Maaf, Pak @prabowo, pemerintah agaknya perlu lebih tegas nih karena kegaduhannya terlalu berlarut. Resah dan gerah lihat mahasiswa gampang dihasut. Meski mereka sedikit tapi kan berita banyak. Mau baca berita lain jadi ketutup. Warga mau mudik dan liburan. Jangan nanti ketemu pendemo malah berbenturan. Ayo dong, Pak.
Apa nih langkah-langkahnya? Apa kek gitu. Panggil dekan dan rektor kemarin kurang cukup. Langkahnya mungkin harus sampe ke tingkat keseriusan merespons para provokator dan penyusup. Dengan tegas.
Kami 02 voters kebanyakan silent majority. Kami tenang, sebagai pemenang. Jangan nanti makin tambah dari kami yang bereaksi, pemerintah juga yang repot nanti. Makanya pemerintah jangan juga diam-diam. Bukan anak-anak lagi mereka itu. Sudah boleh coblos kertas suara. Harus bisa dikasih tahu. Komunikasi pemerintah harus jagonya. Sama tegas aja, Pak. Yang tegas-tegas gitu. Pemimpin yang prorakyat pasti rakyat bela. Tegas, ya, Pak.
✊🏻
Ga sabar karya sastra: puisi, novel, zine, prosa, esai, drama dan seni lain yang akan dibuat sepanjang lima tahun ke depan. Bakal keren banget. The years of living dangerously.
sudah memakai brand pakaian terkurasi, bertato, mendengarkan music obscure serta bekerja sbg art director tetap tidak lengkap apabila tidak menguasai malevolent shrine karena itu merupakan syarat sah untuk menjadi anak skuna
@indraxcahya@ulwanfakhri@fajar_ardi7 semua yang pra-premis bisa ke open mic puisi dulu baru ke panggung open mic komedi.
funnel-nya memang saya buat demikian
“Oleh-oleh yang sering dibawa sepulang dari kota besar adalah merasa kerdil..”
Yaa faktanya kita bukan siapa-siapa.
Malu kalau masih mau bersaing pencapaian masing-masing.
Kalimat pertama tadi keluar dari @yuwonooktav, di tengah obrolan dalam mobil beberapa waktu lalu.