Ya Allah sedih banget ini ๐ญ๐ญ
โโโโโโโ
6 Mei, kakakku hanya pamit sebentar.
Sebelum pergi, ia menitipkan kedua anaknya kepada kami. Tidak ada tangisan, tidak ada firasat buruk, tidak ada perpisahan yang terasa seperti akhir. Kami semua mengira ia akan pulang seperti biasa.
Namun ternyata, hari itu menjadi pertemuan terakhir kami.
Kakakku dan suaminya meninggal dunia setelah ditabrak oleh taksi Bluebird. Dalam sekejap, dua anak yang masih sangat belia harus kehilangan ayah dan ibunya sekaligus. Kehangatan keluarga yang selama ini mereka rasakan berubah menjadi luka yang akan mereka bawa sepanjang hidup.
Yang lebih menyakitkan, hingga hari ini kami masih belum melihat nilai keadilan yang benar-benar mampu menjamin masa depan kedua anak korban. Mereka tidak hanya kehilangan orang tua, tetapi juga kehilangan sosok yang seharusnya membimbing, melindungi, dan mengantarkan mereka menuju masa depan.
Saya memohon bantuan teman-teman semua. Tolong bantu dengan memberikan komentar, membagikan, dan menyukai video ini agar suara kami dapat didengar dan mendapat perhatian dari pimpinan Bluebird.
Karena bagi sebagian orang ini mungkin hanya sebuah berita, tetapi bagi dua anak kecil itu, ini adalah kehilangan yang akan mereka rasakan setiap hari sepanjang hidup. ๐
Cr: rezaairwn
Tolong bantu sebarkan gaes agar didengar oleh @bluebirdgroup@nikitawilly_24
Seorang anak meninggal dunia karena sepatu yang kesempitin karena orang tua gak mampu beli sepatu baru
Awal kasus Mandala ini orang berbondong-bondong nyalahin pemerintah, sistem pendidikan dan negara. Kalau aku langsung salfok, โIni emaknya gimanaaa sihh?โ
Soalnya ini โcumaโ perkara sepatu kesempitan. Sepatu sang anak, Mandala, harusnya ukuran 43-44, tapi terpaksa harus pakai sepatu ukuran 40 karena gak punya uang untuk beli.
Emangnya harga sepatu berapa sihhh? Sepatu harga 35k aja adaaa.. yang penting ukurannya pas dulu.
Masalahnya jari kaki Mandala udah ketekuk, bengkak, sering ngeluh sakit, badannya aja udah kurus bangett..
dan gejala makin parah ini udah ada selama 40 hari sebelum akhirnya dia dibawa ke RS dan meninggal dunia..
Gak bisa banget beli sepatu 35k dulu? Atau sepatu bekas juga banyak harga 50k (ini udah bagus bgt), atau opsi terakhir gunakan mulut kita buat ngomong ke teman dan kenalan, โApakah punya sepatu yang udah gak kepakai buat anak saya?โ
Karena di Indonesia kalau urusan anak sekolah banyak orang masih peduli dan mau bantu koook.. tapi ya ceritaaa. Orang orang gak mungkin otomatis tahu kondisi kitaa..
Dan Ibunya saat ngomong di media narasinya jelas mojokin sekolah, ketua RT, dan negara. Gak ada uang beli sepatu, gak ada uang beli kain kafan, disuruh RT usaha cari uang buat pemakaman, dll..
Padahal ternyata Ibunya juga punya suami, Bapak sambung Mandala. Ibu Mandala juga bilang bahwa Mandala makin parah itu setelah magang dari sekolah karena magang itu dia harus berdiri lama. Ya tapi sebenarnya itu udah trigger dari pembiaran yang Ibu lakukan bertahun tahun thd anak Ibuuu.
Jadi menurutku sepatu sempit memang memperparah kondisi, tapi bukan satu-satunya penyebab. Ini udah akumulasi dari kondisi tubuh yang lemah, kemungkinan infeksi, dan keterlambatan penanganan.
Butuh waktu lama lohhh dari ukuran 40 ke 43-44 itu.
Pihak sekolah sampai klarifikasi yang intinya selama ini mereka bantu seragam, zakat, sembako, uang tunai, bantuan pengobatan, bantu pengaktifan BPJS (akhirnya dilunaskan juga 2,4 juta tunggakannya oleh sekolah), jenguk ke rumah, sampai akhirnya ikut bantu urus jenazah juga.
