Di umur 30, gue perhatiin satu fenomena.
Cewe-cewe yang belom nikah dan gila kerja tuh punya energi yang beda.
Mereka bangun pagi. Kejar deadline. Meeting sana-sini. Pulang malem, besoknya ngulang lagi.
Dan gue mikir: mereka ini bukan cuma pekerja keras.
Mereka anggota Persatuan Deadline Indonesia.
La gente te llama “independiente”, pero no ven la versión de ti que secretamente quiere derrumbarse en los brazos de alguien, y que esta vez sí que la atrapen.
Kalian tau ga sih, Pak SBY dulu pas jaman
krisis global mau naikin bensin
400 PERAK doank aja dia pidato loh Live di TV2..
beliau minta maaf ke rakyat dengan wajah yg sedih.
Minta maaf berkali2 harus ambil keputusan itu.
Dia juga banyak kekurangannya, tapi sumpah gw kangen dengan pemimpin kek gitu, yg bertanggung jawab, yg punya empati ke rakyat!
Bukan malah denial bilang rupiah lemah ga ngaruh! Rakyat cuma butuh makan, ga mimpi jadi kaya! 4jg 4jg
cc:threadris_kaanisya
Melihat video bagaimana menstruasi terjadi ini harusnya bisa membuat kita lebih menghargai perempuan.
Menstruasi bukan “cuma keluar darah”.
Bagi jutaan perempuan di dunia, termasuk di Indonesia, setiap bulan adalah perjuangan dengan berbagai keluhan seperti kram perut, punggung pegal, kepala pusing, payudara nyeri, hingga mood berantakan karena hormon. Bahkan pada perempuan dengan endometriosis, mioma, atau PCOS, nyeri dan perdarahan menstruasinya bisa lebih berat.
Untuk para perempuan, kalian hebat banget!
Kalian tetap bangun pagi, tetap kerja, tetap tersenyum, tetap mengurus keluarga, meski di dalam tubuh sedang “perang”.
Terima kasih karena telah kuat.
Cinta Laura Kiehl baru saja membuat Instagram Story panjang bertajuk “LISTEN UP” dan langsung jadi perhatian.
Jadi ceritanya saat sedang traveling di bandara, tas bagasinya dicek karena ada benda mencurigakan (ternyata ankle weights miliknya untuk olahraga). Namanya dipanggil lewat microphone, lalu ia “dilempar” dari satu staff ke staff lain tanpa arahan yang jelas.
Staff yang mendampinginya awalnya cuek dan tidak membantu. Bahkan saat Laura bertanya, jawabannya hanya “walk to counter 20” tanpa ada bantuan lebih lanjut.
Baru setelah Laura membuka kacamata dan staff tersebut mengenali siapa dirinya, sikapnya langsung berubah total 180 derajat, jadi ramah, helpful, dan attentive.
Cinta berpandangan bahwa jarang sekali ia complain secara publik, tapi kali ini ia merasa harus speak up karena pengalaman yang menurutnya sangat salah.
Cinta Laura menulis bahwa ia sedih bukan karena ketidaknyamanannya, tapi karena menyadari bahwa “siapa kita” sangat memengaruhi bagaimana kita diperlakukan.
Ia sadar dirinya beruntung punya privilege, tapi justru karena itu ia merasa punya tanggung jawab untuk menyuarakan hal ini.
“Shame on you! Do better,” katanya kepada airline yang bersangkutan (ia tidak sebut nama secara publik, tapi sudah mention di story).
Bisa dibayangkan tidak apabila yang mengalami adalah masyarakat biasa seperti kita..
Guys...
tanggal 25.
Hari gajian.
Dan entah kenapa rasanya berat banget.
Notifikasi masuk. Rp3.200.000.
Seneng 3 menit.
Menit ke-4 kos 1,2 juta.
Menit ke-5 transfer ke Mama 500 ribu.
Menit ke-7 WiFi listrik cicilan.
Menit ke-10 beras minyak sabun makanan kucing.
Sisa 300 ribu.
Buat 30 hari.
Sehari 10 ribu.
Dan itu semua selesai sebelum jam 10 pagi.
Gaji datang ngasih harapan, pulang ninggalin tagihan sama Indomie.
Yang bikin makin sesak adalah malamnya. Jam 2 dini hari, kipas angin nyala tapi yang muter malah otak. Gimana kalau sakit.
Gimana kalau motor rusak.
Kos bulan depan naik ga ya. Temen ngajak nongkrong bilang ga ada duit dikira ga solider.
Umur 27 tabungan masih nol sementara FYP isinya orang umur 22 udah punya 100 juta pertama.
Banting HP ke kasur.
Di kos sendirian.
Yang nemeni cuma kucing sebelah yang ngeong minta makan.
Dikasih wet food 5 ribu.
