Johan selalu salah mengucapkan kata-kata.
Nadira selalu menertawakannya.
Suatu sore—
“Johan.”
“Ya?”
“Kalau aku bilang aku mencintaimu dalam bahasa Jawa, kau mengerti?”
“Tidak.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Biar aku bisa mengatakannya tanpa membuatmu besar kepala.”
Johan tertawa
Johan selalu salah mengucapkan kata-kata.
Nadira selalu menertawakannya.
Suatu sore—
“Johan.”
“Ya?”
“Kalau aku bilang aku mencintaimu dalam bahasa Jawa, kau mengerti?”
“Tidak.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Biar aku bisa mengatakannya tanpa membuatmu besar kepala.”
Johan tertawa
Johan melangkah mendekat.
“Kalau aku tetap di sini, kau akan ikut terseret.”
“Aku sudah terseret sejak pertama kali membaca suratmu.”
“Nadira…”
“Aku tidak menyesal.”
Mereka kembali bekerja bersama.
Tapi sekarang semuanya berbeda.
Mereka tidak lagi bertemu hanya karena surat.
Mereka mulai memiliki kehidupan kecil yang hanya menjadi milik mereka.
Johan mengajari Nadira bahasa Belanda.
Nadira mengajari Johan bahasa Jawa.
Johan melangkah mendekat.
“Kalau aku tetap di sini, kau akan ikut terseret.”
“Aku sudah terseret sejak pertama kali membaca suratmu.”
“Nadira…”
“Aku tidak menyesal.”
“Kalau begitu…”
“Apa?”
“Jangan pergi.”
Johan terdiam.
Itu pertama kalinya Nadira meminta sesuatu kepadanya.
Bukan sebagai sekutu.
Bukan sebagai perempuan bangsawan.
Tapi sebagai seorang perempuan yang takut kehilangan lelaki yang dicintainya.
🕯️ SURAT YANG TAK PERNAH SAMPAI
Hindia Belanda, 1938–1945
“Ada cinta yang lahir di tempat yang salah, pada waktu yang salah, kepada orang yang salah. Tapi tetap saja, ia tumbuh.”
Ada kalimat-kalimat kecil yang tidak pernah mereka ucapkan secara langsung.
“Sudah makan?”
“Hati-hati pulang.”
“Aku menunggumu.”
“Jangan pergi terlalu lama.”
“Memang terlambat.”
Ia menggenggam tangan Nadira.
“Tapi akhirnya sampai juga.”
Nadira tersenyum.
“Surat yang mana?”
Johan menunjuk dadanya.
“Yang ini.”