Sumpah, aku suka banget sama kata-kata Shin Min-ah tentang hubungan dan pernikahan. Banyak yang bikin mikir dan ngena banget💗😔
Ini dia beberapa kata-katanya yang paling aku suka:
"Menurutku semakin telat menikah, semakin bagus"
"Kenapa?"
"Bukannya lebih baik, kalau mengenal banyak orang (pacaran) dulu? perbanyak waktu untuk melihat dirimu sendiri, waktu untuk bisa introspeksi diri sebelum kamu menikah. Sambil pacaran, saat bersama orang ini, kamu punya cukup waktu untuk memikirkan dirimu."
"Tapi sebenarnya... diri kita sendiri tahu, Iho?"
"Tahu soal apa?"
"Tahu kalau dia bukan orang yang akan menikah denganku tapi kita cuma menyangkalnya saja karena sudah terlalu suka"
"Nggak harus soal pernikahan. Di hubungan pertemanan biasa pun ada teman yang asyik banget, tapi entah kenapa perasaannya seperti... seperti nggak nyaman. Diri kita sendiri sebenarnya tahu, kalau itu hubungan yang nggak sehat. Jadi harus berhati-hati dengan rasa asyiknya tentang hubungan antar manusia"
Banyak orang ingin menjadi versi terbaik dari dirinya.
Tapi tidak semua orang siap menghadapi prosesnya.
Coba tantang dirimu dengan:
1. Puasa Senin-Kamis
2. Stop gula 21 hari
3. Mandi air dingin 30 hari
4. Baca buku 10 menit/hari
5. Baca Al-Qur'an 1 lembar/hari
6. 7 hari tanpa scrolling berlebihan
7. Bangun jam 5 pagi selama 10 hari
8. Jalan kaki 3.000 langkah/hari
9. Tatap dirimu di cermin selama 10 menit
Karena berubah tidak ditentukan oleh seberapa sering kita memulai, tetapi seberapa lama kita mampu bertahan.
“kita semua berjuang habis-habisan di hidup masing-masing — kadang rasanya seperti di medan perang. meski begitu, aku harap kalian ingat bahwa tak semua pertempuran harus dimenangkan — kadang bertahan hidup saja sudah [cukup].”
*lagi makan pempek mau bayar
"berapa mas? tadi pempek 1 porsi, es teh, sama singkong rebus"
"singkong rebus nya gausah mas, itu makanan saya dibawain istri :((
"maaf bang😭😭😭"
sumpah malu bgt😭😭😭
nemu kalimat cantik lagi hari ini :
“Selagi yang hilang bukan Tuhanmu, imanmu, doa-doamu, dan kebiasaan-kebiasaan baikmu. maka percayalah kamu akan baik-baik saja.”
Gue kemarin baca novel Crazy Rich Asians. Ada ucapan dari Eleanor Young yang nyantol di kepala:
Bahwa momentum itu lebih menentukan jadi/tidaknya sebuah hubungan ke pernikahan. Dari sekadar besaran rasa cinta itu sendiri.
Misal, pas sekolah / kuliah suka banget banget sama seseorang. Tp lu ga siap mental, pikiran, ekonomi, dsb. Pokoknya ga ready aja. Segimanapun berdua saling suka, kalau momentumnya ga pas, ya bisa aja bubar. Misal, pacaran tp jadi posesif atau suka berantem krn blm siap utk difficult conversation.
Tp kalo udh nemu momentumnya, misal udah stabil kerjaannya, udah lebih dewasa, dsb, maka lu bs aja nikah sama seseorang yang cinta-nya "just ok", ga harus menggebu2 kayak pas first love jaman muda dulu.
One night I asked my mom how she knew my dad was “the one.” She didn’t say butterflies. She didn’t say grand gestures.
She said, “There was a year I wasn’t okay.”
She told me after I was born, she felt overwhelmed all the time. She stopped talking as much. Stopped laughing as loudly. She said she felt guilty for not being her usual self.
And my dad didn’t demand the “old her” back.
He just started doing small things.
He would wake up earlier to pack her lunch.
He’d fold the laundry without announcing it.
He’d sit beside her on the couch and just hold her hand without asking a single question.
She said one night she finally cried and told him she felt like she was failing at everything.
He didn’t interrupt.
Didn’t give a motivational speech.
Didn’t say “but you have so much to be grateful for.”
He just listened.
And the next week?
He didn’t treat her like she was fragile.
Didn’t bring it up during arguments.
Didn’t use it as proof that she was “too emotional.”
He loved her the same. Calm. Steady. Normal.
My mom looked at me and said,
“That’s when I knew. Love isn’t the loud days. It’s who stays gentle on the quiet ones.”
And suddenly their 20+ years together made sense.
Real love doesn’t panic when you’re not at your best.
It adjusts.
It waits.
It stays.
Akhir-akhir ini kerjaan lagi gila-gilanya, dan teman gue jokingly said “udah lah dunia aja ini” 😭 walaupun bercanda tapi kayak jadi mantra gue menghadapi semuanya bcs indeed ini semua cuma dunia jadi jangan takut guys kita punya ALLAH (ngetik sambil nangis besok senin)
Girl to girl, you’re going to meet women who intimidate you. The ones who seem effortlessly cooler, smarter, prettier, more put together. You’ll find yourself comparing, wondering what it would feel like to have what they have or live the life they live. But don’t mistake their glow as proof that you don’t have one. Someone else’s shine does not dim yours. Choose to admire without shrinking. Fall in love with who you are becoming. Trust that your path, your timing, and your life will come together in a way that makes sense for you.
Funny how most restaurants are full of male chefs, but at home it's magically a woman's duty. Basically, when it's an unpaid job, it's 'for women.' When it's profitable, suddenly it's a 'man's passion.'
ternyata skill yang harus kita punya diusia sekarang ini:skill mengatur suasana hati & emosi
jgn apapun dibaperin, jgn berekspektasi lebih sama seseorang, orang bisa berubah kapan aja, hari ini bilang sayang, besoknya ngilang juga ada. semua bisa pergi kapan aja.