Kucingnya kenyang tidur pules.
Dia sendiri laper tapi ga berani pesen GoFood karena 10 ribu itu jatah makan besok.
Dan waktu Mama nelpon nanya uangnya cukup apa nggak...
"Cukup Ma."
Jawab cepet.
Sambil ngitung dalam kepala nasi sama garam aja cukup ga buat besok.
Bohong "cukup" ke Mama itu menetap.
Setiap bulan.
Dan overthinkingnya juga ikut menetap.
Guys capeknya hidup kaya gini bukan di kantor.
Tapi di tanggal 26 sampai tanggal 24 bulan berikutnya. Pas harus senyum padahal rekening tinggal doa.
Tapi dia masih bangun besok.
Masih kerja lagi.
Masih nyisihin 5 ribu buat kucing sebelah.
Buat siapapun yang relate sama cerita ini, kalian ga gagal.
Kalian udah luar biasa bisa sejauh ini dengan kondisi yang sekeras ini.
Besok coba lagi ya.
Satu hari sekali.
Guys pagi-pagi udah bikin ngakak
Bayangin seleksi manajer koperasi desa tapi pesertanya dikumpulin rame-rame sampai satu stadion kayak lagi audisi ajang pencarian bakat.
Jadi netizen pada bercanda:
“Ini konsep wawancaranya gimana dah?”
HRD pegang mikrofon terus teriak:
“APAKAH KALIAN SIAP MENJADI MANAJER?!” 🎤
Satu tribun jawab:
“SIAPPPPP!
kabarnya sih bakal di hadirin prabowo
buat apa coba
Yang bikin orang melongo itu posisi yang dicari bukan staff biasa doang…
tapi manajer koperasi.
Biasanya orang bayangin interview manajer tuh:
presentasi
one by one interview
tes leadership
diskusi strategi
Ini malah vibes-nya kayak nobar final sepak bola campur seminar motivasi
Sampai netizen bilang:
“Indonesia tuh kadang kalau bikin proses seleksi suka cinematic banget.”
Saya tahu ini cuma insert dari Kompas TV but ini langkah cerdas juga. IHSG ditampilin pas blionya bicara
dalam 2 menit beliau pidato, IHSG Anjlok 5 poin
It was like: keep talking, but IHSG will keep sliding
zulkifli hasan baru aja buat postingan dengan caption
Ada anomali yang menyakitkan di negeri ini.
Di tanah yang paling kaya sumber daya alam, justru banyak rakyat hidup miskin.
Di wilayah yang menghasilkan kekayaan besar, justru kerusakan lingkungan paling parah terjadi.
Ini sudah terlalu lama. Cukup. Harus disudahi.
padahal dirinya sudah lama jadi pejabat
Menteri Koordinator Bidang Pangan → ±1 tahun 7 bulan
Menteri Perdagangan → ±2 tahun 4 bulan
Ketua MPR RI → 5 tahun
Menteri Kehutanan → ±4 tahun 11 bulan
Ketua Umum Partai Amanat Nasional → ±11 tahun 2 bulan
Total keseluruhan ≈ 25 tahun.
25 tahun jadi pejabat elu ngapain aja koplak
Guys, Mahfud MD baru bicara sesuatu soal pernyataan Prabowo tentang rupiah yang menurut gue paling jujur dan paling menampar yang pernah gue dengar dari mantan pejabat setingkat dia.
Dan Mahfud bukan ekonom.
Dia sendiri bilang itu.
Tapi justru itu yang membuat kata-katanya jauh lebih mematikan.
Apa yang Mahfud katakan soal pernyataan Prabowo:
"Dari keseluruhan statement presiden selama menjadi presiden ini yang paling banyak menimbulkan olok-olok."
Pernyataan mana?
"Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa kan enggak pakai dolar."
Mahfud bilang:
Maaf kasar sekali olok-oloknya itu.
Dan itu masuk terus berkesinambungan.
Dari nenek, kakek, muda, putra putri di media sosial muncul terus diolok-olok betul presiden kita ini."
Seorang mantan Menko Polhukam.
Mantan Ketua MK.
Mantan anggota Komisi Reformasi Polri.
Orang yang hidupnya dihabiskan untuk menjaga martabat institusi negara harus dengan susah payah mengakui bahwa presiden kita sedang diolok-olok oleh rakyatnya sendiri karena satu pernyataan soal dolar.
Dan Mahfud langsung koreksi pernyataan Prabowo dengan sangat jelas:
"Memang ada benarnya bahwa masyarakat desa tidak pakai dolar.
Tapi apakah hanya itu kebutuhan orang?
Kita negara yang pinjam uang setiap hari berurusan dengan dolar.
Harga impor pangan kita dibayar dengan dolar. Pinjam ke luar negeri pakai dolar.
Formirinya pakai dolar.
