@OCCRP Dear OCCRP, thank you for conducting research and investigations into corrupt officials in Indonesia. Corruption, collusion, and nepotism (KKN) cases are very frequent and widespread. Please do this again in 2026 and beyond 🙏🇮🇩
🇮🇷 Pagi dini hari waktu Tehran, 5 jam lagi sampai salat jenazah untuk Pemimpin Syahid Ayatollah Sayyid Ali Khamenei dan aula salat di Tehran sudah penuh sesak.
Pria yang memimpin Iran selama 40 tahun ini akan dikuburkan sementara penerusnya, Mojtaba Khamenei, belum terlihat di depan umum sejak serangan yang membunuh ayahnya.
Pemimpin Tertinggi Baru Iran INGIN Hadir di Pemakaman Ayahnya, Pejabat Keamanan MENOLAK
Mojtaba Khamenei ingin secara pribadi memimpin salat jenazah di pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada 9 Juli di Mashhad, menurut New York Times, yang mengutip dua anggota IRGC dan seorang sumber yang terlibat dalam persiapan.
Pejabat keamanan Iran menolak. Mereka khawatir Israel bisa memanfaatkan kemunculan publiknya untuk membunuhnya atau mengidentifikasi lokasinya, empat bulan setelah AS dan Israel membunuh ayah, ibu, dan istrinya.
Israel tidak menghormati pemakaman. Mereka telah menunjukkan bahwa mereka akan menyerang area sipil yang ramai untuk membunuh satu target.
Pejabat Iran percaya bahwa pemakaman tidak akan menjadi pengecualian.
Penulis Samih Askar, Seorang Penulis liberal, duta perdamaian dan anggota Organisasi Pencerahan Perserikatan Bangsa-Bangsa, novelis dan peneliti, dosen dll @sameh_asker
Sebuah Kesaksian Jujur: Mengapa Kematian Pria Ini Menggetarkan Nurani
Dengarlah, Teman-teman sekalian... Saya adalah seorang penulis liberal. Ada seratus alasan ideologis yang membuat saya kerap berbeda haluan, berdebat, dan tidak sejalan dengan pria ini (Ayatollah Syahid Ali Khamenei) semasa hidupnya.
Namun, ketika saya melihat orang-orang dengan keji menusuknya dari belakang—bahkan setelah jasadnya terbujur kaku—nurani kemanusiaan saya berontak. Kepada mereka yang menumpahkan kebencian pada momen sakral ini, saya ingin menampar kesadaran kalian dengan 11 fakta emosional ini:
11 Kebenaran yang Tak Bisa Dibantah
Pertama: Dia Gugur sebagai Syahid!
Dia tidak sekadar mati, dia syahid di tangan entitas politik teroris paling kotor, paling najis, dan paling hina yang pernah dicatat oleh sejarah modern manusia.
Kedua: Penjaga Kedaulatan Sejati.
Ia mengembuskan napas terakhirnya demi membela tanah airnya. Ia mati karena dengan gagah berani menolak menggadaikan harga diri, kedaulatan, dan kekuatan negerinya kepada kekuatan asing.
Ketiga: Benteng Terakhir Palestina.
Ia mati demi membela Palestina—isu kemanusiaan terbesar dan paling berdarah dalam sejarah kontemporer kita. Ketika pemimpin lain dengan rakus meraup 200 miliar dolar dari Amerika lalu tega mengkhianati dan menjual Palestina, pria ini memilih bertahan dan berdiri kokoh selama lebih dari 47 tahun dan mati bersamanya!
Keempat: Kematian yang Menunjukkan Keperkasaan.
Ia dibunuh lewat pengkhianatan politik yang keji. Namun, cara musuh-musuhnya mengeksekusi pembunuhan ini justru menjadi bukti sahih betapa getirnya mereka ketakutan terhadap pengaruh raksasa pria ini dan negaranya.
Kelima: Hidup dan Mati dalam Kemiskinan.
