@circuimscribe “Terima kasih, semoga malammu juga menyenangkan, Jisung” Terkekeh, Soobin mengambil kembali album dan photochard yang sudah dibubuhi tanda tangan. Waktu habis, ia pun berbalik sambil melambaikan tangan. “Cepatlah pulang.” Bisiknya sebelum benar-benar pergi.
@circuimscribe “Oh.” Ia menangkap maksud pertanyaan yang dilontarkan, senyum tipis menyerupai seringai kecil terbentuk di bibir. “Hmm, entahlah, di hari yang spesial ini aku ingin menghabiskan waktu jalan-jalan dengan seseorang. Tapi sepertinya dia masih sibuk kerja~”
@circuimscribe — “Hei… Malam.” Tangannya menyerahkan album dan sebungkus cokelat sebagai hadiah. “Sepertinya bisa terobati kalau albumku ini ditandatangani.”
@circuimscribe Soobin maju selangkah, senyumnya canggung karena baru kali ini ia berhadapan langsung dengan Jisung yang sedang bekerja. Haruskah ia menjahilinya? Atau justru menjaga sikap? Ia memilih santun.
—
@circuimscribe Masih tidak percaya, tangannya memegang sebelah pipi untuk memastikan bahwa ia nyata. “Mana mungkin lupa, tapi kenapa kamu… perempuan? Apa selama ini aku salah lihat?” Setelah sadar siapa gadis yang memeluknya, rona tipis muncul di wajah.
@circuimscribe Bjir.
“… Susu pisang?” Layaknya kata sandi, Soobin langsung menyadari kemiripan diantara sang puan dan Jisung begitu mendengar dua kata tersebut.
“Tidak mungkin, Sun Jisung??”
Dirinya berlari menghampirimu, @deerimn, seraya menangis. “Soobinie.” Ceritanya lagi sedih karena tiba-tiba jadi wanita. Pun sekalian modus memelukmu. “Tolong aku.”
@circuimscribe —
“…Terima kasih, ya.” Rona yang tadi sempat hilang perlahan kembali. Canggung. Buru-buru dialihkan dengan tingkah menyebalkan. “Kayaknya bakal berat kalau harus bawa sendiri. Nih, bawa satu!”
Mesti begitu, sudah pasti Jisung tetap menggodanya hingga mereka sampai ke rumah.
@circuimscribe —
Begitu ada celah, Soobin segera meraih tangan Jisung. Menguncinya dalam genggaman.
Kali ini jangan sampai terpisah.
Tanpa berucap kaki melangkah, berusaha keluar menuju kasir. Wajahnya memang tidak terlihat dari belakang, namun jelas telinga dan tengkuknya merah padam.
@circuimscribe —
“Sudah hampir semua, kita keluar saja. Sisanya bisa dibeli nanti.” Dahinya mengernyit selagi bahunya menahan dorongan. Mau dipaksa mencari semua keperluan juga tidak ada artinya, beberapa rak sudah kosong melompong.
—
@R3_DAMANCY “Senang berkenalan denganmu. Apa Nona Anya sedang berlibur di sini?” Sang pemuda mengulur tangan, mengajak kenalan barunya tuk bersalaman. “Aku bisa memandu kalau perlu, sekalian melatih bahasa asing, haha.”