Momen Sri Mulyani Pamitan, Akhiri Perjalanan Panjang di Kemenkeu
Sri Mulyani resmi menyerahkan jabatannya sebagai menkeu kepada Purbaya Yudhi Sadewa. Proses sertijab dilakukan di Aula Mezzanine, Gedung Djuanda 1 Kementerian Keuangan di Jakarta Pusat, Selasa (9/9).
#detikcom
Kalo sampe kejadian bu SMI mundur, gw mau tau, siapa sih yang layak jadi menkeu?
Kalo emang ada yang cocok gw setuju bu SMI mundur aja, cape ya kan bu? serba salah padahal cuma nurutin maunya pimpinan. 🥲
Pada 2019 lalu, BBC News Indonesia pernah menerbitkan artikel berjudul "DPR: Anggota Parlemen Swedia Tak Dapat Tunjangan mobil, Tanpa Tunjangan Keluarga dan Tinggal di Apartemen Sempit".
Di negara lain, gaji tinggi dan fasilitas mewah mungkin menjadi salah satu alasan banyak orang ingin menjadi anggota DPR. Hal tersebut nyatanya tidak terjadi di Swedia.
"Kami ini tak berbeda dengan warga kebanyakan. Tugas utama kami adalah mewakili rakyat, jadi tak pantas rasanya jika kami diistemewakan atau mendapatkan banyak fasilitas atau gaji tinggi," ujar Per-Arne Hakansson, anggota DPR dari Partai Sosial Demokrat kala itu.
"Yang membuat kami istimewa adalah kesempatan untuk ikut menentukan kebijakan negara," imbuhnya.
Semua anggota DPR Swedia tidak mendapatkan mobil dinas atau tunjangan untuk membeli mobil.
Parlemen hanya punya tiga mobil dinas, Volvo S80, dan ini hanya diperuntukkan untuk ketua dan tiga wakilnya dan hanya boleh dipakai untuk tugas-tugas parlemen.
Untuk urusan mobilitas, anggota DPR boleh menggunakan semua trasportasi umum secara cuma-cuma.
https://t.co/bSPvdrk451
/ #DPR #Swedia #Gaji #Tunjangan #WakilRakyat #JernihMelihatDunia
Teman-teman semua,
Hari ini kita menerima kabar final yang melegakan. Presiden RI, Bapak Prabowo Subianto, telah memberikan abolisi kepada Tom Lembong atas persetujuan DPR. Dengan itu, bukan hanya hukuman dibatalkan, tapi seluruh perkara dianggap tak pernah ada. Nama Tom bersih. Tak pernah bersalah. Bebas sepenuhnya.
Ini tentu kabar baik bagi Tom dan bagi keluarganya yang telah berpisah sejak akhir Oktober tahun lalu. Setelah sembilan bulan yang panjang, malam ini ia kembali ke rumah. Kepada istri, anak-anak, dan keluarganya yang selama ini menanggung rindu.
Sebagai sahabat, saya amat bersyukur. Saya ikut bahagia melihat Tom hari ini bebas. Maka saya menyampaikan apresiasi mendalam kepada Bapak Presiden beserta DPR yang telah menggunakan kewenangannya untuk mengakhiri ketidakadilan ini.
Namun, kita juga tahu, ini bukan kemenangan dari ruang sidang. Ini adalah penyelesaian ekstra yudisial melalui jalur konstitusional yang menjadi hak Presiden. Keputusan ini memang menghapus perkara, tapi sesungguhnya tidak menghapus pertanyaan. Tidak menghapus keprihatinan kita atas proses hukum yang begitu banyak dipertanyakan sejak awal. Mulai dari sangkaan yang dipaksakan oleh jaksa, hingga putusan hakim yang menafikan nalar.
Karena itu, meskipun hari ini adalah akhir dari penahanan Tom, ini bukan akhir dari tanggung jawab kita. Justru ini harus jadi titik refleksi yang lebih dalam tentang sistem hukum negara kita, tentang bagaimana hukum seharusnya bekerja. Juga, tentang bagaimana keadilan tidak boleh datang hanya kepada mereka yang tenar, punya jaringan, dan mendapat sorotan. Karena untuk satu Tom yang bebas hari ini, mungkin masih ada ribuan lainnya yang terjerat kriminalisasi, tanpa suara, tanpa sorotan.
Negara ini terlalu besar untuk menyisakan keadilan hanya bagi mereka yang dikenal dan mendapat dukungan amat luas dari publik. Maka, hukum di Republik ini harus menjadi pelindung bagi semua, alih-alih menjadi alat tekanan. Harus memberi ketenangan, alih-alih menebar kecemasan.
