Bukan riba yang ngeri, tapi:
1. Kebodohan. Sebelum akad KPR, semua hitungan sudah dijembrengin. Cicilan tiap bulan itu ada porsi pokok dan bunga. Pokok utang akan selalu berkurang. Bacalah semua yang diberikan kepada kalian pada saat akan membeli rumah. Pelajari dan tanyakan agar kalian benar-benar paham.
2. Kemunafikan. Sejak awal dia sudah tau bahwa KPR itu ada bunganya, tapi tetap diambil, lalu di kemudian hari teriak-teriak "ngerinya riba"? Gimme a break.
3. Ketiadaan kemampuan berpikir. Liat point no. 1, sehingga jika pokok utang adalah 250jt, pada saat dilunasi, tidak mungkin pokoknya bertambah jadi 260 juta. Selama 4 tahun pokok utang akan terpotong sedikit demi sedikit. Berbeda dengan pembiayaan kendaraan bermotor, ketika KPR dilunasi, maka yang wajib dilunasi adalah pokok utangnya saja. Paling hanya penalti pelunasan lebih awal, itupun jika masih dalam batas waktu yang ditentukan.
4. Penyebaran kebohongan yang dilakukan oleh akun yang mengaku "dakwah." Lucu banget. Ngefitnah tapi mengaku dakwah.
Problem dari semua itu adalah kredibilitas pemerintah dalam spending.
“pajak ini bisa menghasilkan Rp142 T/tahun untuk menggratiskan layanan kesehatan, KRL, hingga beasiswa sampai bangun rumah layak warga rentan.”
Yakin tu 142T buat layanan masyarakat? Bukan buat ekspansi kopdes dan MBG? Yakin tuh gak dipake buat beli alutsista?
APBN di kondisi yang klo kita kasih duit lebih duitnya gak akan berdampak samsek sama kita. Sekarang keliatan banget APBN mau jebol tapi apa yang kita dapatkan? Cuma subsidi BBM doang
Menurut laporan ini, modal besar Indonesia lagi kabur ke luar negeri.
Bukan cuma diversifikasi biasa lho, tapi capital flight massal karena khawatir arah kebijakan ekonomi Prabowo.
Taipan dan keluarga konglomerat mulai memindahkan ratusan juta hingga miliaran dolar ke Singapura, Swiss, & Hong Kong.
Add seorang taipan Indonesia menjual sekitar US$300 juta saham dan obligasi, kemudian memindahkan hasilnya ke Singapura. Keluarga konglomerat lain dilaporkan memindahkan sedikitnya US$1 miliar ke rekening di Singapura, Swiss, dan Hong Kong. Beberapa keluarga kaya lainnya disebut sedang menyiapkan langkah serupa.
Alasannya, tekanan pemerintah yang semakin agresif meminta konglomerat “berkontribusi” ke agenda mrk. Selain itu, ketidakpastian regulasi, kafena kebijakan berubah cepat, susah bikin rencana jangka panjang.
Laporan ini menunjukkan modal tidak punya ideologi. Ia hanya mencari tempat yang paling aman & menguntungkan.
Siapa yang rugi? Siapa yang untung?
Gila, ketimpangan kita separah ini!
Direktur Kebijakan Fiskal CELIOS (Center of Economic and Law Studies), Dr. Media Wahyudi Askar, menjelaskan hasil studi terbaru mereka:
1. Studi CELIOS mengungkap ketimpangan ekstrim: di saat pejabat/orang super kaya merayakan ultah mewah di Paris, anak-anak miskin berjuang keras hanya untuk bisa makan hari itu jg.
2. Indonesia kini punya 2 wajah ekstrem. Wajah pertama diisi oleh 1.700 orang super kaya, dimana kekayaan 50 orang terkaya di antaranya sudah setara dg total kekayaan 55 juta penduduk.
3. Oligarki ini menyetir harga pasar (ojol, LPG, properti) dan "membeli" demokrasi lewat pendanaan parpol. Sebaliknya, rakyat biasa harus berdesakan di transportasi publik yang buruk meski taat bayar pajak.
4. CELIOS mendorong Pajak Kekayaan (Wealth Tax) sebesar 2% untuk aset di atas Rp84 M. Didukung 89% rakyat, pajak ini bisa menghasilkan Rp142 T/tahun untuk menggratiskan layanan kesehatan, KRL, hingga beasiswa sampai bangun rumah layak warga rentan.
Nonton full di youtube nya Watchdoc Dokumentary nya disini 👇
https://t.co/cSzAPhXCd8
Kalo lo pinter, kenapa lo gak kaya?
