Temanku WA aku jam 11 malam: "Bro, aku nangis tadi. Gak tau kenapa. Gak ada masalah spesifik. Anak sehat, istri baik, kerjaan aman. Tapi tiba-tiba aja nangis di kamar mandi habis anak tidur."
Aku gak langsung bales karena jujur, aku pernah ngalamin hal yang persis sama dan gak pernah cerita ke siapapun soal itu.
Guys, Mahfud MD baru bicara sesuatu soal pernyataan Prabowo tentang rupiah yang menurut gue paling jujur dan paling menampar yang pernah gue dengar dari mantan pejabat setingkat dia.
Dan Mahfud bukan ekonom.
Dia sendiri bilang itu.
Tapi justru itu yang membuat kata-katanya jauh lebih mematikan.
Apa yang Mahfud katakan soal pernyataan Prabowo:
"Dari keseluruhan statement presiden selama menjadi presiden ini yang paling banyak menimbulkan olok-olok."
Pernyataan mana?
"Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa kan enggak pakai dolar."
Mahfud bilang:
Maaf kasar sekali olok-oloknya itu.
Dan itu masuk terus berkesinambungan.
Dari nenek, kakek, muda, putra putri di media sosial muncul terus diolok-olok betul presiden kita ini."
Seorang mantan Menko Polhukam.
Mantan Ketua MK.
Mantan anggota Komisi Reformasi Polri.
Orang yang hidupnya dihabiskan untuk menjaga martabat institusi negara harus dengan susah payah mengakui bahwa presiden kita sedang diolok-olok oleh rakyatnya sendiri karena satu pernyataan soal dolar.
Dan Mahfud langsung koreksi pernyataan Prabowo dengan sangat jelas:
"Memang ada benarnya bahwa masyarakat desa tidak pakai dolar.
Tapi apakah hanya itu kebutuhan orang?
Kita negara yang pinjam uang setiap hari berurusan dengan dolar.
Harga impor pangan kita dibayar dengan dolar. Pinjam ke luar negeri pakai dolar.
Formirinya pakai dolar.
Kalau pakai dolar di desa-desa mungkin orang secara subsistens makan dari berasnya sendiri sayurnya sendiri.
Tapi masa cuma itu kebutuhan orang?"
Ini bukan analisis ekonom.
Ini akal sehat yang Mahfud sebut sendiri public common sense.
Dan kalau pernyataan presiden tidak lolos uji akal sehat paling dasar itu masalah yang jauh lebih serius dari sekadar pilihan kata yang kurang tepat.
Dan soal Purbaya Mahfud juga tidak menyimpan kata-kata:
Purbaya bilang urusan rupiah itu urusan Bank Indonesia bukan urusan Menteri Keuangan.
Mahfud langsung potong:
Kalau begitu jangan jadi Menteri Keuangan.
Bu Sri Mulyani juga tahu itu urusan BI tapi dia diangkat agar bisa membuat BI-nya begitu, polisinya begitu, hakimnya begitu, semuanya tahu konteks.
Kalau sekarang penyelundupan bilang bukan urusan saya itu urusan polisi lalu apa fungsinya dia?"
Dan Mahfud kasih satu analogi yang sangat logis:
kalau Menteri Keuangan bilang itu urusan BI nanti BI bilang itu urusan presiden nanti presiden bilang loh urusan rakyat kenapa milih saya "Bubar kan negara ini."
Dan soal The Economist yang menulis Indonesia dalam kondisi berbahaya:
The Economist minggu ini menulis editorial khusus tentang Indonesia.
Penilaiannya buruk.
Kata yang dipakai:
"jeopardizing" membahayakan.
Boros dan otoriter.
Membahayakan demokrasi sekaligus ekonomi.
Mahfud bilang:
Mudah-mudahan ini disadari.
Dua kata.
Tapi di balik dua kata itu ada keprihatinan yang sangat dalam dari seseorang yang tahu betul bagaimana sebuah negara bisa rusak dari dalam karena dia pernah berada di dalam dan melihatnya langsung.
Dan soal solusi
Mahfud kasih dua poin yang sangat konkret:
Pertama:
restrukturisasi APBN.
MBG harus ditata ulang tata kelolanya.
Bukan dihapus tapi diefisienkan.
Mahfud bahkan mengutip penjelasan Prabowo sendiri bahwa kalau MBG dikelola langsung oleh Koperasi Merah Putih tanpa perantara bisa hemat 60%.
"Kalau itu bisa dilakukan ini jauh mungkin menyelamatkan dari peluncuran yang tidak akan bisa dihentikan kalau tidak ada restrukturisasi anggaran."
Kedua
dan ini yang paling penting:
presiden perlu tahu bahwa pernyataannya keliru. Bukan dari musuh politiknya.
Bukan dari oposisi.
Tapi dari orang-orang yang mau negaranya baik.
"Kesalahan itu bukan hanya ahli ekonomi yang bisa nyatakan salah."
Dan ini yang paling menggelitik dari seluruh diskusi:
Mahfud bilang dia sudah lama tidak pernah berpikir soal dolar naik atau turun karena bukan urusannya dan kebutuhannya sudah cukup.
Tapi dia tetap bicara.
Tetap merespons.
Tetap mengkoreksi.
Karena ada sesuatu yang mengganggu dia bukan sebagai ekonom,
bukan sebagai mantan pejabat tapi sebagai warga negara yang melihat presidennya diolok-olok rakyatnya sendiri karena satu pernyataan yang tidak lolos uji akal sehat.
