>Mumpung gabut saya rangkumin isi videonya (khususnya buat buzzer)
>Anies bilang kondisi Indonesia sekarang tuh lagi ga baik-baik aja. Rupiah jatoh ke titik terendah sepanjang sejarah, harga barang naik, lapangan kerja makin dikit, daya beli masyarakat melemah.
>ke depan jg tantangannya masih panjang. Dunia lagi panas gara-gara geopolitik ama konflik Timur Tengah, ditambah El Nino kuat. Jadi masalah datengnya barengan, bebannya rakyat jadi dobel
>yg paling dibutuhin sekarang itu kepastian bukan sekadar narasi tenang aja atau masalah dianggap ga ada. Kepastian muncul kalo pemerintah transparan, buka semua data, kasih arah yg jelas, dan keliatan negara ini mau dibawa ke mana
>Masalahnya yg kejadian malah kebalikannya. Data yg ditampilin cuma yg bagus-bagus, yg jelek disimpen. Pejabat jg sering becanda atau terlalu enteng ngomongin masalah serius. Kebijakan hari ini beda ama besok, akhirnya pada bingung
>Padahal warning udah dateng dari banyak pihak. Dari ekonom dalam negeri, lembaga keuangan dunia, sampe media dalam dan luar negeri
>Solusi dia: berhenti kasih obat tidur ke rakyat. Buka semua data apa adanya, jujur ama kondisi, bikin kebijakan yg jelas dan konsisten, terus pemerintah harus beneran serius dari atas sampe bawah
Ikut urun rembug soal IGRS boleh ya… Dulu pernah terlibat langsung dalam rapat-rapat inisiasi awal bersama Menkominfo saat kami bertugas di Kemdikbud.
Ada dua pendekatan melindungi anak di konten digital. Pertama, membuat lingkungan “steril” lewat sensor dan pemblokiran. Kedua, membangun “imunitas” pada anak serta keluarga. Pendekatan kekebalan jauh lebih berdampak dan berkelanjutan.
Rating game seharusnya menjadi alat bantu bagi orangtua untuk membangun kekebalan anak dgn melatihnya jadi mandiri dan cakap melindungi diri sendiri, bukan jadi instrumen sensor bagi pemerintah.
Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya bekerja sama erat dengan komunitas game. Lebih baik lagi, biarkan komunitas itu sendiri yang menjalankan sepenuhnya dengan difasilitasi pemerintah. Tak perlu berpretensi serba tahu apa yang terbaik bagi setiap segmen masyarakat. Punya wewenang tidak otomatis punya pengetahuan.
IGRS selayaknya jadi alat pemberdayaan, bukan pembatasan. 🙏
——
Sosialisasi ESRB di 2016, saat belum ada IGRS: https://t.co/KE3lc9tkB0
"Literacy is a responsibility. It enables one to leave one's word to posterity. A certain level of aptitude and cultivation is required to wield that power. If everyone could write, we'd be deluged by worthless words"
Orb: On the Movements of the Earth
Ending Genocide, Enforcing Justice
The world cannot continue to pretend that reasonable solutions will be possible so long as Israel remains under the leadership of Benjamin Netanyahu’s regime. His government has overseen a genocidal campaign that has crossed the threshold of humanity’s most serious crime. Until accountability is enforced and the present path is altered, the prospect of genuine peace will remain obstructed.
At this moment, the most urgent priority is not abstract negotiations, but the immediate cessation of the ongoing genocide in Gaza and the lifting of the inhumane blockade that strangles its people. The United Nations Independent International Commission of Inquiry on the Occupied Palestinian Territory has already determined that Israel is committing genocide in Gaza. There is no moral or legal basis to soften this language. Meanwhile, the International Criminal Court has issued an arrest warrant against PM Netanyahu for war crimes and crimes against humanity. The international community must recognize that words of condemnation alone are no longer sufficient. Justice must follow!
The logical next step is to ensure that these crimes are prosecuted before an international tribunal. Anything less would be an abdication of the duty to uphold international law and human dignity. Some nations in the West have begun to recognize the State of Palestine, an overdue act that tragically required the enormity of genocide to compel action. But this must not be the endpoint. The next decisive move is to secure Palestine’s full membership in the United Nations, affirming the rights of its people in the family of nations.
Only after halting the genocide, securing justice for the victims, and ensuring Palestine’s rightful place in the international order, can we begin to speak of a sensible, durable solution for all. Until then, the credibility of the international system itself hangs in the balance. For it is not only Gaza that is under siege, but also the very principles of justice and humanity on which our common future depends.
"Aduh ga ngerti politik, ga mau ikut-ikutan"
Let me tell you, bersih atau kotornya udara yang kalian hirup setiap detiknya itu tergantung politik.
Bawang, cabe, sayur ada atau engga di dapur kalian itu tergantung politik.
Kalian masih hidup atau engga itu tergantung politik.