Simulasi ini ngebuktiin kalo orang yang paling sukses itu bukan orang yang paling berbakat, tapi orang yang paling beruntung aja.
Ref: https://t.co/Cs0NarC7pj : Talent vs. Luck: The Role of Randomness in Success and Failure.
*bisa disimulasikan & buktikan sendiri secara vibe coding, projectnya open-source
• Presidennya hobby pidato pake kata kasar + ngitung gak jelas
• Wapresnya main kucing + ai ai an kayak beda dunia
• Menlunya harus diingetin dlu baru gerak
• Menteri PUPR nya rencana dinas keluar negeri bareng keluarga bertepatan final world cup
• Menkeu nya punya anak yg suka parlay dan malah tone deaf
• Ketua MPR nya jadi suruhan pemerintah
• Aparat nya, TNI Polri lagi rebutan kasus, saling tunjukkan kekuatan
• Aparat Hukum, Jaksanya, terindikasi korupsi atas kasus besar yg ditangani
Negara ini sebenarnya sedang menuju ke mana?
Elu tau gak kenapa Riza Chalid yang korupsi TPPU minyak mentah Pertamina Juli 2025 kemarin sulit ditangkep? Sini-sini wkwk 😹
Publik selama ini nganggep kasus Timah (Rp300 triliun) itu yang paling gede. Tapi ternyata kasus tata kelola minyak mentah Pertamina (2018-2023) yang lagi diusut Febrie nilainya Rp285 triliun anjir hampir nyamain Timah. Dan ini baru kasus resmi, belum termasuk yang masih berkembang 😳
Kasus inilah yang ngelibatin Mohammad Riza Chalid, yang menurut laporan selama lebih dari satu dekade kerap disebut dalam pusaran tata kelola energi nasional tapi nyaris tak pernah tersentuh hukum. Sekarang dia jadi tersangka dan buron, dikejar sampai lewat Interpol.
Nahh Febrie itu Jampidsus-nya, alias pimpinan penyidik yang justru mengejar Riza Chalid. Riza itu tersangka di kasusnya Febrie, bukan kenalan atau rekan Febrie.
Febrie sendiri ngaku ke DPR bahwa penyidikan kasus ini susah banget karena banyak transaksi dan aset tersangka ada di luar negeri, sampai ada belasan saksi yang nolak diperiksa di Indonesia dan minta diperiksa di sana kebayang gak, level pengaruh orang-orang yang terlibat sampai bisa milih mau diperiksa di negara mana 🤯
Ini kasus mafia migas yang jejaknya ditarik balik sampai era Petral (dibubarkan 2015 di era Jokowi lewat Sudirman Said), tapi baru sekarang, di 2026, tersangkanya beneran ditetapkan.
Artinya ada kekuatan/aktor yang selama satu dekade lebih berhasil aman dari jerat hukum baru sekarang mulai kebongkar. Nahh siapa tuh?
Soalnya makin Febrie ngoyo ngejar orang sebesar Riza Chalid (yang jaringannya udah 10+ tahun aman), makin besar juga kemungkinan tekanan balik yang dia terima dari lingkaran kekuasaan Riza.
Kombinasi dari semua ini (Pertamina, Timah, penggeledahan kafe Febrie kemarin) seolah ada sebuah tanda. Makin dalam Kejagung gali sektor energi & tambang, makin gede juga tekanan politik yang muncul balik ke institusi itu sendiri.
Aman darimane
Restitusi pajak noh balikin ke pengusaha🤣
PLN dan Pertamina noh lu bayarin piutang subsidinya🤣
Fake numbers yang kalau dilakukan terus2an PHK makin banyak karena pajak lebih bayar pengusaha gak dibalikin dan juga PLN Pertamina kolaps gara2 nanggung APBN
Sama, kurangin noh belanja alutsista biar gak bangkrut negara, PLN, dan Pertamina🤣
Permasalahan utama karakter "islami" dalam kartun-kartun di Indonesia adalah mereka gak punya narasi intelektual muslim. Karakternya dibuat satu dimensi dan cuma ngekor dengan dogma tanpa nalar kritis. Sangat menggambarkan mayoritas orang yang ngaku muslim di negeri ini.
I think you guys missed the point. Bukan masalah wowo & circle ahli nerakanya ditipu Gaurav, melainkan...
wowo & circle ahli nerakanya kasi karpet merah karena Gaurav ngaku agen CIA. That's so fucked up