Pernah g si berkali2 kejebak pola kek gini?
ngerasa gagal
↓
benci sama diri sendiri
↓
janji mau berubah
↓
gak dilakukan
↓
gagal lagi
↓
makin benci sama diri sendiri
↓
dst
Sampe muncul kesimpulan → “Kayaknya aku emg gak akan bisa berubah.”
Artikel ini ngasih solusi sekaligus ngejelasin knp kok pola pikiran kek gitu dateng terus menerus ga berhenti2
cakep ih kalimatnya:
“ngga semua konflik itu masalahnya di komunikasi. Kadang masalahnya di kapasitas intelektual dan emosional, mau sebanyak dan sejelas apa kita menjelaskan, kalo kemampuan berpikir dan kematangan emosionalnya ga setara, dia tidak akan mengerti dan memahami substansi masalahnya apa”
bener juga sii.., ngejelasin hal kompleks ke orang yg belum mature emosinya cuma menguras energi. Protect your sanity, pahami boundaries dan mending save ur time buat hal yg worth it yah! 🤍🫶🏻
Sosok inspiratif datang dari Bogor, Febri Ansah membuka kelas les laptop murah untuk anak-anak di rumahnya.
📹 : @/febri_ansah18
Bergerak dengan ketulusan dan fasilitas seadanya, ia memanfaatkan beberapa unit laptop yang dilengkapi dengan keyboard eksternal tambahan agar anak-anak bisa lebih mudah berlatih mengetik dari nol.
Sebuah kontribusi untuk mencerdaskan bangsa bisa dimulai dari langkah kecil di teras rumah sendiri.
Kawan @GNFI, berikan apresiasi dan dukungan terbaikmu di kolom komentar ya.
Tahun 2017, Finlandia ngasih 2.000 orang penganggur uang bulanan 560 euro, tanpa syarat, gak peduli mereka nyari kerja apa nggak. Ini eksperimen nasional, bukan wacana doang. Efek ke jumlah orang yang akhirnya kerja ternyata kecil banget, cuma nambah rata rata 6 hari kerja doang dalam setahun.
Peneliti Kela nyebutnya efek kesejahteraan tanpa efek kerja. Rahasianya bukan di duitnya bikin orang jadi rajin cari kerja, tapi di ilangnya rasa panik.
Gw servis motor matic gw, minta ganti oli doang. Kasir bilang: "Sekalian servis CVT aja Pak, cuma tambah 60rb dari 40rb oli doang. Udah termasuk bersihin v-belt, roller, kampas kopling." Gw pikir wajar — selisihnya tipis, motor jadi lebih enak. 15 menit kemudian mekanik manggil. "Pak, v-belt udah retak-retak, roller udah peang, kampas ganda udah tipis. Kalau dipaksa bisa selip di jalan." Estimasi: 380rb. Gw inget adek gw yang kerja di bengkel resmi. Gw telepon dulu.
Gw: "Gw servis CVT, tiba-tiba divonis v-belt retak, roller peang, kampas tipis. 380rb." Dia: "Lo minta paket CVT dulu sebelumnya?" Gw: "Iya, katanya cuma tambah 20rb doang." Dia: ketawa pelan "Itu bukan tambahan servis. Itu tiket masuk buka CVT lo." Gw: "Maksudnya?" Dia: "Begitu CVT lo dibuka, mereka bisa tunjukin part apapun ke lo — dan lo gak bisa verifikasi karena lo gak pernah liat bagian dalemnya."
Dia jelasin sistemnya. "Bengkel motor punya target part replacement bulanan, sama kayak bengkel mobil." "Servis CVT murah itu loss leader. Mereka rela hampir gak untung di jasa buka-bersihin, asal dapet kesempatan lihat & 'nilai' kondisi part di dalem." "Begitu udah kebuka, posisi lo lemah: motor udah gak bisa jalan tanpa dipasang lagi, dan lo gak punya pembanding." Itu desain, bukan kebetulan.
Gw: "Tapi gimana cara tau v-belt/roller/kampas emang beneran rusak?" Dia: "Ada gejala yang kerasa sebelum lo masuk bengkel." "V-belt aus: motor nyendat pas gas awal, kadang bau karet gosong pas motor abis dipake jauh." "Roller peang: tarikan awal ngempos padahal RPM udah tinggi, ada bunyi 'gluduk-gluduk' dari CVT pas idle." "Kampas ganda tipis: motor kayak selip pas nanjak/boncengan berat, RPM naik tapi laju gak nambah."