Dan itu jauh lebih berbahaya dari sekadar angka rupiah di Rp17.700.
Karena angka bisa diperbaiki dengan kebijakan.
Tapi kepercayaan yang sudah hilang jauh lebih susah untuk dikembalikan.
Bottom line:
Mahfud bukan ekonom.
Dia sendiri bilang itu berkali-kali.
Tapi dia tidak perlu jadi ekonom untuk tahu bahwa pernyataan "mau dolar berapa ribu kek di desa kan enggak pakai dolar" adalah pernyataan yang keliru secara faktual dan berbahaya secara persepsi.
Dan ketika mantan Menko Polhukam harus bilang dengan malu-malu bahwa presiden kita sedang diolok-olok rakyatnya sendiri itu bukan tanda bahwa rakyatnya yang salah.
Itu tanda bahwa ada sesuatu yang sangat fundamental yang perlu segera diperbaiki sebelum olok-olok itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius dari sekadar komentar di media sosial.
Lagi overthinking tiba-tiba nemu kalimat cantik banget :
“Jika Tuhan begitu presisi mengatur miliaran bintang agar tidak bertabrakan, yakinlah Tuhan juga presisi dalam mengatur skenario hidupmu agar selamat sampai tujuan.”
Percayalah, Tuhanmu lebih ingin kamu selamat daripada kamu sendiri.
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
The Seven Joys of Saint Joseph represent a cherished Catholic devotion that invites the faithful to meditate on the hidden yet profound happiness experienced by the earthly father of Jesus amid the trials of his vocation. Through these joys, the faithful contemplate the virtues of obedience, humility, and paternal love that defined Joseph's life as the chaste spouse of Mary and Guardian of the Redeemer.
The first joy came when an angel appeared to Joseph in a dream, resolving his anguish over Mary's mysterious pregnancy by revealing the divine mystery of the Incarnation. This moment transformed doubt into awe, affirming Joseph's role in the greatest story of salvation and filling him with the certainty of God's plan.
His second joy shone at the birth of the Savior in Bethlehem. Though the stable offered only poverty and discomfort, Joseph rejoiced to behold the newborn Christ, the long-awaited Messiah, cradled in the manger. Angels sang and shepherds arrived, yet his quiet joy centered on caring for the infant God and His mother in that humble setting.
The third joy arrived with the naming and circumcision of the Child. As the head of the Holy Family, Joseph bestowed the name Jesus, meaning "God saves," in obedience to the angel's command. This act symbolized his legal fatherhood and participation in the child's mission of redemption, blending ritual duty with paternal pride.
Fourth came the joy of witnessing the effects of redemption foretold by Simeon in the Temple. While the prophecy foretold sorrow for Mary, Joseph found consolation in knowing that the Child would bring light to the Gentiles and glory to Israel, realizing the broader purpose of their sacrifices.
The fifth joy occurred during the flight into Egypt, when the Holy Family escaped Herod's wrath. In a foreign land, Joseph saw idols fall before the presence of the true God made flesh, a sign of Christ's triumph over pagan powers and a source of deep spiritual satisfaction for the protector of the family.
Sixth was the everyday joy of the hidden years in Nazareth. Joseph savored the simple rhythms of family life, working as a carpenter while living in intimate union with Jesus and Mary. These years offered the profound contentment of watching the child grow in wisdom and stature under his guidance.
The seventh and final joy came when Joseph and Mary found the twelve-year-old Jesus in the Temple after three days of searching. Though anxiety had marked the loss, reunion brought relief and wonder as they heard the boy speak of His Father's business, deepening Joseph's understanding of the divine Son entrusted to him.
Together, these joys illuminate how Saint Joseph's faithfulness turned potential hardships into occasions of grace. Devotees often recite prayers honoring them to seek his intercession for a holy life and peaceful death. In an age of uncertainty, the seven joys remind us that true happiness flows from surrender to God's will, just as it did for the silent carpenter of Nazareth who raised the Son of God.
Pernah iseng kepo sama selisih angka atas dan bawah saat cek tensi nggak?
Misal nih, tensimu ketahuan 130/100 mmHg. Selisihnya kan 30 mmHg, apa makna dari angka selisih tsb? Normal gak?
Banyak yg belum tau krn emg jarang disebut2 saat menganalisis hasil tensi. Kita bahas yok!
THE SILENT RULES OF OFFICE LIFE:
1. Think twice before hitting reply all once sent, you can't unsend.
2. Always leave a paper trail. Memory is convenient; records are proof.
3. Not everyone chatting you up at lunch has your best interests at heart.
4. Stay professional and approachable,but never stop reading the room.
5. Let your output do the talking, then back it up with your voice.
6. Titles don't always equal influence. Find the real power in the room.
7. Leave every exit gracefully,you'll cross paths again, guaranteed.
8. Proactively share progress on critical tasks before silence becomes concern.
9. Build relationships upward just as intentionally as you do with your team.
10. Guard your mental bandwidth the way you guard your calendar.
11. Take credit for your work clearly and without apology.
12. How you handle setbacks is what people actually remember about you.
dulu punya mimpi mau ke raja ampat, punya keluarga kecil yang hangat .
makin kesini mimpinya cuma mau punya teman pulang yang aman dan nyaman aja gak lebih ..