Di tengah gelombang kekuasaan yang ia genggam, ia mati dalam kesederhanaan yang ekstrem. Ia tidak meninggalkan istana, melainkan sebuah rumah tua yang bersahaja, di mana fasilitas dasar pun nyaris tidak ada.
Keenam: Tangan yang Selalu Terbuka untuk Saudara.
Ia tak pernah memalingkan wajah dari bangsa Arab dan Muslim. Tangannya selalu terulur penuh kasih, membuka ruang komunikasi dan kehangatan bagi tetangga-tetangganya di tanah Arab, hingga membuat lawan-lawannya pun tak bisa memungkiri rasa hormat mereka.
Ketujuh: Musuh yang Jelas.
Ia hanya mendeklarasikan permusuhan kepada dua entitas: Israel dan Amerika. Terutama Israel, sang mesin kolonialisme dan mesin penghancur di Timur Tengah yang menjadi akar dari segala penderitaan di wilayah kita.
Kedelapan: Penghormatan Tinggi pada Seni.
Di bawah kepemimpinannya, #Iran melesat ke panggung global dalam dunia seni dan sinema. Begitu indahnya, bahkan prosesi pemakamannya hari ini diiringi oleh simfoni kelompok musik yang megah dan menyayat hati.
Kesembilan: Penggemar Persatuan Jiwa.
Ia tidak mendambakan dominasi mutlak, melainkan persatuan emosional dan ekonomi antara Arab dan Muslim. Di dunia yang kejam ini, di mana hanya kelompok-kelompok besar yang diakui, visinya tentang persatuan adalah oase yang sangat positif.
Kesepuluh: Perajut Toleransi Mazhab.
Ia dengan tegas melarang keras segala bentuk penistaan terhadap para sahabat Nabi dan simbol-simbol mazhab Ahlisunnah.
Kesebelas: Cinta Mendalam untuk Mesir.
Ia begitu mengagumi Mesir, menghormati para tokohnya tanpa memandang sekat pemikiran. Bahkan, ia kerap menyebut nama-nama tokoh liberal, pencerahan, dan sekuler Mesir dengan penuh takzim—sebuah pengakuan yang sangat besar bagi rakyat Iran.
Sebuah Renungan Akhir
Tentu saja, tulisan ini bukan berarti saya tiba-tiba sepakat dengan seluruh sistem politiknya. Perbedaan pandangan adalah hal yang mutlak dan wajar manusiawi.
Namun, jika kita terus memelihara kebencian dan menolak melihat titik temu ini, kita hanya akan memperlebar jurang permusuhan antar-mazhab, serta antara bangsa Arab dan Muslim.
Tataplah 11 poin di atas dengan hati yang jernih. Di sana, Anda tidak akan melihat kebencian, melainkan proyek besar pemikiran, politik, dan kemanusiaan.
Jika saja warisan pemikiran ini mampu kita kembangkan bersama, bangsa Arab dan dunia Islam hari ini pasti akan berdiri di puncak peradaban yang paling dihormati oleh seluruh dunia!
‼️How much suffering does a family have to endure before someone cares?
I don't know what to say, but the agony of getting food and water still very tiring, please support my family by shring‼️
If you're browsing, please leave a dot. It's just a dot.
Kisah yang Menggetarkan Jiwa: Kemewahan Sejati dalam Balutan Kesederhanaan
Bayangkan sebuah dunia di mana kekuasaan dan harta bisa membeli apa saja. Namun, wanita ini memilih jalan yang membuat kita semua tertegun dan malu pada kesombongan diri kita sendiri.
Dia adalah seorang guru di salah satu sudut paling kumuh dan terlupakan di Tehran.
Coba renungkan siapa dia sebenarnya:
Ayahnya? Ketua Parlemen Iran.
Suaminya? Ayatollah Mojtaba Khamenei, putra kandung dari Pemimpin Tertinggi Iran.
Pendidikannya? Pemegang gelar pascasarjana yang mulia, yang sebenarnya mampu membukakan pintu gerbang universitas ternama mana pun untuknya mengajar dengan penuh penghormatan.
