- udh ada sekolah negeri, bikin sekolah rakyat
- udh ada universitas negeri, bikin universitas republik indonesia
- udh ada warung, toko madura, indomar*t, dll., bikin kopdes merah putih
- MBG
semua programnya gaje, ga ada urgensinya, jd ladang basah, dikelola circle dia semua
๐ฃ๏ธ: "Perempuan itu ibarat bunga, semakin tua
semakin layu. Kalau sudah layu siapa yang mau?"
Maaf, tidak semua perempuan adalah bunga.
Sebagian dari kami adalah pohon jati.
Semakin tua semakin mantep๐๐ป
Salah satu suami itu saya, yang juga menitipkan anak kami di daycare sewaktu mereka kecil. huehue
Iyes, saya sudah menduga pasti yang akan "kena getok" banyak di sebagian atensi publik setelah kejadian ini adalah menyalahkan ibu-ibu, dan yang melakukan itu juga dari kalangan ibu-ibu.
Tanggapannya bahkan lebih nyelekit, padahal sesama perempuan. Harusnya bisa saling empati karena punya peran yang sama ya.. ternyata tidak semua juga. :D
Cuma mau cerita begini bang.
Iyes. Ibu-ibu. ralat bukan ibu-ibu, tapi orang tua, Ayah dan Ibunya, yang nitip anaknya itu ke daycare, juga mungkin sudah pilihan sangat-sangat terakhir.
Ibu harus bekerja, dia punya karir, punya profesi. Mungkin iya, ada yang terpaksa karena kebutuhan keluarga belum tercukupi.
Tapi ada kok yang suaminya mampu memenuhi secara ekonomi. Cuma memang ya istrinya memang punya profesi. Mau disuruh berhenti? semua perempuan tidak boleh bekerja? mereka punya mimpi jadi dokter, jadi dosen, jadi guru dll. Kayaknya guru-guru kita dulu banyak juga Ibu-ibu. :D
Mungkin itu langkah terakhir.
Mencari ART yang bisa ngasuh anak. Sekarang sulit nyarinya. Banyak yang jasa profesional kok. Tidak semua punya budgetnya cukup untuk itu.
Cari keluarga? kalau merantau, sulit untuk mengajak dengan waktu lama. Belum tentu ada yang mau. Belum tentu bisa juga. Mereka punya hidup masing-masing.
Nitip ke rumah orang tua? iya kalau lokasinya dekat. Kalau di kampung, dan mereka tinggal di kota besar? nd mungkin. Lagipula, kalau dekat. tidak semua orang tua mau dititipi. tidak semua orang tua bisa. kalaupun mau dan bisa, tidak semua anak mau menitipkan karena kasihan dengan orang tuanya.
Mungkin itu sudah langkah terakhir.
Lantas daycare ini berkasus. Ya benar harus dihukum.
Ya kalau tahu akan digituin, orang tua yang mana juga mau menitipkan disitu.
Pasti orang tua itu, survey, konsul, diskusi dulu sebelum menitipkan ke pengelola. Mereka tidak amanah.
Daycare itu pilihan terakhir.
Justru memang itu bagian support sistem yang harus diadakan. Ada yang membutuhkan.
Di tempat bekerja istri bekerja, disediakan 3 daycare. Memudahkan ibu-ibu untuk dapat berkunjung kapan aja. Kesana menyusui. Tengok sebentar. Memudahkan tetap bisa berkarya dengan impiannya. Tetap mengoptimalkan kebersamaan dengan anak.
Beberapa rumah sakit, menyediakan daycare, buat anak-anak yang Ibunya dokter, yang sedang tugas.
Beberapa kampus, menyediakan daycare, buat mahasiswanya yang sekolah. Kalau lagi belajar, anaknya bisa dititip disitu. Bahkan perpustakaan disediakan ruangan khusus untuk ibu-ayah yang mau belajar sambil bawa anak. Namanya family room. Isinya ruang belajar + ada mainan dan fasilitas lainnya buat anak.
itu tuh part dari support system, termasuk daycare.
Anda memilih untuk memiliki istri jadi full time mom, atau istri yang memilih jadi full time mom. Good, awesome, go for it.
Tapi jangan menjelekkan yang tidak memilih itu. Baik karena kondisi terpaksa atau karena memang memilih itu. Begitupun sebaliknya.
Tidak ada orang tua yang menginginkan hal yang buruk kepada anaknya.
Mana yang paling mulia? ya semua bisa mulia. Selama dijalani bertanggung jawab.
Jangan memberikan pilihan yang sulit, terutama yang membuat para istri menjadi bersalah. Bersalah memiliki mimpi. Bersalah punya karir. Kan tiap orang mimpinya beda. Selama suami-istri sepakat.
Jelas pasti ada trade offnya. Makanya butuh support system.
Anak jadi korban? justru support system itulah yang perlu dihadirkan biar itu tidak terjadi.
Kurang tepat mudah langsung menyalahkan orang tua lain. Judging istri/ibu yang memilih menitipkan ke daycare.
Daycare itu pilihan terakhir. Termasuk di kami. Sebagai suami? ya akhirnya kami memilih itu juga. Sebagai langkah paling optimal. Karena situasi dan kondisi.
Dan yang paling penting, mimpi istri tetap kami perjuangkan bersama. Bagi saya anak seharusnya tidak jadi penghalang atau bahkan menghentikan itu. Saya sampaikan ke istri demikian. Kami akan tumbuh bersama. Termasuk konsekuensi pilihannya. Kami harus put effort di hal yang lain. Yo nd apa.
Sekarang, anak-anak sudah agak besar. Mereka tumbuh melihat itu. Ternyata anak-anak menjadi kuat, lebih mandiri, anak-anak perempuan itu bangga dengan Ibunya. ๐ฅฒ