Yes. Exactly this. Mundane, “boring”, but a peaceful and happy life. When you hit your 30s or 40s (well… me especially), you no longer seek validation, your happiness doesn’t need an external audience, your life is no longer performative.
Banyak orang yang nguber hidup yang ‘exciting’ dan penuh drama karena they have not arrived yet. They have not understood that mundane, boring, and peaceful are the kind of lofe that rewards body, mind, and soul.
If you love your mundane and boring life, well… congratulations. You have arrived. 🩷
Recap 4 hari usaha menyapih:
Hari-1: Nangis 30 menit, berhasil bobo dengan digendong. Pas bobo kebangun 1x, msh nen.
Hari-2: Nangis heboh 45 menit lebih, bobo digendong. Kebangun berkali-kali dan nyariin nen trs.
Hari ke-3: tanpa drama karna tertidur pas di mobil. Tetep kebangun sekali dan minta nen. Marah pas mau dikasih air putih dan digendong. Yaudah nen lagi.
Hari ke-4: tanpa drama nangis dan ngga minta nen samsek sblm bobo. Tp jadi mlm bgt bobonya jam 11. Kebangun sekali msh mnt nen.
Anak yang mendebat Dedi Mulyadi emang cara berpikirnya "salah". Namanya juga anak-anak yang tidak tumbuh di lingkungan ideal. Yang bermasalah justru Dedi, karena mempublikasikan video sehingga anak dihujat publik.
PERTAMA, dalam kasus ini ada prinsip fundamental etika kepemimpinan dan hak asasi manusia yang dilanggar: prinsip non-maleficence — do no harm. Seorang pejabat publik seperti Dedi Mulyadi, yang berposisi sebagai figur otoritas, wajib memastikan bahwa tindakannya, termasuk di media sosial, tidak menyebabkan kerugian psikologis, sosial, atau reputasional terhadap individu yang lebih rentan, apalagi anak-anak.
KEDUA, dalam konteks perlindungan anak, PBB menegaskan bahwa anak-anak berhak atas perlindungan privasi. Mereka berhak mendapatkan perlindungan dari eksploitasi atau penyalahgunaan oleh media.
Memvideokan seorang anak lalu menyebarkannya ke publik, apalagi dalam konteks di mana si anak akan dihujat, jelas melanggar prinsip ini. Di negara-negara maju, tindakan seperti ini bisa berujung pada tuntutan hukum atau setidaknya kritik keras dari komunitas perlindungan anak.
KETIGA, dari perspektif leadership ethics, ada kegagalan besar di sini. Seorang leader, apalagi pejabat publik, harus tahu membedakan mana ruang koreksi privat dan mana yang pantas diumbar ke publik. Alih-alih mengedukasi secara personal dan melindungi integritas si anak, Dedi memilih jalur eksposur yang mempermalukan. Ini menunjukkan:
Kurangnya emotional intelligence,
Kurangnya public responsibility awareness,
Kurangnya media literacy dalam era digital.
KEEMPAT, anak yang tidak tumbuh di lingkungan ideal — sebenarnya adalah potret nyata dari banyak anak Indonesia hari ini: mereka tumbuh dalam ketidaklengkapan informasi, nilai yang bias, pendidikan yang compang-camping. Mereka tidak salah, mereka adalah produk lingkungan. Dan tugas seorang pemimpin bukan mempermalukan produk lingkungan ini, melainkan memperbaiki lingkungannya.
🟡 HAPPENING NOW: Police are cracking down on protests in Jakarta and other parts of Indonesia, where people are demanding the repeal of a controversial military law. In the capital, crowds have once again gathered outside the national parliament. Reports say officers have searched and disbanded street medics and damaged medical supplies. Water cannons were used against demonstrators.
Protesters also report that plainclothes intelligence agents are carrying firearms. Police have begun dispersing the crowd, arresting several people as tensions escalate. The law, passed behind closed doors, allows active-duty military officers to hold civilian posts across key state institutions.