mjb kak, tapi sepertinya ini cara Allah bantu km supaya gak meratap terlalu lama. mengubah memori menjadi sesuatu yang bisa dikenang dengan memori baru
Sadly bisa melebar kyk kasus 98. Dulu wanita2 tionghoa jd korban. Nah ini klo gk segera dihentikan, TAKUTNYA muncul persekusi "klo diajak nikah/pacaran nolak, berarti lesbi, harus diperkosa biar lurus lg."
Man... I'm scared that the pattern is too obvious arahnya bakal kemana.
Hampir ga pernah gue liat perempuan nyenggol urusan tubuh laki-laki, misalnya sunat. Tapi laki-laki sering banget ngomentarin hamil/childfree, menstruasi (terutama pas ada cuti haid), foto keliatan belahan dada, dll. Mending lu buka diskursus soal penis dan stop lompat pager 🙏🏻
Betul banget, ini jadi concern aku juga sama pasangan.
Nama Ibu itu dipakai jadi salah satu verifikasi di perbankan dan jasa keuangan. Contohnya, kalau mau melakukan transaksi tertentu atau kalau kita lupa sama akses. Biasanya ditanyain sama pihak bankernya.
Dengan terteranya nama Ibu di undangan fisik atau digital, itu akan menaikkan resiko penyalahgunaan data Ibu kita dan resiko akses ilegal terhadap akun perbankan dan jasa keuangan tersebut.
Kita ngga pernah tau undangan fisiknya akan berakhir dibaca siapa di tong sampah. Kita juga ga pernah tau link undangan fisik yang ada nama Ibu kita akan dibaca oleh siapa.
Jadi bijaklah dalam mendisclose data Ibu kita sebagai salah satu bentuk data pribadi yang krusial.
Kalo aku jadinya ngga cantumin nama orang tua sama sekali, kalian masih nyantumin nama lengkap, nama panggilan Ibu aja atau bahkan nama orang tua di take out sama sekali?
Marah banget sama ajakan persekusi lesbi dengan nelanjangin dan perkosa 'biar sembuh'. Bangsat.
Dasar agama mana yang ngajarin kekerasan apalagi tanpa tabayyun? Ga usah bawa agama buat muasin ego bangsat lu pada.
Ada queer lu katain, ada org nikah telat lu katain, ada org nikah muda lu katain, ada org childfree lu katain, ada wanita karir lu katain, ada ibu rumah tangga lu katain. Kalo perempuan yang memilih hidupnya dikomen mulu, tapi laki bebas milih. ANEH
@tanyarlfes Di pidato si onoh bilangnya
“Sekolah kita tidak kalah dengan sekolah di luar negeri”
Pret, akses ke pengetahuannya aja dibatasi. Lucu ya negara ini pengen sukses tapi gak mau modal.
they love blaming us for "low literacy" but how are we supposed to read when physical books are so expensive???? and now they cut 132B from perpusnas, killing the only program that distributes free books to rural areas. terus gausah sok-sokan bilang "baca digital aja di ipusnas"