tak sengaja alasannya,
“tabrak aja” ucap anggotanya.
ini adalah video oknum brimob di dalam mobil, tolong tonton sampai habis agar mengerti konteks kalimat di atas.
kepada teman-teman yang melihat twt ini, tolong bantu share dan retweetnya ya, demi kita semua.
11 tahun lalu saat bikin film ini, data sudah menunjukkan pabrik ini tak akan lama. Perlawanan petani Kendeng membuat mereka kesulitan menambang bahan baku.
Ditambah surplus semen 10 juta ton per tahun. Pabrik diteruskan karena kadung utang 4,4 triliun dari Mandiri dan BNI.
Apalagi di awal rezim Jokowi, pemerintah tak ingin terlihat kalah dan kehilangan muka. Mereka khawatir kekalahan pabrik semen di Rembang (setelah digagalkan petani Kendeng di Pati pada 2009), akan jadi preseden dan menginspirasi perlawanan di lokasi lain.
Apalagi di Pati, tak hanya semen BUMN, semen swasta (Heidelberg-Indocement) pun berhasil digagalkan petani yang sebagian adalah pengikut ajaran Sedulur Sikep (Saminisme).
Jadilah pendirian pabrik ini dipaksakan secara bisnis.
Kasus semen Kendeng juga penuh skandal hukum. Meski petani menang hingga Mahkamah Agung, pabrik ini tetap dibangun setelah Gubernur Jateng saat itu, Ganjar Pranowo melakukan pemelintiran hukum dengan mengeluarkan izin baru hanya karena nama Semen Gresik sudah berganti Semen Indonesia.
Kriminalisasi, intimidasi, teror dan kekerasan dilakukan terhadap warga yang menolak. Buzzer dari level kampung sampai nasional dikerahkan.
Rezim Jokowi mempertahankan proyek dengan kapasitas (hanya) 3 juta ton per tahun ini mati-matian seperti ajimat untuk memulai rezim infrastrukturnya yang ugal-ugalan dan sering tanpa kajian.
Bekas Kepala BIN Sutiyoso dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (sekarang Menag) diangkat jadi komisaris. Pensiunan jenderal ini mendatangi rumah petani yang menolak. Salah satunya petani cabai bernama Joko Prianto.
Sebesar itu usaha politik dan hukum yang dikerahkan negara untuk proyek ini.
Maka ketika sekarang mereka memakai alasan blokade jalan desa sebagai penyebab tutupnya pabrik dan PHK, tentu tidak masuk akal dan berpotensi mengadu domba masyarakat antara pekerja pabrik dan petani.
Apalagi mereka mengklaim pabrik ini adalah Obyek Vital Nasional dan dijaga pasukan bersenjata lengkap. Sejak kapan negara (mau) kalah dengan blokade "kayu dan batu" oleh warga?
Narasi pabrik tutup gara-gara blokade jalan desa jangan-jangan untuk menutupi rasa malu secara bisnis, mengaburkan masalah mismanajemen, atau menghindari kewajiban dengan pihak lain dengan alasan "force majeure".
Faktanya, jalan desa itu sendiri tak benar-benar ditutup alias disisakan beberapa meter cukup untuk truk lalu-lalang mengangkut bahan baku.
Semoga yang di-PHK segera mendapat pekerjaan baru dan alam Kendeng semakin lestari hingga bisa menghidupi orang lebih banyak lagi.
Samin vs Semen - https://t.co/Rhk2zNN5PZ…
Pelayanan di Bakmi GM Sumarrecon Bandung so far memuaskan. Pelayan perhatian thd kebutuhan pelanggan dengan membawakan kursi tambahan di meja kapasitas 2 org untuk tas yg kami bawa. Terima kasih mas