Di jalan raya minta di-istimewakan ✅
Di jalur lari minta di-istimewakan ✅
Di PRJ pun minta di-istimewakan ✅
Apa mereka ga sadar yg gaji mereka itu rakyat?
REMINDER buat selalu cuci atau minimal bilas minuman kaleng sebelum diminum 😅
“kok sampe segitunya?”
jadi gini, pas koas dulu pernah jaga IGD, ketemu pasien yg datang dg keluhan demam beberapa hari, mual, muntah, badan lemes, dan sakit kepala…sekilas keliatannya kayak infeksi ringan atau flu biasa, eh ternyata
@elfardeyhaq setuju, untungnya kebanyakan juga udah pasrah aja ini ga bisa / belum bisa nambah karena nambah terakhir adalah akhir mei/ awal juni yg rasa bottom tp dibawa lebih dalam lagi
Danantara Terbitkan Surat Hutang
Untuk Para Patriot - dalam Rp
5 tahun kupon 2%
7 tahun kupon 2%
Untuk Investor Asing - dalam USD
5 tahun kupon 5.35%
10 tahun kupon 5.95%
Semoga para Patriot lebih dihargai di masa mendatang
🚨 Since his penalty miss in the #UCL final, Arsenal supporters have made Gabriel the top-selling shirt name at the club.
His printed name is up 350% since Saturday’s final. At one stage he was outselling any other name x2.
@TheAthleticFC 🔴⚪️🇧🇷❤️
https://t.co/6GyvOeOOH4
Jawaban buat pertanyaan zee sebenernya udah jelas, namanya Telkomsel. Operator paling gede, paling kaya, paling banyak pelanggan di negeri ini, yang paling pertama maju dan paling lantang soal masa aktif 28 hari, lalu dengan entengnya bilang ini semua demi kebiasaan pelanggan. Seakan-akan jutaan orang Indonesia ngantri minta jatah internetnya dipotong dua hari tiap bulan.
Indosat ikut nimbrung, XL katanya ikut di sebagian paket walau katanya mayoritas paketnya masih 30 hari. Tapi yang ngebuka pintunya Telkomsel, dan mereka ngebungkusnya pakai kata manis soal customer behaviour. Padahal lo ga butuh gelar ekonomi buat ngerti, ga ada satu pun pelanggan yang behaviour-nya pengen bayar lebih sering buat barang yang sama.
Mainnya halus, makanya jarang ada yang ngeh. Setahun ada 365 hari. Masa aktif 30 hari berarti lo beli 12 kali. Begitu jadi 28 hari, lo dipaksa beli 13 kali buat nutup tahun yang sama. Satu belanja ekstra, tiap tahun, dikali puluhan juta pelanggan. Simulasi IDN Times nyebut selisihnya bisa sekitar Rp100 ribu per orang per tahun, walau angkanya tergantung ke paket dan pola pakai, jadi cek lagi sesuai kasus lo. Kecil di kantong lo, tapi jadi gunung everest di laporan keuangan mereka.
Belum kelar di situ. Sisa kuota yang udah lo bayar bakal hangus begitu masa aktif lewat. Operator ngotot istilah hangus itu ga tepat, katanya yang lo beli cuma hak akses jaringan buat periode tertentu, dianalogiin kayak obat yang ada tanggal kadaluarsa. Tapi pas PLN diseret ke sidang, mereka jelasin token listrik ga pernah hangus, karena yang ngurangin saldo itu pemakaian, bukan jam dinding. Pertanyaannya, kenapa listrik bisa, internet enggak?
Soal hukum gw ga mau lebay, sampe detik ini belum ada putusan yang nyatain operator bersalah, karena perkaranya emang masih jalan. Yang nggugat bukan orang gede, cuman pengemudi ojol Didi Supandi dan kawan-kawan, plus sekelompok mahasiswa hukum, yang nilai kuota dihapus sepihak tanpa kompensasi adil itu nabrak hak atas harta benda di UUD 1945. Dan lo tau siapa yang pasang badan belain operator? Pemerintah sendiri, lewat Komdigi, yang bilang rollover atau refund bakal nambah beban biaya.
