Sejujurnya gue gak tau ini tulisan akan mengarah ke mana, hanya pikiran random jam 2 pagi setelah melihat demo seharian tadi. If you have time silakan baca or feel free to skip.
Gue tumbuh besar di lingkungan yang sekitarnya penuh dengan kemiskinan. Gue sendiri berasal dari keluar yang biasa-biasa saja, mungkin hanya sedikit lebih beruntung dari yang lain.
Orang-orang hidup dengan serba kekurangan. Boro-boro punya tabungan atau rencana masa depan, besok pun belum tau gimana caranya dapetin makan. Segala macam cara dilakukan untuk bisa dapat uang tambahan.
Dulu kalo pagi suka ada tetangga nenek-nenek, namanya Romlah, sering datang ke rumah bawa jualan kayak jajanan kue atau gorengan, kalo siang ke sore dia lanjut pergi ke sawah. Beliau rajin banget, tapi anak-anaknya pun tetap harus putus sekolah.
Ada juga ibu-ibu tetangga yang buka jasa cuci baju, namanya Bu Sop. Orang di kampung gak punya mesin cuci jadi nyucinya masih dikucek sendiri manual. Beliau meninggal dunia karena penyakit kronis dan tidak punya biaya untuk rutin berobat.
Pengangguran ada banyak, yang putus sekolah banyak, yang sampai ke perguruan tinggi cuma sedikit sekali. Semuanya terhambat masalah ekonomi. Semuanya terjebak dalam kemiskinan struktural.
Yang hidupnya nyaman dan berkecukupan bisa dihitung jari. Gue termasuk yang berkecukupan, tapi tetap ga bisa seenak jidat minta macem-macem ke orang tua. Kalo pengen sesuatu biasanya harus nabung uang jajan sekolah dan beli sendiri.
Gue udah gak tinggal di lingkungan tersebut, tapi sampe sekarang gue selalu ingat betapa susahnya kehidupan orang-orang di sekitar gue dulu.
Sekeras apapun mereka berusaha dan bekerja mereka gak akan bisa keluar dari kemiskinan tersebut. Entah karena keterbatasan ilmu, kemampuan, atau akses ke informasi dan kesempatan.
Mereka gak punya kemampuan untuk mengubah nasib atau memperbaiki kehidupan. Mereka gak tau musti ngapain. Mereka cuma bisa pasrah. Mereka gak peduli siapa yang jadi pemimpin karena buat mereka, siapapun pemimpinnya toh hidup mereka ya begitu-begitu aja.
Di setiap masa pemilu, siapa yang bisa ngasih imbalan itulah yang akan dipilih. Mereka gak punya pilihan lain selain menerima.
Mereka adalah golongan yang rentan dimanipulasi dan dimanfaatkan.
Memang zaman sekarang orang sudah punya smartphone bahkan di daerah. Tapi teknologi tersebut tidak seimbang dengan kemampuan memilah informasi dan berpikir kritis. Belum lagi banyaknya media yang dikontrol, disensor, dan buzzer di mana-mana.
Kita, yang punya akses ke pendidikan yang lebih baik, yang mampu berpikir kritis, yang mengerti apa yang sedang terjadi di atas sana, yang bisa melihat kebohongan dan tipu muslihat, adalah wakil mereka.
Suara kita adalah suara mereka.
Perjalanan mungkin masih panjang, kita mungkin masih butuh banyak belajar, tapi gapapa pelan-pelan aja. Gue tau sangat mudah untuk merasa frustrasi dan putus asa di situasi seperti ini, tapi kita gak bisa buang harapan.
Bareng-bareng yok.
----------
Even if I have to die, I will use the only voice I have to make some noise.
A fan who met Hyunjin yesterday at the Picasso exhibition shared that he waited for them after the exhibition just so he could buy them coffee because he had always wanted to do that for fans 🥹
“Yesterday I happened to go to the Picasso exhibition, and I saw such a familiar silhouette that I thought ‘no way,’ but it really was Hyunjin!! I quietly went up to him, greeted him softly, and ran away right after because I didn’t want to make him uncomfortable. But after the exhibition ended, my friend and I came out through the exit, and suddenly Hyunjin came over and asked if it would be okay for him to buy us coffee.. He said he’d always wanted to at least buy fans coffee, but there was never a café near the exhibition halls before.. and since there was one right next door this time, he wanted to treat us. So Hyunjin bought coffee for me and my friend!! I think he had actually left much earlier, but waited near the exit just to buy us coffee..
While we were waiting for the coffee, we chatted for a bit too. He told us things like how it was his day off today and that he watched the World Cup at the dorm with Changbin hyung. He was so, so kind that I was really touched… Even my friend, who wasn’t interested before, said they were shocked by how kind he was! I really want more people to know how much Hyunjin loves his fans!!”