(Hening. Tiba-tiba, sebuah tangkapan layar percakapan lama muncul dengan jelas di pelupuk mataku - sebuah pengingat yang membuat napasku tercekat dan sekujur tubuhku membeku)
"Oh," gumamku pelan
"Apa aku salah jika waktu itu aku marah?" tanyaku dengan suara serak, tatapanku kosong menatap langit-langit kamar.
"Kenapa merasa salah? Kamu hanya jujur dengan rasa kecewamu, bukan?" sahut suara di kepalaku, terdengar begitu dingin dan logis.
Namun, kenyataan menampar lebih keras, saat aku menunggumu, kamu justru berpaling ke arah lain pada tawa teman-temanmu. Jika mengutarakan rasa kecewa akan membuatku kehilanganmu, mungkin waktu itu aku tidak akan melakukannya.
Bukankah kamu yang berjanji akan datang? Kamu yang bilang rindu, kamu pula yang menjanjikan kabar di hari Jumat. Namun, hingga waktu berlalu, hening adalah satu-satunya jawabanmu. Aku memilih diam, mencoba memahami kesibukanmu di acara sepupumu pada Sabtu itu.
sosoknya memang baik, tp bukan kekasih yg baik. aku bisa melihat betapa ia peduli dg orang lain terutama teman dan keluarganya, tp ia lupa menjaga kekasihnya juga. i mean, he's a real gentleman, but he failed to be mine.