Dapat surat cinta dari Komdigi?
SAFEnet dan REMOTIVI mengajak publik untuk mendokumentasi bersama pelanggaran kebebasan berekspresi yang terjadi di media sosial berupa peringatan dari platform ataupun takedown konten secara langsung.
Yuk, turut lapor dan dokumentasikan notifikasi tersebut melalui https://t.co/75xLJIfv3r.
@bolabolaebol@menamngis culture ruang aman satu-satu di fakultas terus fakultas lepas tangan dan baru turun pas kasusnya naik kaya gini ya allah. lagian what’s so wrong about demanding institutions accountability sih? fisip punya komite sendiri isinya dosen tendik mahasiswa, dekannya juga ngeluarin
aku gak bermaksud membela siapa siapa. maaf jg pendapatku agak radikal aku coba ngerangkum sejujurnya ....
(menurut keyakinan sy) reyhan g berhenti di “gila karena cinta” tpi dia jg korban sekaligus pelaku dari budaya yang ngajarin pandangan kalo cowok tuh harus ngeliat
perempuan = objek yang boleh “ditaklukin” krn gw lakikk
penolakan = hinaan gede buat lakikk
kekerasan = cara sah buat nunjukin “gw cowok beneran”
orang sibuk judging sana sini padahal sebenernya tanpa sadar banyak reyhan reyhan diluar sana yg sedang diproduksi atau terproduksi gara gara society kita sendiri.
Mitos Korban yang Sempurna - Pembacokan Mahasiswi Riau
The Perfect Victim Theory: konsep kriminologi & feminisme yang menjelaskan bagaimana masyarakat (termasuk sistem hukum, media, & opini publik) cenderung percaya atau memberikan simpati penuh kepada korban kekerasan/kriminalitas yang memenuhi kriteria sempurna atau ideal. Konsep ini diperkenalkan oleh sosiolog Norwegia, Nils Christie pada 1986 dalam esainya "The Ideal Victim".
Teori ini menjadi mitos karena konsep ini bukan aturan ilmiah mutlak, melainkan konstruksi sosial yang kaku, subjektif, & berbahaya yang sering digunakan untuk membenarkan penyalahan korban serta membatasi simpati & dukungan hanya pada korban yang ideal.
Mitos bahwa korban harus memenuhi standar ideal tertentu, seperti lemah, rentan, miskin, pakaian sopan, tidak punya relasi dengan pelaku, perempuan, melawan secara fisik, melapor segera, ingatan jelas, tidak mabuk, dll agar dianggap sah sebagai korban dan mendapat dukungan masyarakat/hukum. Jika yang terjadi sebaliknya, maka tidak dianggap sebagai korban atau ikut berkontribusi atas kekerasan yang terjadi. Ini mitos berbahaya karena kaku, subjektif, & tidak berpihak pada korban.
Kasus pembacokan mahasiswi di Riau kemarin menjadi salah satu contoh bagaimana teori/mitos ini bekerja dalam masyarakat Indonesia ketika muncul rumor/fakta tentang hubungan spesial antara pelaku & korban.
Korban sempurna harus tidak bersalah sama sekali. Rumor/fakta hubungan spesial, selingkuhan, dll langsung memicu victim blaming. Membuat korban tidak dianggap ideal sehingga simpati berkurang, cerita korban diragukan, & fokus bergeser ke kesalahan korban daripada perbuatan pelaku.
Mitos ini melanggengkan budaya patriarki, di mana korban non-ideal mengalami viktimisasi sekunder, trauma tambahan dari gosip, julid, viral medsos, atau aparat yang ragu saat proses hukum nanti. Kasus dengan narasi cinta buta atau plot twist selingkuhan bisa mengaburkan fakta kekerasan berbasis gender, bahkan percobaan femisida sadis & brutal kemarin.
Sumber @konde_co@_perEMPUan_ :
- https://t.co/nRlgiwxmY1
- https://t.co/ZY4UO1vFUO