Gw: "Trus gimana cara counter pas mereka udah tunjukin part-nya?" Dia: "Minta mereka taruh part itu di samping part baru — bukan cuma ditunjukin sendirian." "V-belt sehat: gak ada retak melintang, permukaan masih rata." "Roller sehat: bentuknya masih bulat sempurna, gak peang sebelah." "Kampas ganda sehat: ketebalannya masih jauh dari batas minimum, bukan cuma 'kelihatan menipis'." "Kalau mereka gak mau bandingin langsung — red flag."
Ada satu lagi yang subtle. Mereka sering bilang "udah waktunya ganti" tapi gak kasih patokan jelas. Faktanya, komponen CVT punya umur pakai yang terukur: V-belt: 20.000–25.000 km Roller: 15.000–20.000 km Kampas ganda/kopling: 20.000–25.000 km "Tanya kilometer motor lo. Kalau masih jauh dan gak ada gejala di part 4 — 'udah waktunya' mereka itu opini, bukan fakta."
Gw: "Soal harga, gimana tau wajar atau kemahalan?" Dia: "Part CVT ada harga pasarannya, cek dulu di Shopee/Tokopedia sebelum berangkat." "V-belt aftermarket kualitas bagus: 50–100rb." "Roller set: 30–60rb." "Kampas ganda: 40–80rb." "Total part biasanya di bawah 250rb. Kalau bengkel charge jasa + part sampe 2x lipat itu tanpa lo tau — lo kena mark-up diam-diam."
Adek gw kasih 3 kalimat siap pakai: "Tolong taruh part lama di samping part baru, saya mau bandingin langsung." "Boleh saya foto kondisi part sebelum diganti?" "Kalau ganti, tolong tunjukkan kemasannya — saya mau tau merk dan tipenya." Bengkel jujur: santai, langsung nurutin. Bengkel yang cari kesempatan: mendadak defensif atau bilang "part-nya udah kebuang."
Yang gw pelajarin hari itu: Bukan semua bengkel CVT nakal. Tapi lo masuk tanpa data, tanpa tau gejala, tanpa referensi harga. Mereka masuk dengan pengalaman baca konsumen yang cuma pengen motor cepet kelar. Hak lo sebagai konsumen: Tau gejala kerusakan sebelum divonis Lihat & bandingin part lama-baru langsung Tau kemasan part sebelum dipasang Tolak vonis tanpa perbandingan nyata
Satu alat yang bikin lo masuk bengkel dengan posisi lebih kuat: EFI Scan Tool buat motor injeksi. Sebelum percaya vonis soal tarikan berat atau boros — baca dulu kode error sistem injeksinya sendiri. Beberapa gejala CVT/mesin juga muncul sebagai kode error yang bisa lo cek duluan.
cc garageotomotif_id
Cicilan rumah gue Rp 3,1 juta sebulan. Gaji suami gue Rp 8,4 juta. Gue tanya ke temen gue yang 11 tahun jadi agen properti, ini aman apa enggak. Dia gak jawab aman atau enggak. Dia malah balik nanya 4 hal ke gue. Pertanyaan ketiga bikin gue nyesel kenapa gak nanya ini sebelum akad.
"Pertanyaan pertama. Cicilan lo berapa persen dari gaji?" "Hah? Ya Rp 3,1 juta dari Rp 8,4 juta." "Itungin, jangan disebutin." Gue buka kalkulator HP. 37 persen. "Nah. Bank ngasih lo lolos di angka berapa?" "Katanya sih maksimal 35 persen." "Berarti lo lolos karena gaji suami lo dihitung sama bonus tahunannya. Betul?"
"Iya, sama bonus." "Bonus itu turun tiap tahun?" "Gak pasti sih. Tahun kemarin turun, tahun sebelumnya enggak." "Cicilan lo turun tiap bulan?" "Ya enggak lah." "Nah itu masalahnya. Lo bayar pake angka yang pasti, dari pemasukan yang gak pasti."
"Pertanyaan kedua. Di luar cicilan, sebulan rumah ini makan berapa?" "Maksudnya?" "IPL, sampah, air, keamanan. Terus listrik lo sekarang dibanding waktu masih ngontrak." Gue itung di kertas malem itu juga. IPL Rp 150 ribu. Sampah sama keamanan Rp 90 ribu. Air Rp 120 ribu. Listrik naik Rp 180 ribu dari kontrakan lama, karena rumahnya lebih gede dan ACnya nambah satu. Totalnya Rp 540 ribu.
Gue kirim angkanya ke dia. "Berarti rumah lo sebenernya Rp 3,64 juta sebulan, bukan Rp 3,1 juta." "Ulang itungan yang tadi." 43 persen. "Yang orang lupa itu selalu ini. Mereka nyiapin duit buat cicilan, bukan buat rumahnya."