Waktu ibunya datang minta bantuan pengobatan, sekolah kasih bantuan sekitar 1,1 juta dan nyaranin dibawa ke rumah sakit.
Tapi ternyata uang itu malah dipakai dulu buat kebutuhan rumah tangga karena setelah Ibunya tanya Mandala, kata Mandala dia masih bisa tahan.
Sama halnya saat Ibunya nanya mau belikan sepatu, kata Mandala gak usah dulu, mending buat kebutuhan rumah dulu aja. Ya ngapain ditanya sih Buuu.. langsung aja belikan sepatu, langsung aja bawa berobat Buu..
Terus bantuan berikutnya datang lagi, tapi malah dipakai buat pengobatan alternatif, kakinya disiram, dibaca-bacain, trus dioles FreshCare, bukan ke RS..
RT setempat juga bilang keluarga Mandala warga baru dan belum terlalu terlibat di lingkungan. Dan orang juga harus realistis, ini tinggal di kota,
bukan di kampung yang semuanya bisa full gotong royong tanpa biaya. Ketua RT ternyata tetap bantu cari ambulans, kain kafan, tenda, orang buat mandiin jenazah. Tapi tentu gak semua bisa ditanggung sendiri.
Semoga gak terulang ke saudara Mandala yang lain ya Bu. Beristirahatlah dengan tenang, anak baik dan soleh, Mandala
cc:Faradila
Un grupo de chinos que fue de excursiรณn a la selva en รfrica se encontrรณ con una tribu local salvaje. Pensando que se trataba de un juego, uno de los integrantes del grupo fue secuestrado hacia lo profundo de la selva, a pesar de la intervenciรณn y los esfuerzos de los guรญas turรญsticos.
Guys, ada kasus yang menurut gue perlu lo dengar karena ini bukan cuma soal satu anak di satu sekolah di Pemalang. Ini adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Seorang orang tua di Randudongkal, Kabupaten Pemalang sebut saja Bapak ini memposting sesuatu di media sosialnya.
Isinya dua hal: kritik terhadap implementasi MBG dan pengingat bahwa sekolah negeri dilarang memungut biaya LKS dan infak berdasarkan aturan pemerintah yang sudah berlaku.
Dia tidak menyebut nama sekolah anaknya.
Tidak menyebut nama kepala sekolah.
Tidak menyebut nama guru siapapun.
Tapi anaknya Mas Azhim, siswa SD N 01 Banjarayar dikeluarkan dari sekolah.
Yang terjadi secara kronologis:
Bapak ini memposting kritik soal MBG dan pungutan liar di sekolah negeri di akun media sosialnya.
Kepala sekolah memanggil dia.
Dan setelah pertemuan itu anaknya diberhentikan secara sepihak.
Tidak ada surat resmi pemberhentian yang prosedural.
Tidak ada proses klarifikasi yang fair.
Tidak ada mekanisme banding.
Satu pertemuan dan anak itu tidak boleh masuk sekolah lagi.
Dua bulan lebih Mas Azhim tidak mengikuti pelajaran. Dua bulan lebih seorang anak SD kehilangan haknya atas pendidikan bukan karena dia berbuat salah, tapi karena bapaknya berani bicara.
Dan di atas itu semua Mas Azhim juga mengalami bullying.
Bukti percakapan yang beredar dan ini yang paling mengejutkan:
Ada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar. Pihak sekolah melalui salah satu guru membalas pesan si Bapak dengan kalimat yang menurut gue sangat mengungkapkan segalanya:
Meskipun njenengan tidak menyebutkan identitas sekolah, tapi kan masyarakat tahu kalau Mas Azhim sekolah di SD N 01 Banjarayar, jadi menggiring opini publik ke SD kami.
Berhenti sebentar di sini.
Pihak sekolah sendiri yang mengakui bahwa yang jadi masalah bukan tindakan si Bapak secara hukum tapi dampak reputasi ke sekolah.
Bukan soal anak yang melanggar aturan. Bukan soal proses belajar yang terganggu.
Tapi soal opini publik yang mengarah ke SD mereka.
Artinya anak ini dikeluarkan bukan karena dia salah. Tapi karena bapaknya membuat sekolah tidak nyaman di mata publik.
