corporate life :
ternyata yang bikin kita survive tuh bukan cuma otak dan skill, tapi seberapa kuat kita untuk gak ke-distract sama noise yang ada.
karena realitanya, kantor itu berisik, tembok bisa denger. bukan cuma kerjaannya, tapi juga orang, ekspektasi, tekanan, feedback, sampe politik. that’s why, emotional resilience itu penting.
saya mempertanyakan ini bahkan dari SD dan baru dapat jawabannya pas kuliah 😅
mempertanyakan hidup adalah hal yg positif, artinya kita bukan robot yg hidup ngalir gitu aja, kita berpikir dan bergerak atas pemikiran kita sendiri.
mungkin sender sedang mengalami quarter life crisis, saya jg mengalaminya dulu.
saran dari saya:
- sistem pendidikan kita memang seakan2 tidak memberi waktu kita untuk "bernafas". sd belajar kejar smp bagus, smp fokus kejar sma bagus, sma kejar kampus bagus, dst. jadi coba kasih jeda untuk diri sendiri untuk berpikir kita mau ngapain dan jadi apa.
- kenali diri kita sendiri, sukanya apa, hobinya apa, kalau mengerjakan sesuatu tanpa dibayar kita pilih jd apa (screening awal untuk cari passion),
dari banyak profesi kira2 condong kemana, enggak usah ikut2an orang, kalau mau ambil kuliah agama misalnya ya ambil aja, kalau mau ambil jurusan olahraga ya ambil aja, dst
- cari orang yg kita anggap mentor untuk diskusi yg tidak mudah menjudge 😅
ngobrol sama orang2 yg kira2 kita mau bekerja seperti mereka. kalau kita rasa mau jadi penulis cari forum2 penulis, kita mau jadi engineer ikut forum2 engineer. perbanyak networking dan diskusi.
- kalau arahnya lelah mikirin dunia dan merasa hanya mau mikirin akhirat aja, cari ustadz yg memang bisa memberi masukan yg baik.
ciri2 masukan yg baik menurut saya bagaimana? setelah ngobrol kita lebih semangat menjalani hidup, semangat bekerja dan beribadah.
atau bisa juga karna lelah rutinitias hidup yg rasanya isinya hanya kejar nilai, rangking, prestasi yg enggak ada habisnya.
jadi coba istirahat dulu, bernafas dulu, take your time.
semoga segera dapat jawabannya ya!
Banyak orang tahu mau belajar apa tapi kadang stuck di tengah jalan karena nggak tahu mesti belajar sama siapa dan gimana cara belajarnya.
Ada kalanya orang menggebu pengen bisa langsung terbang ke langit, tapi lupa belajar dasar berdiri dulu.
Pembelajar yang baik adalah ketika tahu principle domainnya, sehingga ketika belajar ke tingkat lanjut bisa meng-connect data informasi ke insight yg lebih actionable!
Hari ini sudah 1on1 dengan 4 orang. Kebanyakan tanya tips buat berkarier di bawah usia 30.
Saya tulis di sini aja buat pembelajaran yang lain. Saya dididik oleh keluarga dan bos yang selalu bilang,
"Sampai usia 30, kita fokusnya bekerja sebaik mungkin sekaligus belajar, menguatkan pondasi skill."
Dulu kita cukup punya 1 domain skill untuk sukses, tapi sekarang minimal 2, let's say jago riset dan jago presentasi atau jago hitung dan jago networking."
Karena nanti setelah usia 30 ke atas, biasanya orang udah berkeluarga dan mencapai posisi tertentu yang mana punya prioritas dan tantangan berbeda.
Nah, sekarang pertanyaannya, gimana berkarier menuju usia 30 supaya nanti di atas sudah mencapai kemampanan atau memiliki pilihan lebih bagus lebih banyak (baik sebagai pekerja atau owner)?
