apakah ─── “dirimu baik-baik saja 'kan, mam?”
pertanyaan itu membuyarkan pemikiran panjang nan buruk seketika, Ewa berkedip cepat beberapa kali untuk kembali pada realita. “agaknya…” Ewa tidak yakin, perlahan kepalanya menyembul dari https://t.co/Ha29KKxaBk
kepalanya masih menyangkal bahwa ini bukan masalah besar. “apakah kepala anda pusing? apakah terasa mual? apalagi yang anda rasakan?” sebelum ia kembali meninggalkan wanita itu untuk beristirahat, ia bermaksud mencatat apa saja yang Maryam rasakan untuk https://t.co/Ha29KKxaBk
diuji melalui praktik langsung dalam kondisi kritis ini. ia akhirnya sampai di atas, memantau kondisi bawah terutama di area pintu masuk yang sudah ditutup oleh wanita itu. menenggelamkan fisik pada apapun yang mungkin menyamarkan keberadaan. @hearteiu
@hearteiu ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎Ewa menghela napas, ia akhirnya menyerah dan menyambut uluran tangan dengan kaki mengambil langkah berani memanjat tangga menggantung itu. motorik yang selama ini dilatihnya melalui pilates serta fitnes https://t.co/Ha29KKxaBk
ini bukan perkara ia bisa menaiki tangga atau tidak, tapi ini terlalu konyol untuk terjadi pada diri Ewa yang selama ini hidup dengan serentetan rencana matang. @hearteiu
“ceritakan dulu apa yang sedang terjadi, baru saya akan naik.” secara lugas Ewa berkata. ia bercekak pinggang sambil menoleh keseliling. memantau situasi; mencoba cari jawaban selagi ia menunggu (dan mengatur napasnya yang tersengal-sengal). https://t.co/Ha29KKxaBk
@hearteiu ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ya ampun, kenapa juga Ewa mesti kena getahnya hanya karena mereka berpapasan. “tapi sebenarnya saya juga tidak perlu ikut lari kan?!” kendati begitu, Ewa turut mengayunkan kedua kaki beralaskan https://t.co/Ha29KKxaBk
@UNNCHAlNED ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎secara bergantian pandangan Ewa bergulir dari tempat kejadian perkara dan wanita itu untuk memastikan bahwa setidaknya ia tidak memiliki tanda-tanda akan mau pingsan atau terkena anemia, barangkali.
“oh… baiklah.”