Apa yang dilakukan si Bapak itu sebenarnya?
Dia mengingatkan bahwa sekolah negeri tidak boleh memungut biaya LKS dan infak.
Ini bukan opini.
Ini fakta hukum.
Permendikbud dan berbagai regulasi turunannya sudah jelas melarang pungutan di sekolah negeri yang sudah mendapat BOS Bantuan Operasional Sekolah.
Sekolah negeri mendapat dana BOS dari APBN untuk membiayai operasional sekolah.
Dana itu sudah termasuk untuk pengadaan buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar siswa.
Memungut LKS tambahan di atas BOS adalah pelanggaran regulasi.
Si Bapak tidak mengarang.
Dia mengingatkan aturan yang memang ada.
Dan untuk itu anaknya dikeluarkan.
Soal kritik MBG yang dia sampaikan dan ini relevan dengan konteks yang lebih besar:
Kita sudah bahas panjang lebar soal MBG dari Rp340 miliar yang menurut Mahfud MD hanya sampai ke makanan dari total triliunan yang dianggarkan, sampai 33.000 kasus keracunan, sampai 1.720 SPPG yang tutup tapi tetap dibayar Rp6 juta per hari.
Orang tua yang kritis terhadap MBG bukan musuh program. Mereka adalah orang-orang yang paling langsung terdampak ketika program itu tidak berjalan dengan baik.
Anak-anak merekalah yang makan makanan dari program itu. Anak-anak merekalah yang keracunan ketika standar sanitasinya tidak terpenuhi.
Mengkritisi MBG bukan kejahatan.
Mengkritisi sekolah yang memungut biaya ilegal bukan kejahatan.
Tapi di Banjarayar Pemalang melakukan dua hal itu ternyata cukup untuk membuat anakmu kehilangan akses pendidikan.
Ini bukan hanya masalah satu sekolah ini adalah masalah sistemik:
Yang terjadi di sini adalah penggunaan kekuasaan institusional untuk membungkam kritik warga.
Dan yang dikorbankan bukan si orang tua tapi anaknya yang tidak berdaya.
Ini adalah bentuk intimidasi yang sangat kejam justru karena targetnya bukan si pengkritik secara langsung. Targetnya adalah orang yang paling dicintai oleh pengkritik itu anaknya sendiri.
Kalau lo mau membungkam seseorang tanpa kelihatan melanggar hukum secara terang-terangan sakiti anaknya.
Itu yang terjadi di sini.
Dan kalimat dari guru itu tadi "menggiring opini publik ke SD kami" menunjukkan bahwa ini adalah keputusan yang diambil secara sadar untuk melindungi reputasi institusi, bukan untuk kepentingan terbaik anak didik mereka.
Apa yang seharusnya terjadi secara hukum:
Pertama โ sekolah tidak punya kewenangan hukum untuk mengeluarkan siswa secara sepihak hanya karena orang tuanya mengkritik di media sosial.
Ini melanggar hak anak atas pendidikan yang dijamin Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UUD 1945 Pasal 31.
Kedua โ pungutan LKS dan infak di sekolah negeri yang sudah menerima BOS adalah pelanggaran regulasi yang seharusnya dilaporkan dan diinvestigasi oleh Dinas Pendidikan dan inspektorat daerah.
Ketiga โ bullying terhadap anak karena tindakan orang tuanya adalah pelanggaran serius yang masuk dalam kategori kekerasan berbasis relasi kuasa.
Kasus ini sudah masuk ke Polres Pemalang.
Dan si Bapak memohon agar Kapolres mengawal proses penyidikan ini agar berjalan sesuai hukum bukan sesuai keinginan pihak tertentu.
Yang paling menyentuh dari seluruh cerita ini:
Si Bapak menulis: "Saya tidak mampu membayar pengacara untuk mencari keadilan."
Dan di sisi lain dia bilang: "Tidak apa-apa, saya bisa mendidik anak-anak walaupun tanpa ada ijazah."
Ini adalah seorang ayah yang sudah pasrah dengan sistem tapi belum menyerah pada kebenaran.
Yang tahu dia mungkin tidak punya kekuatan finansial untuk melawan.
Tapi tetap berjalan karena dia yakin masih ada orang-orang baik yang bisa membantu.
