Saya rangkum poin-poin penting dari tulisan @TheEconomist terkait Indonesia terbaru. Silakan renungkan sendiri:
The Economist menilai pemerintahan Prabowo Subianto terlalu boros secara fiskal dan makin otoriter secara politik.
Program makan gratis dan koperasi desa dianggap membebani anggaran di tengah penerimaan pajak melemah dan subsidi energi membengkak.
Defisit mendekati batas 3% PDB, dengan risiko penurunan rating utang, pelemahan rupiah, dan keluarnya modal asing.
Pencopotan Sri Mulyani Indrawati disebut sebagai tanda melemahnya disiplin fiskal.
Kekuasaan politik dan ekonomi dinilai makin tersentralisasi melalui Danantara, BUMN, dan pelemahan independensi Bank Indonesia.
Artikel juga menyoroti menguatnya peran militer dan melemahnya oposisi parlemen, memunculkan kekhawatiran kembalinya pola Orde Baru. The Economist menyebut gaya sentralisasi dan kontrol elite Prabowo lebih mirip Sukarno, tetapi kekhawatiran publik terhadap militerisme mengingatkan pada era Soeharto.
Meski begitu, The Economist mencatat Prabowo belum sepenuhnya represif dan masih menunjukkan beberapa sikap moderat.
Kesimpulan utamanya: Indonesia dinilai sedang bergerak menjauh dari semangat Reformasi, dengan risiko ekonomi dan demokrasi yang sama-sama meningkat.
Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya.
Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities. Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan toyota. Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas. Tetapi dari industri itulah tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset. Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia. Intinya apakah mampu meningkatkan capabilities. Kapabilitas utk mampu mengubah industri berbasis sumber daya alam menjadi pijakan untuk membangun kemampuan teknologi yang lebih kompleks. Saya setuju dichotomy antara manufacturing dg services tidak sepenuhnya akurat, krn sektor manufaktur yg produktifitasnya tinggi justru yg service intensive, istilahnya servicification. Belajar banyak dari Hausmann.
@lailows Masih bertanya2 kenapa gak lgsg aja dr awal dirubah threshold up to usd 25k kek jaman sblm covid. Kenapa hrs bertahap? Jd ribet scr praktek jujurrrr. Cc kawan BI @radhianshah
"cari aja di google" "tanya aja ke chatgpt" AAARRGHHHHH GW KAN NGOBROLNYA SAMA ELU. gw mau mendengar OPINI LU. raw human thoughts.... jawaban lu gak PERLU 100% benar... yg penting interactionnya <\\\3
lagian kan gw gak lagi nulis JURNAL??? gw cuma nanya menurut lu nicholas saputra zodiacnya apa.... GITU DOANG bjir itu pertanyaan udah jelas-jelas dimulai pake MENURUT LU.... in YOUR opinion... apakah ELU itu google? chatgpt? BUKAN KAN.
benci bgt dikit-dikit suruh google, suruh nanya AI. HDJSHSJDHAJDH emang kenapa kalo asbun menebak-nebak zodiak nicholas saputra? emang kalo salah DOSA? emang kalo salah nicholas saputra zodiaknya berubah jadi itu? KAN NGGAK.
gpp jirs kata gw sotoy-sotoy dikit BRING BACK BEING SOTOY in casual conversations
Sebuah hal yg patut disyukuri dr keluarga gw adalah mereka gada yg nanya samsek kpn merit, dah pny calon blm or abcde. Sebaliknya, mereka mendoakan gw utk cpt ktmu soulmate && makin banyak duitnya biar bs beli rumah di Menteng. Terharuw, love ya Edward family π«Άπ»
Termahal pun tapi memang enak. Worth the price krn gak terlalu manis n pisangnya legit. Kalo emg willingness to pay buat pisang ijo cendana msh 0 bisa coba pisang ijo mertua dl aja (ada di Tebet). Itu juga gak kalah enak. Tapi gak bisa disamain sama cendana ya.
Mungkin ini adalah pisang ijo TERMAHAL di Indonesia!!
Dibandrol dgn harga Rp.800.000 (nampan besar) dan yg kecil Rp. 410.000.
Worth it kah harga segitu dgn kualitas dan branding seperti ini???