Aku menyodorkan kembali ponsel itu kepada @inklusifasa. Tanpa banyak berpikir, tanganku lekas meraih tangannya, mengajaknya untuk segera pergi.
“Ayo, Kasa anter aja. Asa tenang aja, oke?” pintaku menenangkan, meski sebenarnya aku sendiri tidak kalah panik.
Aku menerima ponsel yang disodorkan kepadaku, lantas membaca isi percakapan yang terpampang di layar. Seketika dahiku kembali mengerut, kali ini bukan lagi karena heran, melainkan lantaran terkejut membaca isi pesan dan kabar bahwa Baraga, kekasihnya, berada di rumah sakit.
“@inklusifasa, kenapa? Mau ke mana?” tanyaku.
Aku menatapnya, masih dengan rasa penasaran yang mulai berubah menjadi kekhawatiran kecil.
“Tenang dulu. Pesan dari siapa? Apa isinya?” sambungku, pertanyaanku meluncur berturut-turut tanpa sempat memberi jeda.
Keningku spontan mengerut. Ada sesuatu yang terasa ganjil dari caranya beranjak terburu-buru seperti itu. Tubuhku pun refleks berputar mengikuti pergerakannya. Tanganku lekas meraih tangannya, menahannya sebelum ia benar-benar menjauh.
Help retweet ya!
Hi guys! I’m looking for dd gemes kelahiran 2000-an buat jadi model MV aku 👀 (lagunya my mine gueh)
Kriteria:
- Siapa aja, yang penting ganteng 👄
- Kelahiran 2000 ke atas (om-om minggir dulu ya 😠😛)
- Centil, swag, seru 🤩
I’m open to anyone, so kalau kalian tertarik atau punya rekomendasi, boleh banget reply di bawah yaaaa (pake reference visu kalian)💋 maaciw ❤️
Lantas melangkah menghampirinya.
“Waduh, waduh.” Aku geleng-geleng kepala, memasang wajah seolah baru saja menemukan sebuah kejahatan besar. “Bukannya kerja malah leha-leha. Makan gaji buta @inklusifasa?”
Gadis itu sedang merebah di atas sofa panjang. Sepasang tungkainya menggantung begitu saja di atas lengan sofa, sementara tubuhnya melebur sepenuhnya bersama dudukan empuk sofa sewarna gading itu.
Aku menahan senyum.