"Pertanyaan ketiga, dan ini yang paling penting." "Kalau bulan depan suami lo berhenti kerja, cicilan ini kebayar sampai bulan ke berapa?" Gue buka tabungan kami. Rp 9,2 juta. Gue bagi Rp 3,64 juta. Dua bulan setengah. Gue balesnya lama, karena gue baru nyadar segitu doang.
"Dua setengah bulan," gue bales akhirnya. "Cari kerja rata-rata butuh berapa lama menurut lo?" "Tiga bulan?" "Empat sampai enam, itu yang gue liat dari klien-klien gue yang rumahnya kejual karena kepepet." "Jadi jarak antara suami lo kehilangan kerja sama rumah lo kena lelang itu cuma soal berapa bulan dia nganggur."
"Pertanyaan keempat. Kalau lo jual rumah ini bulan depan, laku berapa?" "Ya minimal balik modal lah, kan baru setahun." "Di cluster lo masih ada berapa unit kosong yang belum kejual?" Gue itung dari yang gue liat tiap pagi. Sekitar 40-an. "Berarti calon pembeli lo punya 40 pilihan yang lebih baru dari rumah lo, dan semuanya dijual sama developer yang bisa kasih promo." "Rumah lo bukan gak laku. Cuma antre di belakang 40 rumah lain."
"Terus gue harus gimana? Rumahnya udah kebeli." "Gue gak nyuruh lo jual. Rumah lo gak salah apa-apa." "Yang salah itu lo ngerasa selesai pas akad, padahal itu baru mulai." "Orang nabung mati-matian buat DP, terus abis akad langsung merasa aman." "Padahal DP itu bagian yang paling gampang, karena ada tanggal selesainya. Cicilan enggak."
Gue tanya satu hal terakhir. "Klien lo yang rumahnya sampe kejual paksa itu, salahnya di mana?" "Rata-rata sama. Gajinya gak turun, kok." "Yang kejadian cuma satu hal kecil yang gak direncanain." "Motor kecelakaan. Orang tua masuk rumah sakit. Anak pindah sekolah." "Angkanya gak sampe Rp 10 juta, tapi mereka gak punya, jadi ngutang. Cicilannya nambah, terus tumpuk-tumpukan."
Setelah obrolan itu kami gak jual rumah, dan gak nambah cicilan apa pun. Yang kami lakuin cuma satu, bikin jatah khusus yang isinya cuma buat cicilan. Sebulan Rp 900 ribu, dari motong langganan streaming, jajan di luar, sama arisan yang sebenernya gue ikut cuma karena gak enak. Targetnya 6 bulan cicilan, artinya Rp 21,8 juta. Sekarang jalan bulan kesembilan, kekumpul buat 4 bulan. Belum aman. Tapi jarak antara kami sama kata "kepepet" udah nambah 4 bulan.
Coba lo itung punya lo sekarang, gak sampe semenit. Cicilan lo dibagi gaji sebulan, dikali 100. Ketemu berapa persen? Terus tambahin biaya rumahan yang di luar cicilan, itung ulang. Angka kedua itu yang beneran lo bayar, dan biasanya jauh lebih gede dari yang lo kira. Punya lo berapa persen? Jujur aja di komen, punya gue 43. Follow buat itung-itungan rumah tangga lainnya.
cc canitarisoraya
Mohon maaf videonya panjang & menyita bandwidth Manteman semua.
Ini khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM.
UGM perlu mengembalikan kebanggaan & marwahnya pasca dinodai komedi ijazah absurd.
Menurut Bagong, sosok ini adalah salah satu di antara banyak orang yg membanggakan UGM
Boleh banget
kita gak ada bates umur koq
kalau mau nyoba2 aja silahkan uji nyali di https://t.co/6IJWlMk0IO ini free ..
kalau mau baca2 ilmu-nya ada di https://t.co/LgkpuxQ3UA juga free
Kalau lo lagi apply kerja, coba manfaatin trik sederhana ini di LinkedIn.
Masuk ke kolom search, terus ketik keyword yang sesuai sama posisi yang lo incer.
Misalnya:
"hiring" + "Digital Marketing"
"looking for" + "copywriter"
"need a" + "video editor"
Abis itu, pindah ke tab Posts supaya yang tampil cuma postingan.
Terus ubah filternya ke Latest dan Past 24 hours.
Kenapa?
Karena lo jadi bisa nemuin postingan fresh dari orang-orang yang memang lagi buka lowongan. Peluang buat dilihat juga biasanya lebih besar dibanding postingan yang udah berhari-hari.
