TOLERANSI: DAGANGAN BASI PARA BUZZER
Sebuah video yang dipotong dan dimanipulasi—seolah-olah menyudutkan agama—kembali menyebar dan mengguncang publik.
Dulu, dalam kontestasi politik, stigma “intoleran” adalah senjata paling ampuh untuk menyingkirkan rival. Cukup tempelkan label itu, maka lawan langsung terkucilkan. Tak perlu bukti kuat, tak perlu debat substansi. Cukup narasi “radikal”, “ekstremis”, atau “anti-keberagaman”, maka reputasi hancur, dukungan menguap, dan karir politik langsung terancam.
Toleransi dijadikan komoditas moral yang diperdagangkan dengan agresif. Ukuran kebaikan seseorang bukan lagi integritas atau akhlak, melainkan seberapa rela ia mencairkan identitasnya sendiri. Seorang Muslim didorong untuk malu menjadi Muslim. Simbol agama dianggap ancaman. Ketegasan dicap radikal. Kebanggaan terhadap keyakinan sendiri langsung dicurigai sebagai bibit ekstremisme.
Lahiriah generasi yang terbiasa meminta maaf hanya karena beragama Islam. Mereka takut terlihat terlalu Islami, takut dicap konservatif, takut dicap intoleran. Ketika agama dihina, kitab suci dilecehkan, atau ajaran diserang, respons mereka hanyalah senyum kaku sambil mengulang mantra: “Kita harus memahami… Kita harus toleran… Jangan terlalu sensitif.”
Toleransi pun berubah makna. Bukan hidup berdampingan dengan saling menghormati, melainkan tekanan psikologis sepihak. Muslim diminta terus mengalah, terus diam, terus menelan penghinaan. Sementara pihak lain bebas memprovokasi, menyerang keyakinan, bahkan menghina secara terbuka—tanpa pernah takut dibenci. Kini angin telah berubah.
Masyarakat mulai menyadari bahwa permainan moral ini bukan lahir dari niat baik hidup bersama, melainkan strategi mengendalikan mayoritas melalui rasa bersalah yang diproduksi massal. Label “intoleran” yang dulu seperti racun mematikan, kini kehilangan giginya. Orang tak lagi mudah diintimidasi hanya karena menunjukkan identitas agamanya dengan bangga.
Mereka yang masih memainkan pola lama belum sadar zamannya sudah berganti. Provokasi masih dibungkus “kebebasan berekspresi”, penghinaan dibungkus “toleransi”, pelecehan dibungkus “pluralisme”. Mereka masih berharap masyarakat akan diam seperti dulu.
Hasilnya? Bumerang yang semakin keras. Bukan karena masyarakat tiba-tiba menjadi tidak toleran, melainkan karena mereka lelah diperlakukan sebagai pihak yang wajib mengalah selamanya, sementara pihak lain merasa berhak berbuat sesuka hati tanpa konsekuensi.
Toleransi yang sehat memang tetap diperlukan. Tak ada bangsa yang bisa besar dalam kebencian permanen. Tapi toleransi yang dijadikan senjata politik untuk membungkam identitas, memproduksi rasa bersalah, dan menormalisasi penghinaan terhadap keyakinan mayoritas—pada akhirnya akan hancur oleh kesadaran itu sendiri.
Zaman sudah berubah karena terbukti bahwa toleransi dan intoleransi hanyalah dagangan politik. Dan mereka yang masih bermain dengan kartu lama akan terus terkejut dengan reaksi yang semakin tajam.
@tonokun69@Stakof Industri kebencian lagi sepi pembeli, isu sektarian sudah mulai anyep tak lagi diminati...tapi tanpa mereka dunia tak lagi rame, krn rumah jg perlu WC 😂
Geng AI - Israel pembuat hoax
Tuduhan Trump soal 8 wanita Iran yang disebut akan dieksekusi oleh pemerintah Iran, terbukti tidak benar.
Pengadilan Iran membantah tuduhan tersebut, sementara aktivis oposisi Iran di luar negeri juga mengonfirmasi adanya detail penting yang palsu.
Unggahan soal 8 perempuan itu awalnya berasal dari Etal Yaoby, tokoh Israel yang kerap dikaitkan dengan konten menyesatkan. Investigasi menemukan banyak inkonsistensi—termasuk satu nama yang ternyata sudah bebas dan lainnya tidak dapat diverifikasi.
Kasus ini menyoroti ekosistem propaganda digital yang lebih luas. Kelompok seperti “Generative AI for Good” diketahui membuat karakter sintetis berbasis AI yang menyampaikan narasi emosional seolah-olah nyata, tanpa verifikasi independen.
Jaringan ini dilaporkan memiliki keterkaitan dengan lembaga-lembaga Israel, termasuk Anti-Defamation League, Kementerian Urusan Diaspora Israel, serta entitas yang terkait dengan Unit 8200.
Unit 8200 adalah divisi IDF, berfokus pada intelijen sinyal, menyadap komunikasi (telepon, radio, internet), cyber warfare: operasi serangan dan pertahanan siber; dan pengumpulan data elektronik dalam skala besar.
@QudsNen
"Kartu Baru" Iran
Perundingan tahap kedua yang diharapkan Trump tidak terlaksana. Lalu, Trump sendiri sepihak menyatakan, "gencatan senjata diperpanjang."
Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran, Muhammad Qalibaf, (yang juga kepala tim negosiator Iran) menyatakan, "Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman dan selama 2 minggu terakhir kami telah bersiap untuk mengungkapkan kartu baru di medan perang."
Nah, apa itu "kartu baru" Iran?
Iran mungkin memiliki "senjata yang belum diidentifikasi secara tepat hingga saat ini," kata pakar militer Yuri Lyamin.
Senjata-senjata ini dapat mencakup:
🔸 rudal balistik dan jelajah jarak jauh
🔸 drone kamikaze baru
🔸 senjata anti-kapal baru (rudal, torpedo, ranjau)
Iran juga sedang melakukan persiapan lain selama dua pekan terakhir:
🔸 membangun kembali infrastruktur yang rusak dengan cepat
🔸 mengisi kembali kebutuhan pokok, mulai dari makanan dan obat-obatan hingga bahan bakar
🔸 membersihkan kerusakan dan membersihkan ranjau di jalan dan pintu masuk terowongan di dekat pangkalan rudal bawah tanah
🔸 mempercepat produksi militer, terutama di pabrik bawah tanah yang tidak dapat dijangkau AS
@SputnikInt
Foto: Qalibaf sedang menerbangkan pesawat.
Ia memiliki lisensi pilot untuk Airbus A321. Pada tahun 2024, selama pemboman Israel yang sedang berlangsung, ia menerbangkan sendiri delegasi Iran ke Beirut, Lebanon. Qalibaf juga memiliki gelar doktor dalam geografi politik dan disertasinya mengeksplorasi hubungan antara ruang, kekuasaan, negara, dan kebijakan keamanan.
Misteri ANGKA 40.000 dari Trump
Trump menulis, "Tolong kasih tau Pope Leo, Iran sudah membunuh 42.000 warga Iran tak berdosa, para demonstran, dalam periode 2 bulan."
Darimana Trump mendapatkan angka 42.000 itu?
1. Pada awal Januari, aset Mossad dan CIA mempersenjatai anggota oposisi radikal di Iran untuk melakukan pemberontakan bersenjata yang menewaskan 3.117 orang.
[angka 3.117 ini data resmi dari pemerintah Iran; 2.427 adalah warga sipil dan aparat keamanan yang gugur dibunuh para perusuh bersenjata; sisanya adalah perusuh/teroris bersenjata tsb, yang tewas dalam operasi pengamanan oleh aparat keamanan Iran.]
2. Angka resmi itu diubah menjadi cerita pembantaian palsu dengan 30.000 atau 50.000 atau 70.000 korban, oleh apa yang disebut "kelompok aktivis", yang dikutip secara luas sebagai fakta oleh media arus utama Barat—meskipun tidak ada bukti yang diberikan. Investigasi sederhana menunjukkan bahwa setiap kelompok ini dapat ditelusuri kembali ke AS atau mitra "lima mata"-nya, Inggris dan Kanada.
3. Media arus utama Barat mulai menyebarkan cerita palsu tersebut dengan mengutip dari sebuah kelompok bernama Human Rights Activist in Iran (HRANA), yang sebenarnya bukan dari Iran—melainkan dari Virginia, tempat CIA berada, dan didanai oleh NED, cabang kekuatan lunak CIA.
4. Berita palsu tersebut didukung oleh sebuah kelompok bernama Center for Human Rights in Iran, yang juga BUKAN dari Iran, dan berada di AS.
5. Kelompok lain, Iran International, perusahaan media yang berbasis di Inggris.
6. Kemudian ada International Center for Human Rights, yang ternyata berada di Kanada.
7. Sumber-sumber lain yang mendukung isu pembantaian palsu tersebut ternyata adalah pendukung Reza Pahlavi yang berada di Amerika.
8. Orang yang paling sering dikutip di televisi arus utama Barat adalah Masih Alinejad, yang mengatakan bahwa "jutaan" orang dibantai. Ia bekerja selama bertahun-tahun sebagai propagandis anti-Iran penuh waktu, dengan pendanaan dari NED dan gaji dari Voice of America.
9. Kisah palsu tersebut kemudian disebarkan lebih lanjut oleh Bouramond Center for Human Rights, kelompok lain yang didanai oleh NED, dan
10. Tavaana, yang didirikan oleh Departemen Luar Negeri AS dan didanai oleh USAID, sebuah kelompok terkenal yang menyamarkan politik CIA sebagai bantuan.
[10 poin di atas diterjemahkan dari @NuryVittachi dengan diedit untuk kejelasan]
Ada fakta lain:
NGO di no 3, HRANA, melaporkan pada 27 Januari bahwa protes telah menyebabkan 42.324 penangkapan, bukan 42.000 pembunuhan. Jadi, Trump salah kutip; tapi lembaga yang dikutip pun tidak credible.
Video: dari @NuryVittachi
Iran has always been home to giants of knowledge.
One of them? Avicenna (Ibn Sina).
🎵🧠 Watch this Lego clip (with a rap beat 🎧) and get to know him and his philosophy a little better.
Kata seorang zionis pesek, Israel beli tanah di Palestina dr Ottoman. Lah katanya tanah yg dijanjikan Tuhan & tanah air mereka sendiri, tp kok malah beli??? Saya bertakon2 dlm hati, sejak kapan pemilik tanah membeli tanahnya sendiri 😂🤣🤣🤣