Guys, choki pardede baru aja ngasih sesuatu
yang menurut gw patut di tanyakan
jadi begini kata dia....
Kenapa ada orang yang IQ-nya biasa-biasa saja tapi hidupnya mulus, ditolong orang di mana-mana, karirnya naik terus
sementara ada yang jenius tapi stuck di tempat yang sama bertahun-tahun?
Jawabannya bukan soal nasib.
Jawabannya adalah kecerdasan sosial.
Apa itu kecerdasan sosial
dan kenapa ini beda dari IQ:
Konsep ini pertama kali dicetuskan oleh Edward Thorndike di tahun 1920-an.
Dia bilang ada kecerdasan yang sama sekali tidak diukur oleh tes IQ yaitu kemampuan untuk memahami orang lain dan mengelola hubungan sosial secara efektif.
IQ mengukur seberapa cepat otak lo memproses logika, angka, dan pola abstrak. Kecerdasan sosial mengukur seberapa baik lo bisa membaca situasi, memahami emosi orang lain, dan merespons dengan cara yang membuat orang merasa didengar dan dihargai.
Dan yang mengejutkan banyak orang: dua hal ini tidak selalu berjalan beriringan.
Orang yang jago matematika belum tentu jago baca emosi. Orang yang hafal ribuan fakta belum tentu tahu kapan harus diam.
Data yang perlu lo tahu dan ini yang bikin konsep ini tidak sekadar teori motivasi:
Ada penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Social Intelligence and Student Academic Performance at Post Graduate Level yang menemukan korelasi menarik:
mahasiswa dengan IPK 3,6 ke atas rata-rata memiliki skor kecerdasan sosial yang jauh lebih tinggi dibanding yang IPK-nya lebih rendah.
Bukan berarti orang pintar otomatis asik.
Tapi ada pola yang konsisten:
orang yang bisa mengelola hubungan sosialnya dengan baik cenderung perform lebih baik bahkan di lingkungan akademik yang sangat kompetitif sekalipun.
Dan lebih jauh dari itu riset tentang kecerdasan sosial menunjukkan bahwa orang dengan social intelligence yang tinggi cenderung lebih sehat, lebih bahagia, dan hidup lebih lama.
Bukan karena kebetulan. Tapi karena mereka tidak punya musuh yang menguras energi, tidak terjebak dalam konflik yang tidak perlu, dan punya jaringan dukungan yang kuat di saat mereka membutuhkan.
Kenapa orang pintar sering gagal secara sosial dan ini yang paling relate:
Daniel Goleman yang terkenal dengan konsep kecerdasan emosional mengatakan bahwa fondasi utama kecerdasan sosial adalah kemampuan membaca emosi orang secara real time.
Dan masalahnya: orang pintar sering terjebak dalam satu mode mendengar untuk menjawab, bukan mendengar untuk mengerti.
Lo kenal tipe orang ini. Waktu lo ngomong dia sudah menyusun argumen balasannya sebelum kalimat lo selesai.
Waktu ada perdebatan tujuannya menang, bukan memahami. Waktu ada orang baru di ruangan dia fokus keliatan keren, bukan genuinely curious tentang orang itu.
Dan hasilnya? Tanpa sadar dia nyebelin. Bukan karena dia jahat.
Tapi karena social skill-nya tidak berkembang seiring kemampuan kognitifnya.
Lima cara konkret untuk meningkatkan kecerdasan sosial:
Pertama — latih kepekaan sosial yang sesungguhnya. Waktu lo ngobrol sama orang, stop fokus ke apa yang mau lo jawab. Fokus ke nada suaranya, ekspresi wajahnya, timing dia ngomong.
Ada perbedaan besar antara mendengar kata-kata dan benar-benar menangkap apa yang seseorang rasakan.
Kedua — stop pengen kelihatan pintar. Ini yang paling sulit untuk orang-orang dengan kecerdasan tinggi. Ubah tujuan percakapan: bukan bagaimana gue kelihatan keren, tapi apa yang sebenarnya orang ini rasakan dan pikirkan.
Riset MIT tentang collective intelligence menunjukkan bahwa kelompok yang paling efektif bukan yang punya anggota paling pintar tapi yang anggotanya paling bisa saling memahami satu sama lain.
Ketiga — bangun emotional mirroring. Otak manusia punya mirror neurons sistem saraf yang secara harfiah memungkinkan kita menularkan emosi satu sama lain. Kalau lo masuk ke situasi sosial dengan energi yang tepat orang di sekitar lo akan merasakannya.
Sebaliknya juga berlaku. Belajar untuk genuinely merasakan apa yang orang lain rasakan bukan berpura-pura, tapi benar-benar masuk ke kondisi emosional mereka.
