🚨🚨 OFFICIAL: ARGENTINA ELIMINATE EGYPT AND FLY TO WORLD CUP QUARTER FINALS! 💥🇦🇷
Epic comeback from 0-2 and pass for the quarter finals under Leo Messi’s lead. 🌎
Hidup ini adalah kompetisi, biasakan dirimu dengan fakta ini..
Di sekolah, kompetisinya buat ranking 1
Di kerja, kompetisinya buat tangga karir tertinggi
Di bisnis, kompetisinya buat jadi nomor 1 di industri
Di ngonten, kompetisinya buat menarik atensi terbanyak
kalau kamu mau maju ya kamu harus jadi orang yang kompetitif, ga bisa mindsetnya cuman 'ah ya udalah ga menang juga gapapa'.
Rumus menang dari tiap kompetisi kurang lebih sama.. ini 3 rumusnya..
guys, ada cerita dari Jahja Setiaatmadja Presiden Komisaris BCA yang menurut gue adalah salah satu yang paling menampar soal ekspektasi anak muda zaman sekarang.
Bukan karena dia ceramah soal kerja keras.
Tapi karena perjalanannya benar-benar tidak ada jalan pintasnya sama sekali.
Mulai dari latar belakang yang paling bawah:
Ayahnya bekerja di Bank Indonesia selama 33 tahun. Kedengarannya keren tapi bukan sebagai pejabat. Sebagai kasir.
Gaji pas-pasan.
Tidak lebih.
Jahja SD dan SMP jalan kaki ke sekolah.
Sementara teman-temannya naik sepeda atau diantar mobil.
Dia jalan kaki.
SMA pindah rumah lebih jauh.
Sekarang bergelantungan di bus.
Tidak ada privilege.
Tidak ada koneksi.
Tidak ada modal apapun selain mau bekerja keras.
Soal cita-cita yang tidak kesampaian dan ini yang paling relate:
Jahja ingin jadi dokter gigi waktu SMA.
Tapi keluarga tidak sanggup bayar kuliah kedokteran gigi.
Coba teknik juga mahal.
Akhirnya pilihan jatuh ke Ekonomi UI karena itulah yang terjangkau.
Bukan pilihan pertama. Bukan impian awal. Tapi dari situlah semuanya dimulai.
Pekerjaan pertama dan ini yang bikin banyak orang tidak siap:
Setelah lulus dari UI dan diterima di Price Waterhouse kantor akuntan asing yang bergengsi pekerjaan hariannya di hari-hari pertama adalah fotokopi.
Karena office boy-nya terbatas, junior seperti Jahja yang kena.
Lulus dari universitas terbaik.
Kerja di kantor akuntan internasional.
Tugas pertamanya: fotokopi.
Gaji bulan pertama: Rp60.000.
Dia tidak keluar.
Dia tidak ngeluh.
Dia kerjakan sebaik mungkin.
Titik balik yang tidak direncanakan jualan betamax door to door:
Karena gaji Rp60.000 tidak cukup Jahja cari penghasilan sampingan. Dia keliling naik motor menjajakan kaset video betamax sewaan ke teman-teman dan kenalan.
Suatu hari dia ketemu seorang langganan yang ternyata direktur di Kalbe Farma.
"Gaji lu berapa?" "Kira-kira Rp60.000, Pak." "Ikut gua. Langsung Rp150.000."
Dua setengah kali lipat. Dari jualan betamax keliling.
Karir di Kalbe Farma dan ini yang menunjukkan konsistensinya:
Di Kalbe Farma dia naik pangkat setiap dua tahun. Konsisten. Sampai di usia 33 tahun dia sudah menjabat sebagai Direktur Keuangan Kalbe Farma salah satu perusahaan farmasi terbesar Indonesia.
Kemudian pindah ke Indomobil Group juga sebagai Direktur Keuangan direkrut oleh headhunter dari Singapura.
Momen yang paling mengejutkan downgrade dari direktur jadi wakil kepala divisi:
Ketika Andre Halim memintanya pindah ke BCA Jahja siap. Tapi ada syaratnya:
"Kamu kan direktur keuangan di Indomobil. Di BCA company-nya lebih luas. Sorry, kamu enggak bisa sebagai direktur. Cukup general manager dengan jabatan wakil kepala divisi."
Turun dua level. Dari direktur menjadi wakil kepala divisi.
Tapi ada janji: dalam setahun akan jadi kepala divisi.
Jahja terima.
Dan janji itu tidak ditepati selama lima tahun:
Tahun pertama tidak ada kenaikan. Tahun kedua sama saja. Tahun ketiga, keempat, kelima tidak ada perubahan.
"Sami mawon," kata Jahja. Bahasa Jawa untuk: sama saja. Tidak ada yang terjadi.
Baru di Januari 1996 lima tahun kemudian surat keputusan pengangkatan kepala divisi itu datang.
Dan inilah refleksinya yang paling dalam:
"Sesudah saya diangkat menjadi kepala divisi, saya baru sadar kalau pada tahun 91 saya dijadikan kepala divisi, saya jadi bos tapi enggak punya fondasi. 5 tahun itu memberikan waktu kepada saya untuk bisa belajar, belajar, mendalami."
Dia tidak menyesali lima tahun penantian itu. Dia mensyukurinya.