Saya paham banyak yang marah ke kaum 58%
Tapi saya mau kasih sudut pandang dulu...
Kebanyakan dari kaum 58% atau voter 02 adalah kaum vulnerable.
Dalam artian antara mereka gak cukup literasi, gak cukup kritis, atau kondisinya lagi sangat vulnerable sehingga gak bisa mikir kritis (inget ga kalau ga salah RK bilang "yang milih tu bukan yang pintar tapi yang jualan cilok or something like that")
Jadi yang lebih harus dikutuk adalah yang jadi STRATEGIST-NYA
Timsesnya
Artis yang ngikut kampanye nya
Influencer yang ikut ngedukung dan nge-kampanyein
Orang pintar yang ikut strategiin
Pengusaha yang modalin
Sponsor dan lainnya
5 kata buat mereka
"anjing goblog ngentot tai babi"
21 tahun itu harusnya waktunya dia:
- Wisuda S1,
- Meniti awal karirnya,
- Mulai menjalin hubungan,
- Menabung buat membangun keluarga.
Beliau cari nafkah halal dengan jadi ojek online.
Beliau bukan mau berperang.
Tapi terlindas kendaraan lapis baja.
Rest in Power, Afan Kurniawan.
Ingat selalu namanya.
Seperti nama-nama lain yang kita ingat, yang dibunuh oleh negara.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kita amat terpukul dan geram atas wafatnya Affan Kurniawan, pengemudi ojol yang meninggal tragis saat menyuarakan hak. Hidup muda penuh harapan terenggut dalam perjuangan keadilan.
Kepada keluarga almarhum, doa dan dukungan kita menyertai. Tidak ada yang dapat mengobati luka kehilangan putra tercinta.
Affan berkumpul dengan ribuan rakyat karena hak konstitusional mereka. Kita harus berdiri bersama mereka yang menuntut keadilan dan melindungi hak menyuarakan pendapat.
Kita mendesak investigasi transparan dan proses hukum tegas. Langkah Kapolri dengan permintaan maaf terbuka harus dituntaskan dengan penegakan hukum konsekuen.
Ke depan, penyampaian aspirasi harus tetap bisa dilakukan tanpa rasa takut. Namun, bagaimana rakyat dituntut menyampaikan aspirasi dengan damai jika wakil rakyat dan penyelenggara negara berperilaku semena-mena dan berkomentar semaunya yang meremehkan akal sehat publik?
Tuntutan penyampaian aspirasi damai harus diimbangi kesediaan mendengarkan dan mempertimbangkan aspirasi secara serius dan beradab, bukan malah meremehkan hingga memantik kemarahan dan keputusasaan publik.
Terima kasih kepada sesama rakyat yang saling menjaga dalam demonstrasi kemarin. Sikap rakyat ini menunjukkan kekuatan dan kedewasaan dalam berdemokrasi.
Jangan ada lagi nyawa melayang saat menyampaikan aspirasi. Keadilan harus hadir sekarang, untuk Affan, keluarganya, dan masa depan demokrasi kita.
Dia bangun lebih pagi dari kebanyakan orang, tapi tetap tidur dengan perut kosong.
Masihkah kita bilang dia malas?
Setiap hari, jutaan orang di negeri ini bekerja tanpa henti, menjadi buruh bangunan, tukang cuci, pedagang kaki lima, pemulung. Mereka bekerja dengan tangan, punggung, dan nyawa. Tapi tetap miskin. Bukan karena kurang usaha. Bukan karena tak punya mimpi. Tapi karena sejak awal, mereka bertarung di medan yang tidak adil.
Kita diajari bahwa “rajin pangkal kaya”, seolah semua orang memulai dari garis yang sama. Tapi kenyataannya tidak. Ada yang lahir di rumah nyaman dengan pendidikan terbaik, ada yang lahir di gang sempit tanpa listrik dan buku. Lalu kita menilai mereka dengan ukuran yang sama, seolah hidup ini kompetisi adil.
Kemiskinan tidak selalu terlihat dramatis. Kadang ia bersembunyi di balik seragam bersih anak sekolah yang diam-diam tak membawa bekal. Di balik senyum sopan seorang ojek online yang masih mencicil HP, jaket, bahkan motornya. Kita memujinya “rajin”, tapi tetap menganggap kemiskinannya sebagai kegagalan pribadi.
Padahal, mereka tidak butuh belas kasihan. Mereka butuh kesempatan.
Mereka butuh dunia yang berhenti menertawakan usaha orang kecil dan mulai membuka ruang agar usaha itu bisa tumbuh.
Jadi sebelum kita menyebut seseorang “tidak berusaha”, tanyakan dulu:
Berapa banyak pintu yang sudah ditutup di hadapannya?
Dan berapa lama lagi dia harus lapar agar akhirnya kita percaya, bahwa dia sudah berjuang sekuat tenaga?