Keempat — perbanyak exposure sosial yang beragam. Jangan hanya nongkrong dengan circle yang sama terus. Social Intelligence Hypothesis menyatakan bahwa semakin kompleks interaksi sosial yang lo hadapi semakin terasah social brain lo. Ngobrol sama orang dengan background yang berbeda, masuk ke situasi yang sedikit awkward, keluar dari comfort zone sosial lo.
Kelima — bangun feedback loop yang jujur. Untuk tahu apakah lo asik atau tidak lo tidak bisa mengandalkan penilaian lo sendiri. Itu adalah bias terbesar.
Cari satu atau dua orang yang lo percaya untuk memberi feedback jujur tentang bagaimana lo di lingkungan sosial. Dan yang paling penting: jangan baper kalau feedbacknya tidak enak didengar. Itu bukan serangan personal. Itu kompas yang lo butuhkan.
Tanda-tanda kecerdasan sosial yang rendah checklist yang perlu lo tahu:
Lo selalu jadi yang paling banyak ngomong di setiap pertemuan tanpa sadar. Ada satu grup — entah grup kelas, grup kantor, grup apapun yang tidak ada lo di dalamnya.
Orang sering tidak merespons dengan antusias waktu lo ngomong tapi lo tidak tahu kenapa. Lo sering merasa salah dipahami padahal lo sudah menjelaskan dengan sangat logis. Lo lebih fokus memenangkan argumen daripada memahami posisi lawan bicara.
Satu saja dari tanda-tanda itu sudah cukup untuk dijadikan bahan refleksi.
Dan ini yang paling penting dari seluruh pembahasan ini:
Kecerdasan sosial bukan bakat lahir yang lo punya atau tidak punya. Ini adalah skill yang bisa dilatih. Sama seperti otot semakin sering lo melatihnya dengan cara yang benar, semakin kuat.
Dan dalam dunia nyata di tempat kerja, di bisnis, dalam hubungan yang menentukan seberapa jauh lo bisa pergi bukan seberapa tinggi IQ lo.
Tapi seberapa banyak orang yang genuinely mau membantu lo karena mereka merasa dihargai dan dimengerti ketika bersama lo.
Orang yang ditolong bukan orang yang paling pintar di ruangan. Orang yang ditolong adalah orang yang paling asik untuk diajak kerja sama.
Beneran, kalian harus belajar excel kalo mau jadi admin apapun atau SPV. Aku interview kerja beberapa minggu ini, selalu dibarengin sama tes excel. Tes excel yg sering muncul tuh di perusahaan BUMC, vlookup sama pivot.
Kalo yg di jepang ini, aku cuma tes excel, disuruh buat form pake excel. Apa apa di excelin kalo di jepang 😭
Dan tes excel ini, udah pernah aku buat sebelumnyaaa. Hampir mirip. Semoga kalian semangat belajar excel yaaa 💪🏻😍
HAHAHHAHAHA AING BARU SAJA MENEMUKAN CHEAT CODE BUAT ORANG YANG SUKA KETAUAN NULIS PAKE AI!
Trik ini bakal improve banget penulisan AI-mu
Simak Threadnya!
@SoftWarNews Saya bersama Iran, Palestina dan semua yg berusaha melawan kedzaliman. Twit ini saksi di hari kiamat akan posisi saya di zaman penuh fitnah ini.
Allahumma inni audzubika min fitnatil mahya wal mamaat, wa min syarri fitnatil masihid dajjal.
@mukaikhlas Dari dulu dia terobsesi pengen jadi Presiden, saking lamanya dia gagal sampai2 obsesinya berubah jadi sebatas yg penting harus jadi “Presiden”. Ambisinya udah pencapaian gelar aja, dia gak punya niat lagi buat bisa ngerubah negara lebih baik.
Yang bikin aku ga habis pikir, Aceh masih butuh dibangun kembali pasca banjir. Masih banyak warga tinggal di tenda pengungsian karena rumahnya rata sama tanah, tapiiii konoha dengan pedenya urunan 17T untuk bop. Nuraninya udah mati ya?
Menjadi dewasa, adalah ketika kita mulai menyadari bahwa pencapaian itu ternyata tidak selalu tentang sudah meraih sesuatu.
Tapi juga tentang telah bertahan melalui situasi.
Menurutku dengan semua keserampangan, ketidakjelasan, tidak transparan, dan melangkahi UU dan konstitusi, Presiden Prabowo ini sudah layak untuk dimakzulkan.
kakak tingkat yang jarang masuk kelas tu kayaknya ngerasain apa yang aku rasain deh, mereka pasti pada kesusahan buat ngerjain tugas" yang semakin berat pembahasannya dan itu karena semester" sebelumnya mereka pada engga serius memahami setiap mata kuliah, atau mereka ga