Namun, apa yang dia lakukan? Dia menanggalkan semua kemegahan itu. Dia memilih menyembunyikan identitasnya, mengubur dalam-dalam gelarnya, dan menyamar dengan nama bersahaja: "Nyonya Husseini". Bertahun-tahun dia mengajar anak-anak miskin tanpa sekali pun membusungkan dada, tanpa pernah membiarkan satu orang pun tahu darah agung siapa yang mengalir di tubuhnya.
Suatu hari, sahabat dekatnya, Majdeh Mohammadi, melangkah berkunjung ke rumahnya. Majdeh mengira ia akan memasuki sebuah istana. Namun, demi Allah, runtuhlah seluruh ekspektasinya. Air matanya mungkin hampir menetes saat mendapati kenyataan di depan mata.
Tidak ada pilar megah. Tidak ada kemewahan. Rumah itu hanyalah sebuah hunian kecil seluas 80 meter persegi. Hanya ada selembar karpet tua yang usang, beberapa bantal wol sederhana tempat bersandar, dan sebuah dapur kecil yang langsung menyambut di dekat pintu masuk.
Di mana tas-tas mewah seharga ribuan dolar yang biasa dipamerkan wanita kelas atas? Tidak ada.
Di mana jam tangan berlapis berlian yang berkilau? Sama sekali tidak ada.
Di mana pasukan pengawal berjas hitam yang berlari di depan dan di belakangnya untuk membuka jalan? Nihil!
Sebuah Refleksi untuk Kita Semua
Kita sedang berbicara tentang istri dari putra pemimpin sebuah negara nuklir besar! Kita sedang berbicara tentang putri dari Ketua Parlemen sekaligus anggota Majelis Ahli Iran—salah satu lembaga tertinggi penentu nasib bangsa!
Dengan gelar magister di tangannya, dia punya sejuta alasan untuk hidup dalam kemewahan dan dipuja-puja. Namun, hatinya justru tertambat pada debu-debu jalanan di selatan Tehran, pada senyum anak-anak telantar yang butuh dididik dengan cinta yang tulus.
Ibu, ayah, dan semua orang yang mengenalnya bersaksi dengan mata berkaca-kaca tentang betapa sucinya kesederhanaan hidup mereka.
Di saat dunia sibuk mengejar harta dan takhta, wanita ini mengajari kita satu hal yang sangat mahal: bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada apa yang kita pamerkan, melainkan pada apa yang berani kita korbankan demi sesama.
Sungguh, sebuah keteladanan yang meremukkan keangkuhan hati!
Selamat Jalan Syahidah yang gugur bersama Ayah mertuanya, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei 💔
Hancurnya Sebuah Kebohongan: Jutaan Jiwa Menjawab Narasi Palsu
Selama bertahun-tahun, demi menyembunyikan syahwat dan niat busuk untuk merampas kekayaan serta sumber daya alam Iran, AS dan Israel terus mencekoki dunia dengan narasi palsu.
Mereka dengan gencar mempropagandakan kebohongan bahwa tidak ada satu orang pun yang mencintai Khamenei di tanah Iran.
Namun hari ini... kebohongan itu hancur berkeping-keping.
Lihatlah jalan-jalan itu! Jutaan rakyat Iran tumpah ruah, turun ke jalan dengan dada sesak oleh duka, mengantar prosesi pemakamannya. Lautan manusia bergemuruh, dan jumlah kehadiran diperkirakan akan menembus angka lebih dari 30 juta jiwa!
Ini bukan sekadar penghormatan terakhir. Ini adalah tamparan keras yang meremukkan seluruh narasi dan propaganda mereka di hadapan mata dunia.
Kebenaran tidak lagi bisa disembunyikan: cinta rakyat Iran telah membakar habis semua kebohongan yang mereka bangun selama ini!
🇺🇸 Wartawan: "Anda tahu Israel ingin membunuh Anda selama perundingan gencatan senjata Pakistan itu?"
🇮🇷Araghchi: "Ya, saya sudah tahu itu." 🔥
🇺🇸Wartawan: "Jadi mengapa Anda pergi ke Pakistan?"