Hari ini adalah kemenangan pribadi bagi Tom. Tapi perjuangan menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat belum selesai. Masih panjang dan masih harus terus kita jalani bersama. Tentu juga, masih perlu terus mendapat perhatian serius dari para pemimpin dan penyelenggara negara ini. Semoga kita bisa menuntaskannya.
Izinkan saya menyampaikan apresiasi tinggi dan rasa terima kasih kepada tim hukum, kepada para sahabat dan pendukung yang setia hadir di setiap persidangan, kepada para tokoh dan publik luas yang menyuarakan harapan di tengah gelapnya proses hukum. Di negeri ini, keadilan sering butuh suara lantang. Hari ini, suara itu berbuah untuk Tom.
Kepada Tom kita sampaikan selamat pulang ke rumah. Waktu yang hilang tak bisa kembali, tapi hari esok selalu bisa dimenangkan. Kita yakin, pengalaman yang Tom lalui tak akan melemahkan, justru menguatkan. Pun kita optimis, Tom akan kembali melangkah, lebih tegap, lebih matang, dan lebih tajam memperjuangkan kebaikan bagi negeri yang ia cintai tanpa syarat ini.
Welcome home, Tom.
Presiden Prabowo mengambil langkah strategis dlm penegakan keadilan dgn memberi amnesti kepada Hasto dan abolisi kpd Tom Lembong. Ke depan tak blh ads lg yg menggunakan politik utk merekayasa hukum melalui penyanderaan politik sebab kalau itu dilakukan bs dihadang oleh Presiden.
Menyimak perkembangan situasi dunia minggu ini, termasuk dinamika di kawasan Asia, sebagai warga dunia saya ingin menyampaikan pandangan saya.
Ada 4 isu global yang menjadi perhatian saya.
Pertama, situasi terkini di Gaza.
Kedua, pengakuan dan dukungan Perancis kepada Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
Ketiga, pecahnya konflik bersenjata antara Kamboja dan Thailand.
Sedangkan keempat, perundingan tarif antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.
1.Makin banyak negara yang mulai bersuara bagi pengakhiran baik perang maupun penderitaan kemanusiaan yang ekstrem (extreme human suffering) di Gaza. Meskipun hal begini sudah sangat terlambat, tetapi tetap ada baiknya. Empat negara Eropa yang penting, yang semuanya anggota G7, yaitu Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia, secara eksplisit menyerukan pengakhiran perang dan tragedi kemanusiaan yang luar biasa di Gaza tersebut.
Saya berharap negara-negara besar tersebut bertindak lebih lanjut (tentu bersama negara-negara lain di dunia) agar seruan tersebut betul-betul menjadi kenyataan. Diplomasi dan langkah-langkah serius mesti dilakukan. Perhelatan Sidang Umum PBB bulan September mendatang di New York, dapat dijadikan forum bagi pengakhiran perang dan tragedi kemanusiaan di Gaza.
Saya kira banyak yang bersetuju dengan saya, bahwa penderitaan saudara-saudara kita di Gaza sudah sangat melampaui batas-batas kemanusiaan. Karenanya tidak cukup hanya menjadi tontonan di layar-layar televisi di seluruh dunia. Mungkin yang menonton drama kehidupan di Gaza tersebut dalam keadaan nyaman (di ruangan yang dingin ber-AC sambil menikmati kopi dan makanan yang lezat), sementara yang ditonton adalah mereka-mereka yang untuk makan dan minum pun sebagian tidak bisa, serta dalam ancaman keselamatan jiwanya.
Secara moral, kita semua terpanggil untuk do something bagi pengakhiran perang dan tragedi kemanusiaan yang tiada tara di Gaza tersebut.
2.Terkait dengan pengakuan dan dukungan Perancis terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina, tentu ini sebuah tonggak penting mengingat Perancis adalah negara besar di Eropa, anggota G7 dan pemegang hak veto di Dewan Keamanan PBB. Sangat mungkin kebijakan luar negeri Perancis ini menambah “jembatan” dalam upaya penyelesaian konflik teritori dan kedaulatan antara Israel dan Palestina.
Konsep Solusi Dua Negara (two-state solution), dan bukan Solusi Satu Negara (one-state solution), adalah yang paling realistis. Prasyarat utama bagi terwujudnya 2 negara (Israel dan Palestina) yang sama-sama berdaulat dan hidup berdampingan secara damai harus dimulai dari mutual recognition, dari kedua negara tersebut. Prasyarat penting lainnya adalah dukungan internasional yang makin kuat dan luas agar two-state solution tersebut bisa diwujudkan. Saya tahu jalan yang mesti ditempuh masih panjang dan tidak semudah yang dipikirkan banyak kalangan. Tetapi hal ini tetap dimungkinkan (not impossible).
