Salut bgt sma jurnalis yg melakukan wawancara dgn Prabowo. Mereka dgn sangat mindful mampu mendengarkan semua jawaban Bowo yg tone deaf, ignore, aneh, tdk sesuai fakta, ga ada rasa empati atau bersalah, sangat defensive, self centered
Klu aku udh emosi jiwa dan raga
Selalu salut sama para cendekiawan soshum yang bisa berargumen secara jelas, tertata, artikulatif, meski sambil menahan emosi.
Kalo gue yang jadi narsum, niscaya:
"HADEHHHH, LU PADA RUKYAH DAH"
"ZOLIM LUU TUH SAMPE ASEAN" atau
"TEDDD LU JANGAN KECENTILANNN
Kalo kamu merasa ga nyaman cuma karena liat berita jelek, bayangin orang2 yang ada di dalem berita jelek itu, korban bencana, korban kekerasan, korban dampak ekonomi, itu semuanya orang beneran ngalamin peristiwa yg beneran, bukan lagi akting
Lagian aneh banget sih negara ini.
Katanya negara agraris, tp harga buah dan sayur mahal.
Katanya negara maritim, tp harga ikan mahal.
Lahan sawit dimana-mana, tapi harga minyak sawit mahal.
Swasembada beras tp harga beras jg mahal.
Covid kerasa nggak ada apa apanya dibanding kondisi Indonesia sekarang. At least waktu itu Pemerintah "ada". Sekarang, mereka salah satu bencana itu sendiri.
Tiga ancaman yang berbahaya: Rupa-rupa, paru-paru, pura-pura
.
Negerinya sedang menghadapi rupa-rupa bencana. Rakyatnya berpotensi punya paru-paru yang tidak baik-baik saja. Pemerintahnya malah pura-pura baik-baik saja
Bagian terpenting pesan ini adalah informasi tanggap bencana dan langkah2 praktis-taktisnya.
Lalu pengarahan ke saluran informasi resmi. Mengingatkan kpd warga agar hanya merujuk pada kanal resmi BMKG, Badan Geologi KESDM, BPBD, Pemprov, dan nggak menyebarkan berita yg belum terverifikasi.
Tp bagian terbaiknya adl penyampaian Pramono yg tenang-terstruktur dgn setting ruangan bersih, serta memakai soft lighting.
Gestur dan nada bicara Pramono runtut dan tidak menimbulkan kepanikan. Calm leadership spt ini cocok utk pesan2 darurat publik.