#Gempa Mag:3.5, 25-Apr-2023 23:48:42WIB, Lok:7.38LS, 112.24BT (22 km BaratLaut JOMBANG-JATIM), Kedlmn:243 Km #BMKG
Disclaimer:Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data
#Gempa Mag:7.0, 25-Apr-2023 03:00:59WIB, Lok:0.72LS, 98.77BT (147 km BaratDaya AGAM-SUMBAR), Kedlmn:10 Km #BMKG
Disclaimer:Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data
Menurut Thomas Aquinas, Tuhan menciptakan keanekaragaman makhluk karena tidak ada satu pun yang dapat menyamai kesempurnaan Tuhan. Aquinas pernah menulis; "apakah Tuhan adalah sumber dari semua keberagaman?" Dalam Summa Theologica ia mengutarakan kalimat sederhana itu dengan tanda tanya.
Jawabannya ternyata berlawanan dengan pemikiran kalangan Neo-Platonis, terutama tentang keesaan esensial dari berbagai hal. Aquinas nampaknya berusaha menyentuh akar logika bahwa perbedaan yang sangat detil diantara semua mahluk menunjukkan bahwa Tuhan adalah Pencipta segala pencipta, "Creator who creates creators".
Bisa jadi Aquinas bermain-main dengan majas. Buku yang tidak selesai karena dia keburu meninggal itu dibuat pada abad ke-13, yang tentunya belum terpikirkan bahwa kelak manusia akan membuat Robot - manusia buatan yang berusaha dibuat sehidup mungkin meski tidak bisa juga dibuat semirip mungkin.
Tulisan Aquinas dalam magnum opus-nya itu memang penuh metafora, sesuai tren penulisan pada zamannya. Secara epistemologis yang dimaksud Aquinas mungkin; dengan perbedaan, manusia diharapkan tidak menganggap dirinya sebagai tuhan yang menciptakan dirinya atau menciptakan orang lain. Esensi Tuhan hanya satu kesatuan, yakni pencipta seluruh alam semesta beserta isinya.
Aquinas dalam buku ini juga sebarisan dengan pemikiran Imam Ghazali dan Ibnu Rusyd sebagai penganut "Asy'ariyah" yang menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki tempat yang statis karena Tuhan lebih dulu ada ketimbang titik absis dan ordinat.
Islam juga menjawab tegas soal perbedaan diantara semua mahluk dan akuisisi Tuhan secara penuh soal penciptaan ini. Tuhan secara sengaja menciptakan manusia dengan segala perbedaannya agar saling mengenal dan berinteraksi, "syu'uban wa-qaba'ilah li ta'arofu." Perbedaan adalah "et idem identitatem", identifikasi sekaligus identitas untuk membangun intimasi sosial.
Ketegasan Tuhan dalam Al-Quran dan majas Aquinas bertemu dalam simpul yang sama, bahwa manusia yang ingin menyamaratakan dan menghomogenkan paksa seluruh umat manusia adalah kepongahan. Siapapun boleh untuk mengajak sama dalam hal apapun kepada orang lain, tapi ketika terjadi penolakan tidak boleh terjadi pemaksaan, apalagi berujung kepada kekerasan.
Hidup dalam perbedaan adalah Sunnatullah, kemauan Tuhan. "Manusia yang membenci orang lain dan termasuk yang gelisah karena perbedaan, adalah manusia yang fisiknya hidup tapi ruhnya telah membunuh dirinya sendiri," kata Aquinas, mengadaptasi dari wejangan Ibnu Rusyd dalam Tahafut at-Tahafut.
Dia yg selingkuh aku yg di tuduh... ternyata kesetia'anku tak berarti apapun bagimu. Biarlah anak anak kita mencari tau sendiri tentang apa yg terjadi.
@prastow@showimah Cocok nih... dua duanya perform show.
Cuman sebelumnya mau tanya dulu nih.. pak prastow sbg apa nih ?
Wakil kantor pajak ? Atau wakil bu sri mulyani ? Atau mewakili diri sendiri ?
Trus yg kedua.. ini bakalan jadi penjelasan resmi pemerintah atau sekedar hiburan ?
@prastow@showimah Usul mas @prastow biar imbang :
undang mbak @showimah dan petugas pajaknya
Live diskusinya, biar kami masyrkt, tau dgn pasti duduk perkaranya !
Jika terbukti memang petugasnya bersalah, lgs pecat saat itu jg.
Tapi jika mbak @showimah yg mengada2, jg silahkan proses hukum.
Terima kasih kepada mbak @showimah untuk kritiknya kepada Kantor Pajak. Saya sdh mengumpulkan fakta lapangan, data administrasi, dan kesaksian para petugas pajak. Demi informasi yg berimbang bagi publik, perkenankan besok pagi saya jelaskan ini. 🙏😇🇮🇩