Surya & Aurel Open Commission!
Turn your favorite moments into something extra cute!β¨π Commissions are officially OPEN! My slots are limited, so grab yours while they last! Slide into my DMs to order! π
#OpenCommission#CommissionOpen#CoupleIllustration#CustomPortrait#chibi
Dulu gue pernah marathon The Law of Ueki nonstop sampe begadang (karna libur kuliah), cuma 2 hari doang kelarin 51 episode. Jadi sangat mungkin banget 10 hari 400+an episode marathon
Orang ini mulai nonton ONE PIECE di 5 April. Buset 404 episode dalam 10 hari π±
Ada yang punya pengalaman sama maraton ratusan episode anime (atau apapun)?
Surya & Aurel Open Commission!
Turn your favorite moments into something extra cute!β¨π Commissions are officially OPEN! My slots are limited, so grab yours while they last! Slide into my DMs to order! π
#OpenCommission#CommissionOpen#CoupleIllustration#CustomPortrait#chibi
Point of meludah di sumur sendiri bermakna "lu ga betah, lu jelek-jelekkin ke luar, lu ga improve, tp lu masih butuh duitnya"
Berkali-kali gue sharing ke temen-temen gue, kalo ga betah ya cabut dan cari yg sesuai dengan ekspektasi dan passion lo
Sorry keknya salah nangkep maksudnya. Meludah disini tuh = menjelek-jelekan.
Mengkritik? Gue meyakini karyawan pasti udh coba kritik, baik secara halus atau blak-blakan. Tapi karyawan bisa apa? Gamungkin langsung boom berubah besoknya
Sebenarnya aku gak mengerti dengan perumpamaan "Jangan meludah di sumur sendiri" dalam konteks pekerjaan.
Kenapa mengkritik itu diibaratkan meludah? Kenapa nggak dibayangkannya mengkritik itu buat ngebetulin masalah pada sumur/perangkatnya?
Misalnya, ada sumur nih terus si embernya bocor. Terus kita bilang,
"Yah elah, nimbanya udah capek tapi dapat airnya dikit mulu dah. Ternyata bocor. Jelek sih kualitas embernya, pantesan gampang bocor".
Bukannya dengan mempoint out masalah itu biar embernya diganti ya dengan yang gak bocor? Kenapa diibaratkannya tuh meludah ke sumurnya?
Memangnya dalam kondisi literal pun kalau ada masalah gitu, orang akan meludah beneran ke sumurnya?
Ini juga seringkali terjadi deh saat kerja di pemerintahan Tuvalu. Kalau sidak, yang jelek-jeleknya ditutupin. Biar kayak gak ada masalah. Padahal kan diomongin ya biar diperbaiki??
Gue cenderung suka proses brainstorm, adu bacot, diskusi sampe malem. Eh tapi pas udah jadi nih eventnya, yaa biasa aja rasanya. Sampe ada momen tim gue bilang ke gue klo gue gada senyum sama sekali pas event berjalan wkwkwk. Kek udah gaada "joy" saat acara
Jujur aja capek tiap tahun handle event gede. Sampe pada tahap udah kebal caci makian dari orang2 dan mati rasa ketika hari H. Jujur aja, saat ini gue lebih menikmati prosesnya ketimbang hasilnya
terlalu dalam sehingga kesan api-api olahraganya jd samar. Tapi yaa itu bagi gue pribadi sih. Dah sekian review dari gue, masih recommended kok buat ditonton
Baru banget selesai nonton ini dan mo kasih review ala-ala dari sudut pandang gweh
Disclaimer: murni opini gue pribadi. Gue termasuk suka anime tema sport baik yg masuk akal atau yg diluar nalar π
Kita sama-sama tau gimana sinema Jepang memperlakukan olahraga dalam animasi-animasi mereka. Epik! Gak terkecuali 100 Meters-nya Kenji Iwaisawa yang diangkat dari manga Uoto (Orb: On the Movements of the Earth).
100 Meters bukan sekadar sport movie tentang lomba lari cepat aja, tapi ia juga nyaris filosofis. Mempertanyakan apa sih arti "berlari" buat kita manusia? Kenapa kita rela ngedorong batasan tubuh sampe maksimal cuma demi lari 100 meter mentok yang cuma makan waktu kurang dari 10 detik?
Ceritanya mengikuti dua rival abadi: Togashi, si jenius alami yang dari kecil menang gampang tanpa effort berlebih, dan Komiya, anak transfer yang awalnya cupu tapi obsesinya meledak-ledak setelah diajari lari sama Togashi. Dari pertemuan mereka di sekolah dasar, sampai bertahun-tahun kemudian jadi atlet profesional, 100 Meters nge-span waktu yang panjang, bikin kita ikut ngerasain perjuangan merekaβdari euforia kemenangan, krisis identitas, cedera, sampai pertanyaan eksistensial: "Kenapa masih terus lari kalau udah mentok?"
Yang bikin 100 Meters beda dari sports anime pada umumnya adalah pendekatan Kenji Iwaisawa. Setelah On-Gaku: Our Sound yang eksperimental banget, di sini dia pake rotoscoping secara masifβmereka rekam gerakan para pelari sungguhan (termasuk atlet pro), lalu ditrace dan animasikan ulang. Hasilnya? Kamu bakal nemuin gerakan animasi lari yang hiper-realistis, otot bergetar, napas tersengal, keringat beterbangan. Udah berasa kayak nonton live action tapi dengan kebebasan animasi. Pas scene race klimaks, waktu kayak diperlambat, warna meledak, dan kita benar-benar ngerasain adrenalinnya.
Uoto, yang kita kenal dari Orb yang berat dan intelek itu, di debut manganya (Hyakuemu) sudah nunjukin kalau olahraga bukan cuma kompetisi, tapi metafora hidup itu sendiri. Motivasi karakter-karakternya kompleks. Ada yang lari buat kabur dari masa lalu, ada yang buat buktiin diri, ada yang cuma karena "karena bisa". Dialognya minim, tapi visualnya banyak bicara, mirip gaya Iwaisawa yang ekspresif lewat gambar daripada kata-kata.
Buat fans sports anime klasik kayak Haikyuu!! atau Slam Dunk, 100 Meters lebih ke introspektif dan dewasa ketimbang murni full olahraga dan persaingan. Fokusnya lebih ke psikologi atlet, bukan cuma soal menang atau kalah. Tapi tetep ada momen-momen epik yang bikin bulu kuduk berdiri, apalagi scoring-nya Hiroaki Tsutsumi yang nendang banget.
Kalau kalian lagi cari sports anime yang gak cuma bikin semangat tapi juga filosofis, ini wajib!
4/5
Overall, bagi gue filmnya 7/10 lah. Secara tema sport gue masih suka, cuma secara story bagi gue terlalu membosankan. Mungkin bagi orang2 film ini memberikan makna "filosofis" banget akan kehidupan. Ekspektasi gue bakalan jd film yg berapi-api karna olahraga, eh ternyata