3.Terhadap pecahnya konflik bersenjata di sepanjang perbatasan Kamboja dan Thailand, secara pribadi saya sangat bersedih. Terus terang ini sebuah set back, dari kisah sukses ASEAN sebagai model kerja sama regional yang telah berlangsung hampir 60 tahun. Terjadinya eksodus kedua penduduk di perbatasan kedua negara tersebut, dalam jumlah yang besar, tentu bukan pemandangan yang indah bagi ASEAN, bagi kita semua.
Namun saya berpendapat, bahwa peaceful settlement, masih sangat dimungkinkan. ASEAN sebagai rumah bersama, termasuk di dalamnya Kamboja dan Thailand, masih memiliki sumberdaya politik untuk mendorong pengakhiran konflik kedua negara tersebut. Kita semua menunggu langkah cepat dan tepat ASEAN, termasuk kepemimpinan yang efektif.
Saya memahami konflik kedua negara memiliki akar sejarah yang panjang dan sejumlah kompleksitas tertentu. Di masa lalu, kontak tembak di antara tentara Kamboja dan Thailand beberapa kali juga terjadi. Tahun 2011, dalam kapasitas saya sebagai Ketua ASEAN, saya juga melakukan peran mediasi, karena terjadi lagi kontak tembak di tahun itu. Alhamdulillah, dalam pertemuan segi tiga di Jakarta, antara saya dengan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dan Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva (didampingi Menteri Luar Negeri masing-masing), membuahkan kesepakatan untuk sebuah peace settlement yang terjaga selama 14 tahun. Artinya, saya tetap memiliki optimisme, konflik ini insya Allah bisa dicarikan solusinya secara damai, sesuai dengan jiwa dan semangat ASEAN Charter 2007.
4.Upaya perundingan dan negosiasi tarif antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, memberikan harapan baru. Hubungan perdagangan antara kedua belah pihak (dengan “magnitude” yang besar) akan sangat berdampak kepada situasi perdagangan secara internasional. Kita tidak ingin terjadi gangguan dan instabilitas yang berkepanjangan dalam tata perdagangan dunia, karena akan berdampak tidak baik bagi semua negara.
Saya mengetahui, negosiasi tarif antara Amerika Serikat dan Uni Eropa ini bisa berjalan secara alot dan memerlukan waktu. Tetapi negosiasi tetap lebih baik daripada saling ancam mengancam dan apalagi kalau memilih dilakukan langkah yang unilateral.
Khusus terkait dengan perang tarif dan perang dagang ini, negara-negara sedunia harus memiliki kesamaan pandangan. Benarkah perang tarif ini harus menjadi order of the day? Adakah cara lain yang bisa ditempuh untuk memastikan sistem dan pelaksanaan perdagangan internasional benar-benar berlangsung secara fair dan membawa manfaat bagi seluruh bangsa di dunia. Saatnya kita semua berpikir dan berbicara secara jernih, jujur dan konstruktif bagi masa depan ekonomi dunia yang lebih baik.
Demikian pandangan pribadi saya terhadap 4 isu global yang menarik pada minggu ini.
Terima kasih.
*SBY*
Ikhtiar Aksi Bersama berikutnya, insya Allah, membangun titian persatuan, jembatan gantung melintasi sungai Cigadung di Bantargadung, Sukabumi. Bismillah, mohon doa dan dukungannya.
Menjelaskan ttg @aksibersama_, sebuah usaha menyambungkan dua sisi harapan, bukan utk menggantikan pemerintah setempat tapi utk mengisi celah yg belum sempat terisi, bukan utk menyalahkan tapi utk membantu dgn karya.
Kunjungi situs https://t.co/ItbH0m3zxX.
Belajar dari konsep negara asia yg maju, mreka memprioitaskan
1. Pendidikan dan inovasi
2. Kesehatan
Outputnya tentu: kualitas SDM yg meningkat (longterm and sustainability)
Kesehatan? Dengan kesehatan yg merata 1 negara maka output produktif warga negara akan meningkat.
Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong sempat dihalangi saat akan berbicara di depan awak media.
Tom lantas bertanya kepada awak media apakah dirinya memiliki hak berbicara. Awak media mengiyakan pertanyaan Tom.