Kalau nemu yang relevan, jangan cuma dibaca. Follow orang atau brand-nya, connect, terus kirim DM.
Gw sebenarnya udah pernah share tips ini beberapa waktu lalu. Tapi gw share lagi karena siapa tau ada yang belum sempat lihat.
Semoga ngebantu, dan semoga cepet dapet kerja yaa
Artikel ini menarik sekali jika dibahas dari POV orang yang bekerja..✅
Di dunia kerja, kita sering merasa “bodoh” atau gagal berkali-kali saat menghadapi tugas sulit, proyek baru, atau masalah yang rumit.
Padahal, justru sikap mau mencoba dan tidak takut gagal itulah yang sering membawa kita ke hasil terbaik dan kemajuan karir yang nyata.
Intinya gini..
- Untuk menemukan solusi terbaik, kamu harus mencoba ratusan bahkan ribuan cara terlebih dahulu.
- Semakin sering mencoba, semakin tajam instingmu dalam menebak arah mana yang paling mungkin berhasil.
- Proses ini membutuhkan obsesi dan ketekunan tinggi, bukan sekadar usaha biasa.
- Solusi terbaik sering kali ditemukan di tempat atau pendekatan yang tidak terpikirkan orang lain.
- Kegagalan berulang bukan tanda kegagalan total, melainkan bagian penting dari proses menemukan jalan yang benar.
Kalian pernah ngerasain proses “coba berkali-kali sampai berhasil” seperti ini di pekerjaan kamu?👇👇
sebagai muslim, aku menyarankan teman teman muslim lainnya utk PLEASEEEEE TONTON channel full podcast dgn ust Nuzul Dzikri hafidzahullah ini dehhh!!!!
semuanya bahas tentang apa apa yang kita galau-in dlm kehidupan sehari hari🤧
sepakattt☝️jadi qowwam tuh beneran sulit btw, jd perbanyak maklum adalah koentji suami istri samawa~
setiap rumah tangga pasti diuji dan sbgmn kita punya kekurangan sbg istri, suami jg pasti ada kekurangan
selama dia udh usaha utk jadi qowwam, gapapa klo ada yg minus dikit. perbanyak syukur, karena dpet suami qowwam di jaman skrg tuh dah langka.
nih saking sulitnya jd qowwam, ampe ada yt channel Malaysia yg punya podcast khusus bahasan ttg qowwam sampe ada 10 video😂
monggo para suami dan calon suami bisa ditonton:
Pokoknya kalo di tempat kerja.. usahain profesional ya, walaupun kalian lagi kesel.. Jangan tiba2 ngomong kalimat2/kata2 di bawah ini ya🙏
Buat kakak-kakak yang belum tau: ini namanya komunikasi yang baik ya 🙏
1. "Gatau"
→ ganti: "Aku belum ada info lengkapnya, coba aku cariin dulu ya. Ada yang bisa dibantu sementara ini?"
2. "Terserah"
→ ganti: "Aku fleksibel sih, opsi mana yang menurutmu paling efisien buat tim? Let's go with that."
3. "Apaan sih ribet banget!"
→ ganti: "Poin ini emang agak kompleks kalau diputusin sekarang. Mau diskusi bentar biar dapet jalan tengah?"
4. "Ya masa gini aja harus dikasih tau? Kamu harusnya ngerti dong!"
→ ganti: "Biar makin sinkron, yuk kita review bareng panduannya. Biar next time bisa eksekusi mandiri."
5. "Minta harga temen bisa kali, kan bakal langganan"
→ ganti: "Ada ruang buat adjust harga nggak? Proyeksi jangka panjangnya menarik banget kalau kita bisa kolaborasi terus."
6. "Ah lebay banget lu"
→ ganti: "Aku ngerti ini kerasa berat buat kamu, tapi coba kita breakdown bareng biar lebih jelas prioritasnya."
7. "Bisa kali, besok lagi aja nyelesainnya"
→ ganti: "Kalau digeser ke besok, ada risiko yang perlu kita antisipasi nggak? Kalau aman, aku oke-oke aja."
8. "Ngapain njirr lembur, ayok pulang tenggo"
→ ganti: "Progress hari ini udah oke kok, sisanya bisa lanjut besok. Yuk istirahat dulu, biar besok lebih fresh."
Intinya bukan soal "jaim", tapi soal cara nyampein maksud yang sama tanpa bikin lawan bicara defensif atau salah paham.
Kalimat yang sama, tapi cara ngomong yang beda, hasilnya bisa jauh beda: dianggep drama vs dianggep profesional.