Ekonomi makro Indonesia relatif baik dalam 20 thn terakhir. Lalu mengapa gelombang protes muncul Agustus lalu? Apa yang terjadi dengan kelas menengah Indonesia?
Artikel saya di Carnegie Endowment @CarnegieEndow
“Indonesia’s Fragile Middle Class”
Indonesia’s macroeconomy has been relatively well over the past two decades.
So why did a wave of protests erupt last August?
What’s happening to Indonesia’s middle class?
https://t.co/fZ3zlNwcyb
Siang ini saya makan siang dengan kenalan lama saya — Nova Pishesha, perempuan muda dari Singosari, Jawa Timur, yang kini menjadi Assistant Professor di Harvard Medical School. Di usianya yang muda, ia memimpin Pishesha Lab, laboratorium bioteknologi yang meneliti sistem imun dan nanobody, dan juga membangun beberapa startup biotech.
Jalan hidupnya seperti puisi tentang keberanian: berangkat ke Amerika dengan tiket sekali jalan dan uang yang tak cukup, memulai dari community college di San Francisco, lalu diterima di UC Berkeley dengan Regents’ and Chancellor’s Scholarship, beasiswa paling bergengsi di sana. Dari situ ia melangkah ke MIT untuk meraih PhD di Bioengineering, dan kemudian terpilih sebagai Harvard Junior Fellow: program yang melahirkan para profesor besar dan penerima Nobel.
Sampai hari ini, Nova adalah satu-satunya orang Indonesia yang pernah menjadi Harvard Junior Fellow.
Namun mungkin yang paling indah dari kisahnya bukanlah daftar prestasi itu, melainkan cara ia menapaki jalan panjangnya. Nova belajar bertahan di negeri yang keras, menjadikan sains bukan sekadar profesi, tapi cara untuk memberi makna. Ia percaya, perempuan tak butuh pembenaran untuk berprestasi — yang mereka butuhkan hanyalah kesempatan.
Mungkin di sanalah keindahan sains berdiam: bukan hanya menemukan sesuatu yang baru, tapi menemukan cara baru untuk peduli. Kadang kemajuan tak lahir dari laboratorium yang sunyi, tapi dari ruang batin yang gelisah dan penuh harapan.
Di balik mikroskop dan tabung reaksi itu, ada keberanian untuk bermimpi: agar suatu hari nanti, ada anak perempuan dari kampung kecil lain yang berbisik pelan pada dirinya sendiri:
“Kalau dia bisa, aku pun bisa.”
Kawasan Tumpang Pitu dahulu berfungsi sebagai benteng alami saat tsunami di pesisir selatan Banyuwangi 1994, warga Desa Sumberagung mengungsi ke dataran tinggi ini.
Tumpang Pitu sudah jadi Tambang Emas dan menimbulkan kontroversi karena alih status hutan lindung menjadi hutan produksi.
Ada yg tau kalau Jl. MH Thamrin Jakarta dari 1977-1994 pernah jadi lokasi gedung kedutaan Uni Soviet, sekaligus salah satu kedutaan asing terbesar dan termewah di 🇮🇩 saat itu?
Bahkan saat itu, gedung kedutaan negara “super power” lain di Jakarta kayak 🇺🇸 dan 🇬🇧 pun kalah mewah
X PLEASE DO YOUR MAGIC:
Bantu Ibu Saya #MencariAyah Kandungnya yang 54 Tahun Terpisah
⚠️Disclaimer: Utas ini murni untuk menelusuri jejak masa lalu keluarga ibu saya. Tidak ada maksud negatif atau mencari keuntungan dari pihak manapun yang disebut.
[SEBUAH UTAS]