Zlatan Ibrahimović on Lionel Messi missing a penalty and then scoring a stunning banger minutes later against Austria:
🗣️ “First he misses a penalty… most players disappear after that. Most players hide, most players think too much, most players feel the pressure. But Messi is not most players.”
“I was watching the moment he stepped up, and I thought okay, even the best can fail. But what happens next is what separates ordinary from legendary.”
“He doesn’t argue, he doesn’t panic, he doesn’t look for excuses. He just waits… and then he responds in the only language football understands.”
“Minutes later, he gets the ball again outside the box. One touch, no hesitation, and then boom… a goal that looks like it was drawn by football itself. That is not recovery that is domination.”
“What people don’t understand is that missing a penalty can destroy a game mentally. But for him, it feels like it wakes something up. Like he needed the mistake to unlock something bigger.”
“I’ve seen many players try to bounce back after pressure moments. But what he did is not bouncing back… it’s flipping the whole story of the match.”
“A penalty miss becomes a highlight… and then the highlight becomes forgotten because the next goal is even better. That is not normal football.”
“This is why I always say there are players who play the game, and then there are players who rewrite it while it is still happening.”
“And Messi… he doesn’t just answer pressure. He humiliates it.
Memantau crita Aureli. Kalo kamu mengucapkan kalimat-kalimat ini ke anak di bawah umur korban kekerasan seksual, maka kamu bagian dari kekerasan itu sendiri.
“Anaknya juga mau kok.”
“Anaknya terlalu dewasa untuk umurnya.”
“Dia kelihatan genit dari kecil.”
“Posting fotonya kayak orang gede.”
“Dia kan nggak nolak.”
“Sama-sama menikmati.”
Dan masih banyak lagi contoh kalimat lain.
Kalimat-kalimat ini bukan sekadar pendapat. Ini adalah alat kekerasan.
Karena dengan mengucapkannya, kamu:
1. Menghapus fakta bahwa anak tidak pernah bisa memberi consent,
2. Mengalihkan tanggung jawab dari pelaku ke korban,
3. Menanamkan rasa malu dan rasa bersalah pada anak—yang seharusnya dilindungi, bukan diadili.
Dampaknya jauh lebih berat ketika kalimat-kalimat ini datang dari orang dewasa yang punya otoritas: orang tua, guru, tokoh agama, aparat, atau figur publik.
Di titik itu, kekerasan tidak lagi berhenti pada pelaku pertama.
Ia berlanjut lewat bahasa. Lewat pembenaran. Lewat “logika” yang terdengar masuk akal, tapi aslinya kejam.
Pedofilia, grooming, maupun statutory ra--pe tidak pernah soal pakaian anak.
Bukan soal sikap anak. Bukan soal apakah anak melawan atau diam.
Semua itu SELALU tentang orang dewasa yang menyalahgunakan kuasa.
Dan setiap kali seseorang memilih menyalahkan anak alih-alih mengecam pelaku, dia sedang berpihak pada kejahatan.
Dear sayang,
Kalau dirimu sering dighibahin, dirimu respon gini aja (boleh copas kok):
Untukmu yang terus menjadikanku bahan ghibah….
Aku paham, tak semua yang kepo itu benci.
Kadang orang hanya terlalu penasaran dengan hidup yang bukan miliknya, karena hidupnya sendiri belum cukup membuatnya betah.
📌 “Orang yang damai dengan dirinya, tak pernah sibuk mencari retak di hidup orang lain.”
Maka aku tidak membalas. Aku tidak meniru. Aku hanya mendoakan.
Karena membalas itu biasa,
tapi mendoakan, itulah elegansi yang tak semua orang miliki.
📌 “Semoga kamu secepatnya sibuk… seperti aku yang sibuk menata masa depan, yang bermanfaat buat sesama, bukan masa lalu orang lain.”
Semoga hatimu kelak penuh,
hingga tak perlu menumpahkan luka ke nama yang bahkan tak pernah mengurusi jalan hidupmu.
Semoga harimu kelak sibuk,
hingga tak ada waktu untuk mengurusi mereka yang tak pernah peduli dengan gosip di seputarnya.
📌 “Karena orang yang benar-benar bahagia, tidak punya waktu untuk mengawasi panggung & punggung orang lain.”
Dan semoga hidupmu kelak seindah apa yang selama ini kamu pikir tentang hidupku yang bagimu aku terlalu beruntung memilikinya.
Bahkan kamu gak tahu sih, hidupku yang sebenarnya itu jauh lebih indah dari bayanganmu. Tapi kalau kamu tahu entar kamu malah makin banyak dosa berghibah kan…
📌 “Jika kau merasa perlu menjatuhkan seseorang untuk merasa tinggi, mungkin yang perlu kau ubah adalah cara berdirimu, bukan arah orang lain berjalan.”
Dan terakhir,
Jika kau merasa hidupku terlalu terang hingga menyilaukanmu
Tenang, aku doakan kau juga menemukan cahaya itu.
Agar tak perlu lagi meredupkan orang lain untuk merasa bercahaya.
Semoga hidupmu kelak seindah hidupku.
Seindah pagi yang kutatap dengan syukur,
sekuat langkah yang kutapaki dengan niat,
sesibuk hari-hariku yang penuh makna,
dan sehangat cinta yang mengelilingiku diam-diam tanpa kuteriakkan.
📌 “Jangan terlalu sibuk menonton hidup orang lain, sampai lupa kamu punya naskah hidup sendiri yang belum kamu tulis.”
Salam damai,
dari aku—yang sudah terlalu jauh berjalan untuk menoleh ke belakang atau kanan-kiri.
**
Gimana? Asyik kan? Met wiken semuanya 🙏🏻😊
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Jumah Mubarak
Jangan kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong.
[Q.S 17:37]
Bumi tak pernah lelah memberi sesuatu pada kita. Bumi seperti ibu kita sendiri. Apa kita bisa angkuh terhadap ibu kita sendiri?
Tetapi apa kita benar-benar memiliki keagungan dan kemuliaan? Kita tak tahu segala hal dan juga tak mungkin kita mengetahui segala hal.
Cukup dengan peristiwa-peristiwa kecil saja, apa yang kita miliki dan ketahui, bisa sirna dalam sekejap. Keangkuhan dan kesombongan tak lebih dari suatu kebodohan semata.
Seorang pesuluk yang mahir adalah seseorang yang mampu menawan keangkuhannya sendiri. Ia mampu memerangkap keangkuhannya sendiri dan dikurbankan pada Ilahi.
Seorang pesuluk memerangkap sifat-sifatnya sendiri. Inilah jihad yang sesungguhnya dan paling nyata. Ketika seseorang mampu menawan sifat-sifatnya sendiri, disitulah ia mampu berjalan di muka bumi dengan penuh kerendahan hati dan kelembutan. Seolah ia sedang berjalan di atas langit. Melampaui antara ada dan tiada.
Muh Nur Jabir
Di IdeaFest jumpa Prof. Emil Salim, saya minta foto bareng. Beliau 93 tahun dan tadi berikan keynote speech di #IdeaFest2023.
1989, 34 tahun lalu saya pertama kali jumpa beliau. Waktu itu kelas 3 SMA, datang dari Jogja ke Jakarta untuk wawancarai beliau, Menteri Lingkungan Hidup kala itu.
Sehat-sehat terus Prof. Emil Salim. Beliau adalah inspirasi bagi kami dan pembuat kebijakan yg sistematis dalam berbicara.