🇮🇷Araghchi: "Kami orang Iran. Kami tidak takut mati demi bangsa kami. Penakut menyerang dari belakang. Kami pergi demi perdamaian regional. Sekarang Anda lihat siapa kanker sesungguhnya."🔥
Itu keberanian sejati. Pria ini telah memenangkan miliaran hati dengan nyali, strateginya, dan ketenangannya. Hormat yang luar biasa 🫡
🇮🇷 🇧🇦 Seorang wanita dari Bosnia, menghadiri upacara perpisahan untuk pemimpin Iran yang gugur: Rakyat Bosnia akan selamanya berterima kasih kepada Imam Khamenei. Kami kehilangan ayah kami, dan sekarang harapan kami bertumpu pada kemenangan dan kekuatan Iran.
Sdh keluar dan beredar uang palsu yg ada fosfornya, cek ultraviolet juga muncul , tetapi berbeda BI nya dan tulisan 100 rb nya, hati2 ... !!!
Sosialisasi ke tmn dan saudara.
Semoga bermanfaat
🙏🌹🙏
Jokowi main raja-rajaan di Lampung ternyata hanya settingan @jokowi sendiri dan pelakunya semua orang bermasalah dengan korupsi. Jokowi terminal orang bermasalah, gas pooolll Mbak Novie!
Di bawah terik matahari yang tak kenal ampun dan di dalam tenda-tenda yang tak mampu melindungi diri dari panasnya musim panas, anak-anak Gaza menghadapi kondisi yang paling berat. Di tengah luka bakar, penyakit kulit, dan kekurangan kebutuhan dasar hidup, mereka tetap tersenyum.
@eyeonpalestine@sahabatalaqsha
Seiring berlalunya 1.000 hari sejak dimulainya perang genosida "Israel" di Jalur Gaza, situasi kemanusiaan telah mencapai tingkat kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Jutaan orang terpaksa mengungsi dan seluruh kawasan permukiman hancur lebur akibat pengeboman yang terus berlanjut.
Warga sipil terus mengalami kelangkaan parah makanan, air, dan perlengkapan medis, sementara infrastruktur dasar sebagian besar telah runtuh.
@QudsNen@sahabatalaqsha
🇮🇱🇸🇾 Israel menyerang Suriah selatan
Pesawat tempur Israel menyerang target di provinsi-provinsi selatan Suriah semalam, sementara pasukan darat berusaha maju di pedesaan Daraa,
Eline Al-Farra (13) syahid kemarin (28-6-2026) setelah terkena pecahan peluru artileri "Israel" di dekat Bundaran Bani Suheila, sebelah timur Khan Yunis.
@QudsNen@sahabatalaqsha
Serangan udara "Israel" menargetkan sekelompok warga sipil di Deir Balah, Jalur Gaza bagian tengah, pagi tadi (29-6-2026). Tiga warga Palestina syahid dan beberapa orang lainnya terluka.
Para syuhada tersebut diidentifikasi sebagai Malik Abu Shawish (8), Alaa Isbitan, dan Hassan Al Hanajra.
@QudsNen@sahabatalaqsha
Di tengah teriknya musim panas, para pengungsi Palestina di kamp pengungsi Nuseirat, Jalur Gaza bagian tengah, berjuang keras untuk mendapatkan air minum bersih.
@QudsNen@sahabatalaqsha
Di tengah pengungsian di Gaza, tenda-tenda yang menjadi tempat berlindung kini berubah menjadi ruang yang menyengsarakan.
Suhu yang semakin panas, keterbatasan kebutuhan pokok, serta minimnya sarana untuk mendinginkan diri membuat kehidupan sehari-hari menjadi perjuangan berat.
Kondisi tersebut juga memperburuk kesehatan para pengungsi yang terus menghadapi krisis kemanusiaan.
@QudsNen@sahabatalaqsha
Hari ini adalah hari ke-9 berturut-turut penjajah Zionis melarang kumandang azan di Masjid Ibrahimi di Kota Hebron (Al-Khalil), Tepi Barat terjajah.
@QudsN@sahabatalaqsha