Logikanya, orang kalau jadi korban kabut asap langsung. Menyaksikan bayi-bayi dan lansia sesak napas berbulan-bulan. Menyaksikan rumah-rumah terbakar ludes. Menyaksikan orang-orang makin menderita. Mereka butuh dibantu disuarakan. Bukan malah marah marah pada orang yang terus bersuara untuk keadaan berbulan-bulan sesak ini. Kecuali, mereka memang bagian yang diuntungkan, bagian yang ikut nanam sawit setelah lahan dibakar. Bagian yang menerima upah dari perusahaan pembakar lahan.
Masih nggak ngerti logika berpikirnya, kenapa ada orang yang katanya berada di area kabut asap. Merasakan langsung deritanya. Melihat langsung penderitaan warga di sana. Masih bisa marah pada orang yang protes dan kritik soal kabut asap pada pemerintah. Apakah mereka ini bagian yang ikut diuntungkan dari lahan dibakar? Entah yang nanam sawitnya atau pekerja di perusahaan pembakar hutannya. Kalau iya, masih bisa dipahami mengapa mereka kesal kabut asap ini dikritik.
Jangan meremehkan apa-apa yang sedang diperjuangkan orang lain, terutama mereka yang hidup dalam penderitaan. Kepedihan yang mereka rasakan bisa menjelma hari-hari buruk padamu, buah dari apa yang kau sampaikan, bahkan tanpa mereka berdoa apa pun.
Warga,
Sembilan petugas dan relawan karhutla meninggal dunia sepanjang 2026. 😔
Kami yang juga turun langsung ke lapangan tahu, betapa besar risiko yang dihadapi mereka demi menyelamatkan kehidupan.
Mereka bukan sekadar angka!!
Ada keluarga yang menunggu mereka pulang.
Jangan sampe nyawa terus berjatuhan, sementara hutan terus terbakar dan negara terlambat bertindak.
Kami akan terus bergerak dan saling jaga.
Tapi keselamatan warga dan relawan harus menjadi tanggung jawab negara!!
Turut berduka cita sedalam-dalamnya.
#SalingJagaWarga
Kenapa ada orang yang padahal bisa minum kopi, punya ponsel brand, masih bisa hidup dengan kendaraan yang layak, tapi masih ngomongin politik? Sederhana sekali, mereka punya kesadaran bahwa politik itu bukan urusan personal. Bukan urusan perut mereka semata. Mereka sadar bahwa kenyamanan hidup yang mereka punya, bisa jadi berkaitan dengan hidup orang lain yang lebih menderita tapi tidak punya kapasitas untuk bersuara. Maka mereka bersuara sebagai bentuk solidaritas, sebagai bentuk kemanusiaan.
Kalau orang baru keluar dari kemiskinan, biasanya memang agak sengak. Ia mulai merasa bisa membeli segala hal yang dulu enggak mampu dia beli. Jadinya, merasa kalau kebutuhan pokok naik, ya, tidak masalah, toh dia bisa beli juga sekarang. Tidak miskin lagi. Ia tidak akan pernah berpikir, kalau kebutuhan pokok naik, orang-orang yang sekarang miskin seperti dia dulu, akan makin menderita sekarang. Orang semacam ini memang tidak punya empati.
Aries Sutio, relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan, wafat ketika memadamkan api di Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah.
Dia meninggalkan seorang istri, Wasilah, dan seorang putri.
"Jangan sampai ada lagi korban dari kebakaran hutan ini," kata Wasilah sambil menangis.
Sebodoh apa seseorang yang malah terus menggeser kritik kabut asap hutan dan lahan dibakar ini dengan narasi pengkritik adalah barisan sakit hati pemilu? Tidakkah matanya terbuka, hati nuraninya tersentuh, dan kemanusiaannya bergetar melihat sebanyak itu korbannya. Pemilu sudah berlalu dua tahun tapi kebodohan melekat abadi di kepalanya.
Jika kabut asap masih bertebaran di udara dan menjadi racun. Semoga kabut asap itu tidak menjalar ke kepala kita dan membunuh empati dan menutupi rasa sesama manusia kita.
🎙️ #MinSi ‘Admin Fiksi’ Yap-Session Part 6 | JAGAL HARIMAU karya terbaru Boy Candra @dsuperboy 📚✨
Ketika tradisi berbenturan dengan hati nurani, pilihan apa yang harus diambil?
📚 Tersedia di Gramedia Store dan Shopee Grasindo (link di bio)
Tulisan-tulisan kritik yang pendek, spanduk yang kecil, lagu yang beberapa menit, lukisan dari pelukis yang melawan, dan video-video protes, memang akan selalu mengganggu kekuasaan dengan telinga yang tipis, dan ambisi berkuasa yang tebal.
As forest fires and toxic haze in Indonesia’s Central Kalimantan continue to worsen, critics accuse authorities of failing to take adequate action to contain the crisis.