Jalannya berdarah-darah. Satu gugatan emang udah dipentalin MK pertengahan Mei 2026, tapi gugurnya gara-gara berkasnya dianggap kabur, bukan karena isunya kalah. Ibarat lamaran ditolak gara-gara formulirnya nggak lengkap, bukan gara-gara orangnya nggak layak, hakim bahkan belum sempet nimbang inti perkaranya. Tiga gugatan lain masih bertahan dan lagi diperiksa isinya. Di sidang, ada hakim yang nanya tajem ke operator, "kok kuota belum habis tapi udah hilang". Dari luar, YLKI ikut ndorong. Jadi tekanannya datang dari dua arah sekaligus.
Tapi apakah bisa menang?
Di Afrika Selatan, rakyatnya ngeluh soal hal yang sama persis bertahun-tahun, kalah terus, sampe akhirnya regulatornya nyerah dan maksa operator ngerollover otomatis kuota yang belum kepake mulai 2027. Bedanya, di sana yang ngalah duluan itu lembaga pengawasnya yang bikin aturan baru, bukan hakim lewat pengadilan. Di kita malah sebaliknya, lagi diperjuangkan lewat gugatan ke MK. Beda pintu masuk, jadi belum tentu hasilnya bakal sama.
Sejarah udah berkali-kali ngebuktiin, raksasa kayak gini tunduk bukan gara-gara digoyang orang gede. Tapi karena orang-orang biasa yang capek haknya dirampok diam-diam, lalu mutusin buat ga diem. Pertanyaannya tinggal satu, dia bakal menang, atau jadi tumbal yang namanya kita lupain begitu palu diketok?
Mobil yang saya kendarai nabrak orang. Bapak-Bapak usia 50an tahun yang berprofesi sebagai satpam di sekolah swasta.
Asuransi sempat berusaha menghindar dari membayar biaya kerusakan motor si Bapak dan biaya pengobatannya.
Jadi gini...
Akhir Februari tahun ini, saya kembali memperpanjang asuransi mobil saya. Bayar paket comprehensive dengan tanggungjawab hukum pihak ketiga, total sebesar Rp3.998.125 untuk harga pertanggungan mobil Rp210.000.000 dan Rp10.000.000 untuk pihak ketiga.
Sialnya akhir Maret, efek kurang fokus dan blindspot, saya dengan mengendarai mobil, menabrak motor. 👀
Saya bawa korban ke RS untuk dapat pertolongan pertama hingga rontgen dan diketahui ada retak pada tulang kaki di 2 titik.
Masalah diselesaikan secara kekeluargaan. Motor dibawa oleh kerabatnya ke bengkel kenalan mereka dan saya bayar perbaikannya hingga kembali normal. Pengobatan Bapaknya juga saya bantu. Keluarganya Beliau menolak operasi yang disarankan dokter karna khawatir tidak bisa bekerja 2 bulan, jadi memilih ke tukang urut kampung.
Di hari yang sama, saya sempatkan mampir ke kantor asuransi untuk melaporkan kejadian. Ada batas waktu lapor maksimal 5 hari. Tapi karna masih sempat, saya usahakan lapor di hari yang sama saja.
Nah, di sini kejanggalan mulai terjadi.
Saat menyinggung tentang tanggung jawab pihak ketiga, staff asuransi info ke saya, kalo korban harus punya SIM yang masih aktif. Jika tidak punya surat-surat, maka asuransi ga bisa membayar biaya perbaikan motor dan pengobatannya (estimasi saat itu sekitar 5jt). 😶
Kebetulan Bapak yang saya tabrak, memang tidak punya SIM. Jasa raharja ga bisa cover kalo korban ga punya SIM. BPJS juga ga bisa bayar karna ini kasus lakalantas. Cukup repot karna urusan ga punya SIM ini.
Saya kaget dengan jawaban asuransi mobil saya itu.
Saya coba konfirmasi ulang. Jawabannya masih tetap sama.
Menurutnya, memang sudah kebijakan asuransi seperti itu. Baik saya maupun korban, keduanya harus mematuhi aturan lalu lintas.
Saya masih bingung tapi saya ga mau berdebat, jadi sementara saya terima informasi itu.
Sore itu saya hanya memproses kerusakan mobil saya saja, agar bisa diperbaiki di bengkel dan semua biaya ditanggung asuransi.
Saat pulang dan cerita ke istri, dia juga kaget, "Lah, emangnya kita bisa milih mau tabrak yang punya SIM aktif aja? Oh yang ini ga punya SIM, jangan lah kita tabrak, yang ini aja. Kan engga?" 😂 Kadang istri ku emang lucu.