Dan si Bapak menutup pernyataannya dengan kalimat yang menurut gue harus diingat oleh setiap pejabat dan kepala sekolah di Indonesia:
"Jangan semena-mena dengan jabatan yang kau sandang karena itu semua hanya titipan."
Kalau kita bisa marah pada triliunan rupiah MBG yang tidak sampai ke makanan anak-anak kita juga harus bisa marah ketika satu anak SD kehilangan haknya atas pendidikan hanya karena bapaknya berani mengingatkan aturan.
Keduanya adalah wajah dari sistem yang sama sistem di mana institusi lebih sibuk melindungi dirinya sendiri daripada melayani mereka yang seharusnya dilayani.
Mas Azhim berhak atas pendidikannya.
Dan bapaknya berhak atas keadilannya.
๐
halo semua, mohon bantuannya untuk sebar ini yaa.. temen aku ayahnya diancam penjara 8 tahun dan dituduh merugikan negara 54,5 M padahal ayahnya sudah MENANG DI PENGADILAN 4X!! TANAHNYA MILIK AYAHNYA TETAPI DIA DAN SATU KELUARGA DIANCAM, DISADAP, DAN DIGELEDAH!!
Israel killed Rico Pramudia in South Lebanon.
He died of his injuries today.
He wasnโt a fighter โ he was a UN PEACEKEEPER from Indonesia.
Israel killed him anyway.
And not a single whisper from Western media.
No international outrage. No justice. No accountability.
guys tolong bantu rt like lagi karena ga rame = masalah ga selesai ๐ญ๐ญ ini masih sepi bgt bgt bgt bahkan ga di up di tv nasional
postinganku yang sebelumnya miss info ternyata dana yang hilang adalah dana koperasi umat yang berada di bawah naungan paroki, bukan dana gereja (persembahan) ya
dan fyi ternyata bukan 28 M tapi 31 MILIAR (tonton di podcastnya menit 19an). WOI 31 M TUH GEDE BANGETTT, banyak umat yang percayain dananya ke BNI dan pasti butuh dana tersebut untuk sehari-hari mereka jadi tolong bantu ramein biar masalah ini tuntas!!!
halo @BNI tolong selesaikan kasus ini dan kembalikan dananya secara full, terlepas ternyata dana dititipkan ke produk gelap si kepala bank tapi tetep aja hal ini merupakan bentuk kelalaian bank karena telah meloloskan kepala bank (orang berstatus & dipercaya) sampe2 bisa nipu sampai 31 miliar gini :(((
Kalian tau apa yang bakal bikin BNI ketakutan dan bertekuk lutut buat ganti semua uang Gereja ini yang dimalingin manajemen mereka sendiri, bikin seruan supaya semua umat katolik Indonesia untuk memindahkan dananya ke Bank selain BNI atas nama solidaritas.
Gw yakin dgn seruan itu manajemennya ketakutan pasti.
Teman-teman mohon bantuannya bersuara agar kasus uang jemaat sebesar 28 miliar yang raib di tipu oknum BNI bisa selesai.
Kasus ini sudah berlangsung lama namun tak ada itikad baik,.
@DivHumas_Polri@KejaksaanRI@prabowo
No viral no justice kata @mohmahfudmd
Bantu RT ๐
Guys, ada kasus yang menurut gue harus lebih banyak disorot dan ini bukan kasus kecil.
Rp28 miliar dana umat dikumpulkan selama 40 tahun raib.
Pelakunya mantan kepala cabang bank BUMN sendiri.
Kasusnya:
Paroki Aek Nabara di Sumatera Utara menjadi korban penggelapan dana sebesar Rp28 miliar oleh mantan kepala cabang BNI bernama Andi Hakim Febriansyah.
Uang itu bukan uang biasa.
Itu dana yang dikumpulkan umat selama 40 tahun untuk pembangunan gereja, kebutuhan kesehatan, dan pendidikan jemaat.
Empat dekade tabungan kolektif.
Habis dalam satu pengkhianatan.
Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya penggelapannya:
Bendahara gereja menyampaikan sesuatu yang menurut gue adalah inti dari seluruh masalah ini:
Deposito berjangka yang resmi bisa dicairkan tanpa tanda tangan saya, tanpa kehadiran saya, tanpa berhadapan dengan teller.
Lalu di mana pengawasan BNI?
Ini bukan pertanyaan retorika.