Karena kalau dipromosikan terlalu cepat dia akan jadi bos tanpa fondasi. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada menunggu lama.
Soal networking yang lebih penting dari gelar:
Jahja bilang sesuatu yang menurut gue perlu digarisbawahi:
"70% kalau saya boleh kata adalah karena networking, karena relationship."
Dia lulusan akuntansi. Ilmu akuntansi 30-40 tahun lalu sama saja dengan sekarang tidak ada yang luar biasa. Tapi networkingnya yang membawa dia ke posisi Presiden Direktur BCA selama 14 tahun.
Cara dia membangun networking yang konkret:
Setiap kepala divisi dan kepala wilayah yang berada di bawahnya 58 kepala divisi dan 12 kepala wilayah mendapat bunga dan kue kecil di hari ulang tahunnya. Dari Jahja pribadi.
Ada seorang kepala divisi dari Tapanuli yang meneleponnya sambil terharu:
"Pak, ini pertama kali dalam hidup saya pada waktu ulang tahun saya dapat bunga."
Dan cara dia ke cabang BCA? Tidak nanya soal kerjaan. Ngobrol. Selfie bareng teller dan customer service. Tertawa bersama.
"Kalau kita datang ke cabang cuma nanya kerjaan, jangan heran mereka juga akan begitu ke bawahannya."
Prinsip kepemimpinan yang paling konkret:
Satu — kredit ke yang berhak. Kalau anak buah yang usulkan ide bagus sebut namanya. Jangan di-take over. Mereka akan bangga dan makin loyal.
Dua — tanggung jawab kesalahan sendiri. Kalau keputusan ternyata salah jangan cari kambing hitam. Tanggung jawab.
Tiga — beri kepercayaan bertahap. Beri wewenang dulu. Lihat hasilnya. Kalau 80% benar lepas dia jalan sendiri. Kalau 50% masih salah bimbing lagi.
Kalimat penutup yang paling sederhana dan paling dalam:
"Jika selalu kita berbuat baik dan berniat baik maka setiap saat adalah saat yang baik. Dan setiap hari adalah hari yang baik."
Tapi dia tambahkan:
"Niat aja kalau enggak dikerjakan percuma. Niat baik dan berbuat baik."
Jahja Setiaatmadja bukan orang yang terlahir dengan privilege. Tidak ada koneksi keluarga. Tidak ada modal besar. Ayahnya kasir selama 33 tahun.
Yang dia punya: mau belajar dari bawah. Mau tunggu lima tahun tanpa mengeluh. Mau jualan betamax keliling naik motor waktu gaji tidak cukup. Mau turun jabatan dua level demi kesempatan belajar di tempat yang lebih besar.
Dan dari titik-titik itu dia menjadi Presiden Direktur BCA selama 14 tahun. Bank dengan market cap terbesar di Indonesia.
Bukan karena beruntung. Tapi karena dia konsisten mengerjakan hal yang benar bahkan ketika tidak ada yang melihat dan tidak ada yang menghargai.
5 skill pura2 yang ga diajarin di sekolah, tapi cukup penting dalam hidup:
1. Pura2 bodoh
Ada situasi dimana kamu harus bisa pura2 bodoh, terutama di depan orang yang egonya tinggi (partner, investor, atasan, rekan kerja). Kamu ngerasa kamu keren kalau terlihat pintar, tanpa sadar bahwa ada orang2 yang melihat kepintaranmu sebagai ancaman, bukan aset. Tanpa sadar, kamu bisa kehilangan promosi, deal atau trust cuma karena kamu nunjukin kamu lebih pinter.
Orang paling pinter di ruangan itu bukan yang paling banyak ngomong, tapi yang paling tau kapan harus diem..
Guys kata Denny Sumargo soal hidup, uang, dan kesehatan singkat tapi dalam.
1. Badan adalah investasi terbaik.
Bukan saham. Bukan properti. Kalau badan rusak semua aset lain tidak ada artinya.
2. Soal steroid dan suntik kurus.Boleh.
Tapi semua yang instan ada tagihannya. Cepat naik cepat turun. Tidak ada jalan pintas yang gratis.
3. Soal uang.
puncak karir gaji puluhan juta per bulan dia tidak merasa itu cukup. Bukan karena serakah. Tapi karena uang bukan tujuannya. Uang itu alat buat cari experience. Bukan buat validasi.
4. Soal tekanan.
Otot tumbuh karena dirusak dulu diangkat beban sampai sakit baru jadi besar. Hidup manusia sama persis. Kalau tidak siap sakit jangan harap jadi kuat.
5. Soal kepercayaan.
Trust no one but love everyone. Termasuk jangan terlalu percaya diri sendiri. Karena diri sendiri pun bisa bohongi kita.
6. Soal pilihan.
10 miliar dalam 1 tahun vs 10 miliar dalam 10 tahun dia pilih yang 10 tahun. Karena prosesnya yang membangun karakter. Bukan hasilnya.
Dan dia sendiri lahir mau digugurkan dua kali. Besar berpindah-pindah. Dihina karena ras. Tidur di trotoar setelah jadi atlet terbaik.
Tapi tidak pilih jadi korban.
Don’t rush a relationship. Be friends first, build a bond, and create a foundation of trust and understanding. True love is built on connection, shared experiences, and mutual respect. When you take your time, the relationship becomes much stronger.