Besoknya saya masih kepikiran soal aturan "aneh" itu.
Saya akhirnya chat ke staff di kantor, kebetulan polis asuransi dikirim ke sana. Saya minta untuk difotoin semua lembar pasal-pasal di surat polis itu.
Foto-foto itu saya upload ke ChatGPT. Saya nanya soal aturan kalo korban harus memiliki SIM.
To my surprise, ChatGPT bilang, ga ada pasal itu.
Saya minta lagi dia point-out secara detail soal pasal-pasal yang dia jadikan acuan, disebutkan di pasal 4 dan pasal 4.2.
Bener aja, saya baca sendiri kalimat di sana, cuma disebutkan kalo hanya pengemudi kendaraan bermotor yang diasuransikan saja lah yang harus punya SIM. 🙃
Saya baca ulang-ulang, tidak ada keraguan soal kalimat pada polis.
Staff itu salah. Biaya-biaya korban bisa ikut dibayarkan.
Akhirnya saya kirim pesan WA lagi dengan menyertakan foto pasal-pasal polis.
Responnya, "Kalau Bapak mau ajukan silakan Pak. Kita coba. Saya monggo."
WTH 😂
Ya jelas lah saya akan ajukan. Buat apa bayar asuransi comprehensive + tanggung jawab pihak ketiga kalo ga saya upayakan?
Mungkin staff itu merasa prosesnya akan panjang dan repot. Banyak dokumen dan bukti yang dibutuhkan. Mungkin dia males ngurusnya. Jadi berusaha ga memproses dengan ngasi info yang salah ke saya. Mungkin.
Ada banyak "bukti" dan dokumen yang dia minta:
1. Surat laporan polisi
2. Surat tuntutan bermeterai dari korban
3. KTP korban
4. STNK Motor
5. SIM korban (optional)
6. Foto-foto motor yang rusak (dengan nomor rangka)
7. Foto luka-luka dan foto rontgen retak tulang korban
8. Rincian tagihan perbaikan motor
9. Kwitansi tukang urut kampung
10. Foto saat pengobatan di tukang urut kampung
11. Foto saat motor sudah selesai diperbaiki
12. Form reimburse untuk bengkel motor (karna bukan bengkel rekanan)
13. Kwitansi bermeterai pembayaran biaya perbaikan motor
Tidak ada kesulitan sama sekali menyediakan semua persyaratan klaim di atas.
Saat kejadian, saya otomatis merekam video suasana di TKP, kondisi korban, kondisi kerusakan motornya, kondisi mobil saya, semua ada. Urus surat laporan polisi sangat cepat dan straightforward. Meminta foto dari keluarga korban juga mudah (mereka kooperatif banget demi semua biaya ditanggung). Urusan ke bengkel juga ga ada kendala.
Kurang dari seminggu sejak kejadian, semua dokumen lengkap dan diajukan.
Butuh waktu 1 bulan hingga dana itu cair. Biaya perbaikan motor dan tukang urut kampung Rp3.173.000. Ditanggung 100% oleh asuransi. Sudah ku transfer full ke istrinya si Bapak.
Hari Senin lalu, mobil ku juga udah selesai diperbaiki setelah 1 minggu di Bengkel. Udah seperti baru.
Moral of the story-nya apa ya kira-kira? 😁
Intinya gini :
Rupiah lagi melemah ke Rp17.400/USD meskipun GDP tumbuh 5.61% & inflasi rendah 2.42%. Ironis banget.
Kenapa?
Lebih dominan masalah internal, bukan eksternal.
Buktinya: DXY (kekuatan USD) lagi turun sejak 2025, tapi Rupiah malah ikut melemah lebih parah. Dulu (2021-2024) gerakannya selalu sejalan sama DXY, artinya eksternal. Sekarang? Udah nggak sync lagi → Rp-nya sendiri yang bermasalah.
Akar utamanya:
Kekhawatiran defisit APBN tembus >3% (proyeksi 2026 bisa 3.7%+). Investor asing pada kabur (net sell obligasi & saham), kepercayaan pasar drop.
Solusi paling cepat:
Kurangi pengeluaran (belanja, subsidi, program non-prioritas). Tinggal political will-nya aja.
Kalau ini dibenerin, Rupiah bisa menguat sendiri pas DXY lagi turun.
Inti pesannya: Masalahnya di rumah sendiri, bisa diperbaiki sendiri. Bukan nasib buruk eksternal.