Jawabannya ketika mencari pekerjaan, tidak perlu terlalu picky, asal didapat 2 dari 3 poin berikut:
1. Financial. Yup, tidak dipungkiri, manusia butuh income untuk bertahan hidup dan menafkahi keluarga. urusan keuangan ini bisa dibreakdown jadi gaji pokok, bonus, benefit keuangan lain, atau keluangan waktu untuk melakukan kerja tambahan untuk tambahan pemasukan.
2. Self Growth. Untuk mencapai level yang bisa memilih posisi atau kenyamanan lebih baik di atas usia 30, perlu dibangun pondasi kepemimpinan dan domain expertise sejak usia dini. Caranya? cari tempat kerja dimana leadersnya masih ingin terus bertumbuh, dari sana kamu akan bekerja sembari diajak bertumbuh. Baik dari pemikiran, decision making, dan eksekusi.
Tahunya? Cek bio leaders dari perusahaan tersebut baik di sosmed atau Linkedin, dsb. Dia yg punya background akademik oke atau prestasi di tempat kerja sebelumnya, biasanya masih oke di tempat sekarang. Atau bisa cari kenalan di Linkedin, tanya terkait kinerja bos2nya.
Tanya juga, corporate culture di perusahaan tersebut: apakah biasa memberi training berkala, apakah ada apresiasi baik dalam insentif atau apapun yang bisa menjaga semangat bertumbuh, apakah perusahaan mau me-reimburse pengambilan sertifikasi untuk menunjang karier, dsb.
3. Impact. Dulu saat saya masuk Indonesia Mengajar di angkatan tahun ketiga, Founding Fathernya mengajari kami bahwa bekerja tanpa membuat impact itu akan membuat hati tetap kosong. Carilah tempat kerja dimana bisa memberikan kepuasan dalam diri dalam bentuk making impact to others. kalau perusahaan tempat bekerja sangat kapitalis, paling tidak, cari apakah ada kesempatan untuk do something for community yg diprovide oleh perusahaan.
Misal, saat dulu saat saya bekerja di salah satu perusahaan konsultan, bos2 saya suka mengajak saya untuk berbagi ke gereja2 di hari Minggu. Kami mengelola acara berbagi dan bercerita ke anak2 yatim. Perusahaan pun tiap tahun sering mengadakan program CSR mengajak anak2 panti asuhan untuk kunjungan ke perusahaan2 klien kami (misal di perusahaan maskapai penerbangan, telekomunikasi, manufaktur, dsb) untuk melihat bagaimana orang dewasa bekerja. Semoga memberi inspirasi buat mereka rajin belajar dan kelak menjadi orang yang mereka cita-citakan.
Impact ini berfungsi untuk selalu mengisi kekosongan hati dan membuat kita terus bersemangat dalam bekerja.
Ketika saya baru lulus kuliah, saya buat matriks di excel yang isinya daftar perusahaan dan kolom poin-poin di atas beserta breakdownnya. Centang untuk setiap poin yang terpenuhi, dan hitung berapa bobot poinnya.
Jadi sebelum apply sebuah perusahaan, saya kumpulkan dulu data informasinya. Atau paling tidak kalau sudah lolos tahap tes, sebelum masuk wawancara user, evaluasi diri kita apakah cocok dengan tempat tersebut. Cara ini juga membantu kita siap dan antusias ketika tahap interview dan menunjukkan behavior kita siap bekerja di sana.
Yes, user nggak cuma ingin mengetes kemampuan hardskill kamu, tapi juga behaviornya apakah cocok dengan team culture mereka.
To sum up, di usia 20an ini adalah masa kita menempa diri untuk mencapai level tertentu sebelum kita berjumpa dengan tantangan berikutnya yang umumnya ditemui di usia 30an. Dalam menempa diri membutuhkan strategi yang tepat agar tidak buang waktu.
Itulah secercah tips kecil dari saya. Jika ada tambahan dan masukan dipersilahkan.