Pertama. Bagi anak kecil, benda apa pun di dunia adalah sumber rasa penasaran. Sepanjang tidak membahayakan nyawa atau merugikan orang lain, ya sudah biarkan saja.
Kedua. Make up memang identik dengan perempuan, tetapi laki-laki juga bisa dan biasa menggunakannya. Dalam seni pertunjukan, misalnya.
Ketiga. Kalaupun suatu hari dia benar-benar tertarik pada make up, ya memang kenapa? Dia tetap bisa jadi anak laki-laki. Anak laki-laki yang menyukai make up. Dia boleh menjadi MUA, misalnya, dan tetap jadi laki-laki.
Keempat. Saya tidak takut anak laki-laki saya jadi gay hanya karena mencoba lipstik ibunya. Orientasi seksual tidak bekerja dengan cara seperti itu.
Kelima. Laki-laki, sama seperti perempuan, memang perlu merawat dan "mempercantik" diri. Sebab tubuh, seperti kata Dee Lestari dalam Supernova, adalah kendaraan kita untuk menghadapi hidup.
Saya tidak ingin anak lelaki saya tumbuh menjadi lelaki yang mengidap toxic masculinity. Lelaki yang anti menggunakan produk-produk perawatan diri karena takut disebut (sori) bencong.
----
So, ya udah sih, santai aja.