Ini pertanyaan teknis yang serius.
Dalam sistem perbankan yang sehat pencairan deposito berjangka membutuhkan verifikasi ketat.
Ada prosedur.
Ada tanda tangan.
Ada konfirmasi kehadiran.
Kalau semua itu bisa dilewati oleh seorang kepala cabang itu bukan hanya soal oknum.
Itu soal lubang sistemik dalam pengawasan internal bank.
Dan respons bank yang dikritisi:
Paroki Aek Nabara menyatakan BNI kurang kooperatif dalam menangani kasus ini.
Pihak gereja bahkan harus datang ke bank dan meminta pertanggungjawaban secara langsung setelah kasus ini sudah jelas melibatkan pegawai bank yang datang atas nama BNI, bukan atas nama pribadi.
AHF adalah wajah BNI bukan AHF sebagai pribadi. Karena itulah kami percaya.
Dan ini adalah poin hukum yang sangat kuat. Ketika seseorang datang dalam kapasitas jabatannya sebagai kepala cabang bank BUMN kepercayaan yang diberikan bukan kepada individu itu. Kepercayaan diberikan kepada institusi yang dia wakili.
Kalau institusinya kemudian cuci tangan dengan mengatakan itu oknum itu adalah respons yang tidak adil dan tidak bertanggung jawab.
Ini bukan pertama kalinya:
Kasus penggelapan oleh oknum pegawai bank BUMN bukan fenomena baru di Indonesia.
Dan polanya hampir selalu sama: pelaku adalah orang dalam yang dipercaya, korban adalah nasabah yang percaya pada nama besar institusinya, dan respons institusi hampir selalu lambat dan defensif.
Yang berbeda dari kasus ini adalah skalanya Rp28 miliar dari komunitas yang mengumpulkan uang selama 40 tahun dan korbannya adalah umat yang mempercayakan tabungan hidup mereka kepada bank negara.
Yang perlu dituntut secara konkret:
Satu BNI harus menjelaskan secara transparan bagaimana deposito berjangka bisa dicairkan tanpa prosedur verifikasi yang seharusnya berjalan.
Dua Kalau ada lubang sistemik dalam pengawasan internal itu bukan hanya tanggung jawab pelaku. Itu tanggung jawab manajemen dan sistem audit internal bank.
Tiga Korban berhak mendapat kompensasi dari institusi bukan hanya menunggu proses pidana terhadap individu pelaku yang mungkin butuh bertahun-tahun.
Empat OJK sebagai regulator perbankan perlu memberikan penjelasan publik apakah ada kelalaian pengawasan dari sisi regulasi.
Kalau bank BUMN tidak bisa bertanggung jawab atas tindakan pegawainya yang beroperasi atas nama bank lalu untuk apa ada bank negara?
Israel killed 3 Indonesian UN peacekeepers in South Lebanon.
They were wearing blue helmets.
They were in UN uniforms.
They were peacekeepers.
Israel bombed them anyway.
Not a peep in Western media.
Not a word from the international community.
Kick Israel out of the UN.
iPhone lo dicopet?
Lo bisa tau MUKA pencurinya + LOKASI dia sekarang.
Tanpa app tambahan dan bukan dari Find My. Langsung ke HP lo.
Gue setup ini di iPhone gue. Cuma 5 menit.
Sekarang gue ga takut kalo iPhone gue bakal kemalingan.
Gini caranya:
Super Air Jet delay setengah hari kerja ๐ค๐ผ
1. Penerbangan delay 5 jam dengan kondisi penumpang ada di dalam pesawat.
2. Anak yang bersangkutan (di video) muntah 2X di dalam pesawat selama delay 5 jam.
3. Penumpang kemudian disuruh keluar dari pesawat.
4. Setelah itu ada panggilan pesawat bakal lanjut flight.
5. Penumpang yang bersangkutan ditinggal saat sedang mencari obat untuk anaknya.
6. Semua barang yang bersangkutan ada di bagasi pesawat yang sudah flight.
Sampai saat ini belum ada penjelasan ataupun klarifikasi yang memuaskan dari pihak maskapai penerbangan Lion Group.
In case you guys are wondering how this entire Korea vs. Southeast Asia X-war started...
This is what caused it. ๐
A bunch of Korean fansite people showed up with huge cameras, disrupted the entire event, and refused to follow the rules. ๐