Kalau pakai dolar di desa-desa mungkin orang secara subsistens makan dari berasnya sendiri sayurnya sendiri.
Tapi masa cuma itu kebutuhan orang?"
Ini bukan analisis ekonom.
Ini akal sehat yang Mahfud sebut sendiri public common sense.
Dan kalau pernyataan presiden tidak lolos uji akal sehat paling dasar itu masalah yang jauh lebih serius dari sekadar pilihan kata yang kurang tepat.
Dan soal Purbaya Mahfud juga tidak menyimpan kata-kata:
Purbaya bilang urusan rupiah itu urusan Bank Indonesia bukan urusan Menteri Keuangan.
Mahfud langsung potong:
Kalau begitu jangan jadi Menteri Keuangan.
Bu Sri Mulyani juga tahu itu urusan BI tapi dia diangkat agar bisa membuat BI-nya begitu, polisinya begitu, hakimnya begitu, semuanya tahu konteks.
Kalau sekarang penyelundupan bilang bukan urusan saya itu urusan polisi lalu apa fungsinya dia?"
Dan Mahfud kasih satu analogi yang sangat logis:
kalau Menteri Keuangan bilang itu urusan BI nanti BI bilang itu urusan presiden nanti presiden bilang loh urusan rakyat kenapa milih saya "Bubar kan negara ini."
Dan soal The Economist yang menulis Indonesia dalam kondisi berbahaya:
The Economist minggu ini menulis editorial khusus tentang Indonesia.
Penilaiannya buruk.
Kata yang dipakai:
"jeopardizing" membahayakan.
Boros dan otoriter.
Membahayakan demokrasi sekaligus ekonomi.
Mahfud bilang:
Mudah-mudahan ini disadari.
Dua kata.
Tapi di balik dua kata itu ada keprihatinan yang sangat dalam dari seseorang yang tahu betul bagaimana sebuah negara bisa rusak dari dalam karena dia pernah berada di dalam dan melihatnya langsung.
Dan soal solusi
Mahfud kasih dua poin yang sangat konkret:
Pertama:
restrukturisasi APBN.
MBG harus ditata ulang tata kelolanya.
Bukan dihapus tapi diefisienkan.
Mahfud bahkan mengutip penjelasan Prabowo sendiri bahwa kalau MBG dikelola langsung oleh Koperasi Merah Putih tanpa perantara bisa hemat 60%.
"Kalau itu bisa dilakukan ini jauh mungkin menyelamatkan dari peluncuran yang tidak akan bisa dihentikan kalau tidak ada restrukturisasi anggaran."
Kedua
dan ini yang paling penting:
presiden perlu tahu bahwa pernyataannya keliru. Bukan dari musuh politiknya.
Bukan dari oposisi.
Tapi dari orang-orang yang mau negaranya baik.
"Kesalahan itu bukan hanya ahli ekonomi yang bisa nyatakan salah."
Dan ini yang paling menggelitik dari seluruh diskusi:
Mahfud bilang dia sudah lama tidak pernah berpikir soal dolar naik atau turun karena bukan urusannya dan kebutuhannya sudah cukup.
Tapi dia tetap bicara.
Tetap merespons.
Tetap mengkoreksi.
Karena ada sesuatu yang mengganggu dia bukan sebagai ekonom,
bukan sebagai mantan pejabat tapi sebagai warga negara yang melihat presidennya diolok-olok rakyatnya sendiri karena satu pernyataan yang tidak lolos uji akal sehat.
Dan itu jauh lebih berbahaya dari sekadar angka rupiah di Rp17.700.
Karena angka bisa diperbaiki dengan kebijakan.
Tapi kepercayaan yang sudah hilang jauh lebih susah untuk dikembalikan.
Bottom line:
Mahfud bukan ekonom.
Dia sendiri bilang itu berkali-kali.
Tapi dia tidak perlu jadi ekonom untuk tahu bahwa pernyataan "mau dolar berapa ribu kek di desa kan enggak pakai dolar" adalah pernyataan yang keliru secara faktual dan berbahaya secara persepsi.
Dan ketika mantan Menko Polhukam harus bilang dengan malu-malu bahwa presiden kita sedang diolok-olok rakyatnya sendiri itu bukan tanda bahwa rakyatnya yang salah.
Itu tanda bahwa ada sesuatu yang sangat fundamental yang perlu segera diperbaiki sebelum olok-olok itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius dari sekadar komentar di media sosial.
Semalem gue baru belajar istilah baru
Kalian pernah denger “duck syndrome” gak?
Duck syndrome itu kondisi pas seseorang keliatannya santai, hidupnya aman2 aja. Padahal aslinya lagi capek, banyak tekanan, burnout, sama stres yang dipendem sendiri.
Kenapa dianalogiin sama bebek?