward traditional masculinity and family values.
Abortion became normalized when society stopped teaching responsibility and moral accountability.
Political tribes thrive by turning neighbors into enemies.
Instagram exposes how much of modern life is built on image, validation, and performance.
TikTok reveals the consequences of a culture addicted to attention.
Celebrity culture keeps people obsessed with famous strangers instead of improving their own lives.
Pharmaceutical giants make billions from a population that stays chronically unwell.
Healthcare systems often protect institutions before patients.
Expanding government rarely means expanding freedom.
Universities increasingly produce conformity instead of independent thinkers.
Global elites remind us that power naturally concentrates when people stop paying attention.
Tax systems grow more complex while ordinary people carry the burden.
Activist movements gain influence when the majority remains passive.
Legacy media profits from outrage, division, and fear.
Professional sports provide the perfect distraction from deeper issues.
Endless streaming and entertainment keep people comfortable enough to avoid asking difficult questions.
What else belongs on the list?
Setelah menikah, akhirnya jadi paham kalo sebuah pernikahan enggak bisa jalan kalo cuma bermodalkan "ketertarikan" dan "rasa sayang" secara literal saja. Karena pada dasarnya emang gak bakalan ada hubungan yang sepenuhnya sempurna.
Semuanya saya rasa akan bertahan sama rasa tanggung jawab, rasa hormat untuk kedua belah pihak, hingga empati juga kontrol diri untuk itu semua bisa terus berjalan.
Rasa aman yang diberi oleh kedua belah pihak rasanya jadi sangat mahal pas dihadepin sama ujian-ujian hidup yang gak pernah ada habisnya. Mempertanggungjawabakan janji yang diucap didepan tuhan-tuh gak pernah mudah. Sultinya seringkali gak ketolong.
Empati yang dicurahkan dan hadirnya rasa aman kayanya jadi hal yang memperkaya, menopang dan benar-benar mewujudkan sebuah hubungan yang sehat dalam sebuah pernikahan.
Memang hal-hal tersebut diatas belum tentu benar juga. Tapi setidaknya, itu yang saya rasa.
Life is too short to worry about little things. Have fun. Fall in love. Regret nothing, and don't let people bring you down. Study, think, create, and grow. Teach yourself and teach others.
How to respect YOURSELF
• Stop begging people. [Muslim 1053a]
• Think before you talk. [Bukhari 6478]
• Let people think what they want. [88:22]
• Speak to Allah before you speak to people. [40:60]
• Hide your sins. [Bukhari 6069]
• Arrive on time. Leave on time. [4:103]